Informasi

Novel Raden Pamanah Rasa bisa dipesan langsung SMS/WA ke 081310860817 Tafsir Wangsit Siliwangi bisa dipesan langsung SMS/WA 081310860817

Senin, 09 Mei 2016

Cerpen

BUNGA KERING http://erasura.blogspot.com/2016/05/bunga-kering.html

BUNGA KERING


Oleh : E. Rokajat Asura
(Judul asli “Bunga-bunga Kering” dipublikasikan di Jawa Pos Minggu, Desember 1990)

Stasiun bawah tanah al-Jabal sejak pagi buta telah penuh sesak, semua mata memandang dunianya sendiri-sendiri. Saling tak menyapa, kecuali mengangguk jika minta tempat duduk dengan bibir tetap terkatup. Tanpa rasa akrab sekalipun, padahal sejarah pernah mencatat bahwa mereka semua keturunan Syam yang bertahta sekian lama, sedangkan hanya sedikit saja orang asing. Namun karena percikan api dendam yang membuat mereka dingin, angkuh serta hidup sendiri-sendiri.
Masa lalu adalah masa lalu, cukup untuk disimpan di museum dengan sekali-kali boleh orang asing membuka bahwa semua penduduk berasal dari satu batang yang sama, satu keturunan dan hanya perang saudara itu yang membuat mereka berpisah. Kini, perang itu telah hanya namun tidak berarti selesai. Dendam masa silam masih tetap membekas bahkan sengaja tetap sengaja dipelihara dalam dada-dada mereka. Jika seorang anak terpaksa yatim, maka dendam anak itu akan membekas dan terus membekas kepada siapa saja lalu secara tak disengaja dendam itu akan turun pula ke anak-anaknya kelak.
Seorang lelaki tua tergopoh menuju bangku kosong. Ada yang menarik dari tubuhnya yang telah sedikit bungkuk itu. Sorot matanya, ya, sorot matanya tajam menampakkan bahwa dia seorang pemberani di masa mudanya. Rambutnya yang memutih seperti tak terurus, turut menghiasi gurat-gurat tua di wajahnya yang setiap keriput telah mencatat sejarah. Alis matanya tebal terlukis rapi di dahinya yang lebar. Dia menyerangai begitu dekat ke kursi, lalu mengangguk pelan menyapa seorang wanita setengah tua yang duduk tercenung di sebelah kursi yang kosong.
“Selamat pagi, Nona, kursi…” serak suara lelaki tua itu dan ternggorokannya seperti tersekat tak bisa meneruskan kata-kata sesaat setelah melihat si wanita itu membuang muka. Tas hitam itu didekapnya, menjaga degup dadanya yang sempat terusik.
“Sama…dimana-mana sama …” gumam lelaki tua itu seraya menjatuhkan pantatnya di kursi, sebelah tangannya membuka kancing baju bagian atas dan mengibas-ibas menahan gerah.
“Anda mau ke kota ?” tanya si lelaki membuka percakapan, lain dari kebiasaan penduduk kebanyakan. Dia orang asing yang tak tahu tradisi baru di kampung itu ? Oh, bukan, dia telah tua saja rupanya.
“Maaf, saya tak ingin bicara…” ketus si wanita.
Lelaki tua itu terkekeh.
“Bandot tua memang tak sepantasnya mengajak bicara seorang gadis cantik seperti anda, Nona ! Tapi jangan salah, bertanya belum tentu ingin mengajak ngobrol atau mengobrol pun tak selamanya mesti diawali dengan bertanya ya ‘kan ?”
Wanita itu diam, lelaki tua melirik dan tersenyum pahit. Matanya tiba-tiba merebak memandang titik di atas langit-langit stasiun itu, menerawang, menangkap bayangan yang sekelebat muncul lalu menghilang kembali. Wanita menoleh melalui sudut matanya, ketika si lelaki terbatuk menahan asap rokok yang menyengat.
“Kasihan!” cibir si wanita, lelaki tua itu tetap tak acuh, tasnya semakin didekap erat seolah pada tas itulah ia akan dan selalu menemukan kedamaian.
“Pagi ini cerah sekali, sepertinya saya menjadi muda kembali. Hanya sayang manusia sekarang sudah tak tahu bagaimana menyapa karunia Tuhan ini. Asap rokok, polusi kendaraan dan ah …” Lelaki tua itu kembali terbatuk, sementara si wanita menutup mulutnya menahan tawa.
“Anda jangan tertawa!” ketus lelaki tua itu kasar.
“Mau tertawa atau tidak, itu bukan urusan. Kita di sini, sama-sama sebagai penumpang, sederajat, dan saya ingatkan jangan sekali-kali anda melarang apa yang orang lain lakukan. Kita bukan manusia yang hidup di jaman Syam lagi. Kini kita telah lahir dengan dunia baru…”
“Tapi saya tersinggung !” umpat lelaki tua itu. “Saya batuk bukan krena sering minum alkohol atau banyak meroko, saya batu lantaran korban masa lalu, Nona ! Mestinya anda tahu, bila tak ada pertempuran dahulu, mungkin anda tak akan pernah bebas seperti sekarang ini. Pertempuran suatu jalan untuk menghentikan saling curiga diantaa keturunan Syam, dan hasilnya memang terasa sekarang ini. Di sini tak ada lagi saling bunuh, karena curiga atau dendam. Pertempuran memang telah selesai kemarin…”
Karuan saja si wanita merenung semakin dalam begitu lelaki tua di sebelahnya terdiam karena terganggu batuknya yang terus menggoda.
“Dan sayalah korban pertempuran itu, Pak Tua !” seragah si wanita dingin. “Begitu menyakitkan ! Anak saya hilang, suami tak diketahui rimbanya. Saya benci pertempuran, karena itu bukan cara untuk menghentikan benci dan dendam. Pertempuran justru akan membuat dendam baru, saling curiga baru,  bahkan mungkin lebih hebat. Mungkin orang sejaman anda, Pak Tua, telah hilang dendam dan saling curiganya, karena terhalang kematian atau karena malu dilucuti. Tapi istri-istrinya, anak-anaknya, cucu-cucunya, cicit-cicitnya yang merasa kehilangan akan hilang pula dendamnya ? Oh, tidak ! Tidak, Pak Tua. Justru semuanya akan membangun dendam baru sejak mereka dalam rahim…” terbata-bata si wanita itu bicara tertahan kerongkonganya yang mendadak kering. Pundaknya tiba-tiba terguncang, menangis sesenggukan, ada dendam baru terpancar dari sorot matanya yang memerah. Lelaki tua itu termangu.
Penumpang makin sesak karena kereta terlambat datang, udara makin tak nyaman. Dari seberang seorang wanita belia sibuk membawa barang-barang yang dipak dalam dus, napasnya tersengal dibebani bawaan yang melebihi kapasitas tenaganya itu. Dus paling besar disimpan tepat di depan lelaki tua itu, hanya sekilas orang melihat kedatangan gadis belia itu, tak ada niatan untuk menyapa apalagi menolong mengurangi bebannya. Wanita belia itu menjatuhkan pantatnya ke atas dus yang tergeletak di lantai, kancing bajunya dibuka dan masyallah, ia tak peduli dengan rahasia dibalik bajunya itu tidak juga terlihat rikuh.
“Ya, Allah, udara kok makin panas saja…” keluhnya sambil tak henti mengibas-ibaskan tangannya. “Dulu panas dengan asap mesiu, sekarang panas dengan asap industri, tak ada bedanya, sama-sama memusingkan. Seperti semua lelaki, sama memusingkan. Anda tahu, tante, tadi pagi di terminal ditemukan seorang bayi mati dekat onggokan sampah. Jelas lelaki yang salah, kalau saja mereka bertanggung jawab tak akan ada kejadian bayi dibuang. Laki-laki memang ingin enaknya saja, belum kasus perkosaan, pembunuhan, penculikan … dan pelakunya, semua lelaki !”
“Stop, cukup, Nona, tak perlu dilanjutkan !” sergah lelaki tua itu tersadar dari lamunannya begitu wanita belia yang baru datang itu ngoceh membuang kekesalannya. “anda tidak sopan, ini tempat umum, Nona. Dan bicara seperti itu memang mengganggu ketertiban, bisa mengundang kecemburuan dan ini akan mengancam keselamatan anda sendiri, Nona !”
“Sopan ?!” gadis belia itu mencibir. “saya tak peduli, sopan atau tidak itu kan urusan saya, pak Tua. Saya tahu kini bukan jaman anda tua, karenanya kini kesopanan hanya barang antik yang layak disimpan di museum. Sopan atau tidak sekarang bukan ukuran, yang menjadi ukuran sekarang seberapa jauh kita bisa hidup mandiri. Titik.”
“Benar, Nona !” sambuh wanita setengah tua menimpali.
“Maaf, tante, saya bukan nona tapi nyonya. Sekali lagi, nyonya…”katanya seraya tersenyum lengkap dengan kerdipan mata yang hanya dimengerti ia dan kebanyakan wanita sejenisnya.
“Ya, benar, nona…eh nyonya …. ?”
“Noorma Al-Alim binti Kursudi Abdul bin Durman Hik…”
“Benar, anda benar Nyonya Noorma. Kita tak usah repot-repot memikirkan kesopanan apalagi bagi saya … “
“Nama tante ?”
“Nadia !”
“Hanya itu ?”
“Nama kepanjangan barangkali nona … “ timpal lelaki tua yang entah kenapa selalu saja merasa dirinya bagian dari percakapan saat itu.
“Tidak ada !”
“Kenapa ?”
“Karena kita sebagai wanita bisa dan harus bisa mandiri, Nyonya. Apalagi bagi saya yang ditinggal mati suami, kita harus bisa membuktikan diri untuk mandiri dan saya tak ingin memakai nama suami. Memakai nama suami berarti membonceng, jelas hal ini tidak mandiri…” Nadia menerangkan. Noorma tercenung, mencoba mencerna kata-kata teman bicaranya itu. Lelaki tua entah kenapa tiba-tiba saja merasa perlu untuk terkekeh.
“Anda wanita-wanita lucu yang pernah saya temui dan lebih cocok hidup di planet lain, bukan di sini. Dan saya tahu, itu semua anda lakukan karena anda telah dan tak berhasil menjadi wanita yang sesungguhnya…” jelas si lelaki masih terkekeh. Noorma dan Nadia melotot, tersinggung dengan kata-kata si lelaki itu.
“Anda telah menghina kami, Pak Tua !” sergah Noorma.
“Menghina ?” tanya si lelaki terbelalak. “Bukankah menghina itu hanya ada dalam kamus orang-orang yang menjunjung tinggi kesopanan, Nona ? Sementara anda sendiri ?” tanya si lelaki itu tak lepas dari senyum sinisnya.
“Maksuda anda ?”
“Nama saya Makmur bin Suheb bin Ajidwipamarguna bin…”
“Cukup pak Makmur, nama anda terlalu panjang, kayak…euhm..maksud saya begini …”
“Maksudnya bagaimana Nona … “
“Nyonya !”bentak Noorma. “anda masih bisa mendengar bukan ?”
“Bagi saya nyonya atau nona tak penting karena hanya ada satu pilihan, seorang wanita dikatakan nona bilamana ia seorang istri pertama yang syah dan keman-mana didampingi suaminya. Bagi istri yang kedua dan seterusnya, tetap akan saya katakan nona, n-o-n-a, karena ia memiliki suami yang telah punya istri. Begitupun ia yang janda atau bepergian tanpa didampingi suami, saya akan menyebutnya nona, saya tidak tahu apakah anda ini istri pertama, kedua, ketiga atau apakah anda ini janda. Yang saya tahu, anda datang ke sini sendirian, karenanya saya akan memanggil anda dengan sebutan nona. Paham ?”
Noorma dan Nadia tercenung. Mereka bertiga tetap diam tak menyongsong ketika kereta api dari arah timur yang akan menuju kota datang. Mereka bertiga hanya menatap penumpang-penum[ang saling berebut masuk, tak ada ketertibatan lagi, semua serba terburu-buru. Penduduk Al-Jabal memang mendadak naik drastis jumlah penduduknya begitu perang saudara itu selesai, dan kini mereka sibuk menikmati udara kemerdekaan.
“Anda berdua tidak turut naik ?” tanya Makmur menggoda lamunan dua wanita berbeda usia itu yang entah kenapa secara tidak sengaja menjadi teman ngobrolnya hari itu.
“Anda sendiri ?”
“Saya ? Tidak !” Makmur menggeleng. “Saya menunggu kereta yang cocok untuk saya tumpangi, kereta yang didalamnya ada seribu kupu-kupu indah…” Noorma dan Nadia saling pandang, kemudian terkekeh mendengar kata-kata Makmur.
Kereta melaju dengan kecepatan tinggi menembus udara kota yang panas, bising, makin tak karuan. Dus besar yang tadi dibawa Noorma sama tak karuan, bahkan dus itu serta-merta berguling-guling padahal tak ada agin, pula tak ada yang menyinggungnya. Makmur terkesiap melihat dus yang terguling-guling sendiri itu, lalu beranjak dari tempat duduknya menghampiri dus ajaib itu. Sesaat dia melirik ke arah Noorma yang terbelalak tak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Ajaib, tak ada angin bisa berguling. Kita buka !” gumam Makmur membuat Noorma terlihat semakin salah tingkah.
“Jangan ! Jangan dibuka, itu milik saya dan anda tak punya hak untuk membukanya…” Noorma gugup sekali, dia bergegas menghalangi Makmur yang telah bersiap-siap membuka dus ajaib itu.
“Memang, saya tak punya hak untuk membuka, Nona. Tapi ingat, saya punya kewajiban untuk membuka keajaiban ini, di sini hak tidak berlaku, Nona. Maaf !”
Noorma tertegun melihat Makmur yang tak menghiraukan larangannya, dia terus membuka dus itu, tali-temalinya dibuka satu persatu dan…Makmur terduduk menyaksikan keanehan yang menurutnya luar biasa. Nadia menjerit mengundang orang-orang yang ada di stasiun menghampirinya. Semua mata terbelalak melihat sesosok bayi mungil dari dalam dus yang tidak bernyawa lagi.
Dus beserta mayat bayi itu diamankan. Noorma pingsan. Makmur hanya terduduk menyulam air mata, dia tidak bereaksi ketika dua orang berseragam putih-putih dengan emblim bertuliskan Rumah Sakit Jiwa menghampiri lalu secara paksa membawanya pergi meninggalkan stasiun itu. Kedua orang berseragam putih-putih itu terdengar bergumam:
“Kenapa bapak kabur, padahal belum sehat betul…”
Makmur terus menangis, sementara Noorma dibopong dibawa ke posko, Nadia makin tercenung kemudian menjerit berkali-kali. Sesaat kemudian ia bangkit dan berjalan gontai menelusuri rel kereta api. Di sudut stasiun terlihat ia tercenung, menatap langit tak berawan, lalu tersenyum bahkan tak henti terus tersenyum, sesekali ia menari indah sekali tak henti bersama angin. Nadia berjalan dan terus berjalan menembus kegelapan, entah sampai kapan.
***
Jauhkanlah dirimu dari pebuatan aniaya,
sesungguhnya perbuatan aniaya itu akan mengakibatkan kegelapan
di hari kiamat, dan hindarkanlah dirimu dari sifat kikir yang keterlaluan
karena kebinasaan generasi sebelummu itu disebabkan
mereka memiliki sifat kikir yang keterlaluan
sehingga membawa mereka ke arah pertumpahan darah
serta menghalalkan semua yang diharamkan
(H.R Bukhari dan Muslim)

SAWER, SAWERAN DI PANYAWERAN


Oleh : E. Rokajat Asura

Kenapa beras dibuang-buang, sekarang kan lagi mahal

Itulah short massage service (sms) dari seorang kawan. SMS itu meluncur ketika sama-sama menghadiri upacara adat sawer pernikahan. Sungguh, kalau bukan gara-gara sms tersebut, saya tak akan teringat betapa upacara adat sawer itu sarat makna. Bukankah pada saat saweran, tak hanya beras yang ditabur tapi ada uang logam, kunyit dan beberapa barang lain. Tak sembarang yang ditabur, selain yang memiliki simbol dan mengandung pesan moral. Tapi upacara adat ini menjadi kehilangan greget – selain sebuah rangkaian upacara – salah satu sebab tak dipahaminya nilai-nilai moral yang terbungkus secara simbolis itu. Sehingga upacara adat sawer kalah populer bersanding dengan organ tunggal.

Sawer secara harpiah seperti diungkapkan RH. Uton Muchtar dan Ki Umbara dalam buku MODANA terbitan  PT. Mangle Panglipur, 1994 halaman 127-138 adalah menaburkan isi bokor yang terdiri dari beras, kunyit, uang logam dan seperangkat alat makan sirih. Tradisi Sawer dilaksanakan dibawah panyaweran yaitu halaman depan rumah tepat dibawah jatuhnya air dari genteng. Tradisi sawer dilaksanakan setelah akad nikah berlangsung. Secara maknawi, tradisi sawer ini samasekali tidak mengangkat hal-hal berbau mistik. Hanya saja karena bahasa dan seluruh peralatan dalam tradisi ini mengandung simbol-simbol, seringkali dipahami sebagai sesuatu yang membesar-besarkan unsur mistik. Padahal tradisi sawer sebenarnya tidak jauh beda dengan khotbah nikah yang isinya berupa pesan-pesan moral yang dinyanyikan dalam bentuk dangdanggula, asmarandana, kinanti maupun anggana sekar. Petikan kidung sawer di bawah ini dalam lagu asmarandana, salah satu contoh bagaimana pesan moral itu disampaikan :

laki rabi masing tigin
runtut raut jeung panutan
titip cepil sareng panon
sepuh raos dadanguan
tur raos titingalan
putra mantu runtut rukun
Eulis Ujang saaleutan
(rumah tangga harus lurus
harmonis dengan pasangan
jaga telinga dan mata
orang tua tentram pendengaran
serta nyaman pandangan
anak dan mantu selalu rukun
Eulis Ujang selalu bersama-sama)

Dalam tradisi sawer pesan moral untuk kedua mempelai itu tidak saja dalam bentuk kata-kata, tapi juga dalam seluruh perangkat yang dipergunakan dalam upacara adat tersebut. Bunga rampai yang ditabur-taburkan tidak saja dimaksudkan untuk menyemarakkan suasana, tetapi memiliki maksud tersendiri. Dalam hal ini orang tua dulu yang menciptakan tradisi ini, ingin mengatakan kepada kedua mempelai hidup rumah tangga selayaknya bunga rampai, tidak saja terlihat cantik dan serasi, tetapi juga menebarkan wangi.  Kehidupan rumah tangga yang menarik dilihat orang lain, serasi dan selalu menebarkan wangi karena tak pernah cekcok secara berlebihan, sebuah tujuan yang mulia. Ketika leluhur kita menabur-naburkan bunga rampai di depan rumah pada saat upacara sawer tidak dimaksudkan untuk menyenangkan ruh leluhur, melainkan secara simbolis sedang menanamkan ajaran bahwa membina rumah tangga harus terus dilakukan agar bisa seperti bunga rampai.

Kunyit yang berwarna kuning tidak ada kaitannya dengan roh-roh halus. Kunyit yang berwarna kuning emas, melambangkan kekayaan dan kesejahteraan. Para leluhur memberi perhatian kepada masalah kesejahteraan ini. Benar, dalam rumah tangga, kekayaan bukan tujuan utama, tapi memegang peranan dalam keharmonisan kehidupan. Orang tua dulu telah berpikir jauh ke depan, betapa masalah finansial ini menjadi salah satu pemantik retaknya rumah tangga. Konsep ini sejalan dalam ajaran Islam, bukankah Nabi Muhammad SAW, jauh hari mengingatkan bahwa kefakiran akan mendekatkan kepada kekafiran.

Beras putih yang ditabur-taburkan bersamaan dengan kunyit dan uang logam, dalam tradisi saweran, termasuk salah satu konsep hidup. Hal ini terkait dengan lingkungan masyarakat yang agraris. Beras dan uang logam yang ditabur-taburkan ke arah penonton secara bersama-sama mengandung arti hidup senang dan banyak rejeki. Harapan semua orang yang dicoba diingatkan pada pengantin yang akan membangun rumah tangga, bahwa mencari rejeki agar banyak dan hidup senang itu harus terus diupayakan, tapi jangan sampai lupa untuk memberi tetangga dan siapa saja yang membutuhkan. Kaya boleh tapi jangan jadi materialistis dan kikir ketika kekayaan itu berhasil diraihnya. Dalam sebuah hadits, sebaik-baiknya seorang muslim adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

Seperangkat makan sirih melambangkan kerukunan hidup rumah tangga. Kerukunan itu akan tercapai manakala ada keseimbangan antara perempuan dan laki-laki. Keseimbangan ini tercermin dari komposisi makan sirih yang terdiri dari apu, gambir, jambe, kapol, saga dan tembakau. Menurut para sepuh yang sering makan sirih, apabila komposisi tadi tidak seimbang, disamping tidak nikmat dimakan juga akan menyebabkan pusing. Hal ini menyiratkan bahwa ketidak seimbangan dalam hidup rumah tangga antara perempuan dan lelaki, akan menyebabkan pusing dan tekanan psikologis lainnya.

Benar bahwa kebijaksanaan yang diwariskan orang tua dulu kepada generasi berikutnya adalah kepasrahan dan kesungguhan dalam hidup. Kepasrahan dan kesungguhan para leluhur menghadapi hidup tercermin dalam berbagai bentuk tradisi, baik yang sifatnya kolosal maupun individual. Demikian pula kepasrahan dan kesungguhan dalam hidup itu tercermin dalam konsep hidup sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai kembali berangkat tidur malam harinya. Dari kepasrahan dan kesungguhan dalam hidup itulah, kemudian mewujud dalam perilaku sehari-hari baik ketika berhubungan dengan sesama maupun dengan alam sekitar. Lalu muncul pemahaman bahwa semua benda yang ada di lingkungan itu memiliki kekuatan dan simbol-simbol yang harus diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada saat nilai-nilai moral itu diwariskan kepada generasi berikut, tak jarang disikapi secara ekstrim baik yang menerima maupun yang menolak. Kelompok yang menolak, melakukan penolakan secara ekstrim sehingga tidak memberi ruang sedikit pun untuk melakukan telaah. Pada saat menolak, maka tak ada kesempatan untuk menelaah ada apa di balik simbol-simbol itu, sehingga pada akhirnya niat baik orang tua dulu menjadi kabur karena makna yang hakiki tidak sempat tergali. Dan kelompok yang menerima, menerimanya dengan ekstrim pula sehingga tak memberi ruang pula untuk mengkritisi. Kelompok ini menerima dan melaksanakan tradisi semata-mata karena menganggap harus dilaksanakan dan menganggap sebagai kesalahan apabila tidak dilaksanakan. Sikap seperti ini akan menimbulkan tradisi menjadi kering arti, budaya menjadi miskin makna.

Tradisi sawer sepertinya telah berada dalam dua sikap ekstrim seperti itu. Ketika seorang juru sawer membuka saweran dengan menyampaikan sebentuk sajak misalnya, bagi mereka yang menerima tradisi sawer dengan ekstrim menganggap hal itu sebagai bagian dari kekuatan dan dan penghormatan kepada nenek moyang sehingga pantang untuk ditinggalkan. Sementara mereka yang menolak secara ekstrim menganggap pembuka berbentuk sajak itu hanya sebaris kata-kata yang samasekali tidak berarti apa-apa. Coba perhatikan salah satu sajak pembuka sawer di bawah ini :

Bul kukus mendung ka manggung
Ka manggung neda papayung
Ka dewata neda suka
Ka pohaci neda suci
Pun sapun ka sang Rumuhun
Ka luhur ka Sunan Ambu
Ka Batara Naga Raja
Kula amit ngidung heula
Nyilokakeun nyukcruk laku
Laku nu mundut rahayu
Ngalap lambah nu baheula
Lulurung tujuh ngabandung
Beas diawur-awur tumbal pangurip sajati
Ti pohaci Sang Hyang Sri
Di dangdayang Tresnawati

Menabur-naburkan beras dan uang logam kepada penonton dalam tradisi sawer, hendaknya jangan diartikan sebagai memberi contoh kepada pengantin dan masyarakat (penonton) untuk menghambur-hamburkan uang, beras dan lain sebagainya dengan sia-sia. Sesungguhnya dalam tradisi itu terkandung nilai moral bahwa rejeki itu harus dicari, ketika didapat jangan jadi kikir, hanya memperkaya diri sendiri dan selalu menutup mata dengan kesengsaraan orang lain. Demikian pula dalam syair-syair yang dilagukan juru sawer secara ringkas mengandung tujuan selalu meminta maaf dan harapan kepada Allah SWT sebelum memulai sesuatu, memberi nasihat kepada mempelai wanita bagaimana cara berbakti kepada suami, sebagai pasangan suami istri harus selalu mencari cara agar hidup tentram dan harmonis, mendoakan kedua mempelai agar hidup tentram lahir dan bathin. Wallohu alam.
***

Minggu, 08 Mei 2016

BERBAGI BERSAMA: RADEN PAMANAH RASA

BERBAGI BERSAMA: RADEN PAMANAH RASA: Sejarah atau novel, saya tak peduli! Yang penting buku ini sudah membawa dan memberikan wawasan baru mengenai KASUNDAAN pada zaman Pajajaran...

BERBAGI BERSAMA: TAFSIR WANGSIT

BERBAGI BERSAMA: TAFSIR WANGSIT: “Buku yang cukup layak dibaca untuk menelisik periode terakhir Kerajaan Sunda, terutama dari perspektif kesastraan. Harus dipahami bahwa kar...

TAFSIR WANGSIT

“Buku yang cukup layak dibaca untuk menelisik periode terakhir Kerajaan Sunda, terutama dari perspektif kesastraan. Harus dipahami bahwa karya sastra memang bukan historiografi, namun ada nilai-nilai historis di sana. Buku ini disusun sebagai upaya untuk mencoba menyajikannya kepada khalayak pembaca.”
Prof. Dr. Agus Aris Munandar, M. Hum., Arkeolog Universitas Indonesia

RADEN PAMANAH RASA

Sejarah atau novel, saya tak peduli! Yang penting buku ini sudah membawa dan memberikan wawasan baru mengenai KASUNDAAN pada zaman Pajajaran. Saya mengimbau dan merekomendasikan kepada semua Wangsa Sunda yang peduli akan budayanya dan Kasundaan untuk membacanya. Nuhun, Ki Enang!”
Ki H. Dr. Iwan Natapradja, Ketua Umum Yayasan Kedubayaan Sawala Kandaga Kalang Sunda Padukuhan Pakujajar, Ciwidey