Informasi
Selasa, 31 Mei 2016
BUMI MAKIN SEMPIT
Cerpen : E. Rokajat Asura
(Dipublikasikan di Pikiran Rakyat Minggu, Juli 1993)
BUMI bulat makin lapang. Su tersenyum. Alhamdulillah, betapa indahnya hidup di alam bebas. Bisa menghirup udara segar tanpa dibentak Sipir. Terbentang jalan lurus tanpa batu tanpa kerikil. Teduh. Damai. Disepanjang jalan Tampa tumbuh subur pepohonan, menghijau di tanah merdeka. Oh, selamat datang kebebasan. Selamat datang kemerdekaan, bisik Su saat itu. Saat dia melambaikan tangan pada Sipir penjara. Saat dia melambai perpisahaan pada tembok kaku, yang selama ini membelenggunya. Saat dia mengharamkan untuk menginjak kembali tanah penjara. Ya, saat dia baru seminggu yang lalu bebas. Ya, Allah, katanya lirih, aku ini bukan orang baik-baik, tapi aku tak akan mampu menerima murkamu. Berilah petunjuk ya, Allah !
Lenguh sapi piaraan, begitu merdu ditelinga Su. Ada kerinduan akan alam desa yang mungkin masih tersisa gemericik air pancuran. Tawa canda anak bertelanjang dada, nanyian gembala demikian mengusik nurani. Sebuah lagu lama. Tapi bagi Su, justru pemandangan seperti itu yang selama ini terbawa mimpi. Su bergegas melangkah saat itu. Ia ngin segera merangkul sang ayah, yang tentu sudah semakin rapuh termakan usia dan digerogoti penderitaannya. Ingin rasanya segera sungkem, kepada emaknya yang nampak lebih tua dari usia sebenarnya. Dan tentu saja, Su pun ingin segera mencium tangan dara pilihannya, calon istrinya. Delapan bulan cukup merana hidup dipenjara. Waktu sesingkat itu harus dibeli dengan ceceran daging, yang kini nampah tinggal tulang terbungkus kulit. Tak Tampa lagi Su yang gempal kini .
Tapi hari ini, menginjak hari ke delapan dia bebas, Su benar-benar jengah. Dunia impian tak pernah ramah menyapa. Semua serba kaku. Semua turut menusuk-nusuk hati. Luka Su semakin berdarah kini. Hampir saja ia mengakhiri hidupnya dengan menenggak racun serangga, tadi subuh. Matahari terasa semakin dekat, hanya sejengkal di atas kepala. Bumi makin padat. Langit serasa runtuh ke jagat. Su terhimpit diantara puing-puing beton, yang pongah dan sombong. Benar-benar menyakitkan. Gerah. Jengah. Serba salah. Puluhan mata, rausan bahkan mungkin ribuan, menusuk-nusuk punggung, hingga tulang rusuk remuk. Su tak kuasa. Tak berdaya menghadapi cibiran, sindiran dan ejekan. Su tak bisa menghadapi emaknya yang kecut dengan gurat-gurat ketuaan menebal di dahi. Rupanya emaknya kecewa berat karena anaknya dipenjara. Hidup jjadi apatis baginya. Lbih-lebih ketika mengetahui bahwa anaknya bebas. Inilah penjara kedua bagi Su. Su sadar. Dia telah mengecewakan emaknya., tidak bisa tuntas jadi seorang ustadz. Padahal dia tahu, untuk memasukkannya ke pesantren dulu, plus bekal dan biaya ini itu, emaknya menggadaikan kalung warisan.
Konon, menurut cerita adiknya, hingga kini kalung itu tidak pernah bisa tertembus. Tapi Su yakin, bukan karena kalung itu yang membuat emaknya kecut. Bukan. Bukan itu. Yang membuat emaknya kecut, bagi Su adalah penjara ketiga. Sejak dia datang, menginjakkan kaki di kampung ini, bapaknya tak pernah sekalipun menegur. Memang masih sering makan berrsama, ke pancuran bersama. Tapi itu hanya kepura-puraan semata. Seperti layaknya seeorang anak ketika main ruma-rumahan. Hari ini, hari kedelapan bagi Su, dia benar-benar ingin kembali ke penjara. Setidaknya hidup di dalam penjara, masih punya harga diri. Jika dia mengurungkan niatnya untuk menenggak racun serangga, bukan karena takut. Tapi segelas racun, Cuma akan mengantarrkan ke laiang lahat atau paling beruntung ke rumah sakit. Bukan ke penjara. Itu pun kalau masih ada yang mau peduli. Padahal keinginan Su adalah kembali ke penjara.
Bukan cuma dua atau tiga penjara yang kini mengurung Su. Tapi empat. Lima. Enam. Bahkan seisi duania adalah penjara baginya. Kecuali di penjara yang satu. Dia tak lebih seonggok tahi, di mata manusia kini. Satu-satunya orang yang masih mau menerima kehadirannya adalah Sumirah, calon isterinya yang kini sudah digaet orang. Karena Sumirah yakin, Su bukan pembunuh. Su bukan pencuri. Semua itu hanya sebuah skenario, ciptaaan putra juragan ikan, suaminya kini. Tapi sayang, Sumirah sudah jadi isteri orang. Sumirah benar-benar telah sumerah pada anak juragan ikan.
Sumirah menangis ketika bertemu di pancuran kemarin dulu. Dia amat menyesal tak bisa memegang janji. Tapi saat itu su hanya mesem. Berapa hatinya sakit. Karena menurutnya, cerita Sumirah tadi Cuma basa-basi. Seperti kebanyakan wanita, yang selalu merasa menyesal dijodohkan orang tuanya. Padahal diam-daiam, mereka telah menyediakan secawan cinta untuk lelaki pilihan orang tuanya itu. Munafik.
Sumirah memang surga bagi Su. Tapi itu dulu. Karena Sumirah kini bukan Sumirah yang dulu. Kini dia adalah isteri juragan ikan yang disegani. Pakaian Sumirah juga bagus-bagus. Sementara Su masih sepeerti dulu, berpakaia alakadarnya. Bahkan kini ditambah gelar barunya : bekas Narapidana. Juragan makin menganga, membuat Su perih. Hatinya terkoyak.
Siang ini, sumirah ngajak kencan. Ditempat kencannya dulu, delapan bulan yang lalu. Di sebuah bukit kecil, di atas perkampungan. Rumputnya masih hijau seperti dulu. Sumirah merajuk saat bertemu Su kemarin sore. Burung-burung beterbangan, berseliweran di atas kepala, cerita Sumirah seakan ingin mengingatkan cerita cinta yang demikian menyegarkannya dulu. Su masih tertegun saat itu. Berat rasanya untuk mengiyakan ajakan isteri orang. Mengajak kencan isteri orang sama dengan mencuri. Dan tuduhan itu pula yang menggiring Su ke penjara, delapan bulan yang lalu. Mestikah kinni diulangi lagi?.
Su benar-benar tak mau diajak kencan Sumirah. Itulah kenapa tadi pagi, dia nekad hendak menenggak racun serangga. Tapi juga seperti dulu, Su sang at kesulitan untuk mengatakan tidak kepada Sumirah tercinta. Sekalipun hal itu bertolak belakang dengan suara hatinya. Diam-diam Su melangkah ke kaki bukit kecil, di atas perkampungan.
***
Angin semilir mempermainkan pucuk rumput gajah. Padi yang menghijau beriak seperti hamparan permadani. Tapi keindahan itu samasekali tak berarti bagi Su. Dia lebih tertarik mengamati jemari Sumirah yang sedang mempermainkan pisau dapur. Sesaat Su terkesiap. Naudzubillahi min dzalik, benda semacam itulah yang dulu mengantarkan dia ke penjara. Seperti sedang membuka lembaran masa silam, saat itu Su melihat adegan-adegan itu sangat gamblang.
“Katanya mau ngobrol, tapi kenapa Bulan bawa pisau ?” akhirnya meledak juga kepenasaran Su. Dia membuka mulut, dan bicara dengan bergetar. Seperti pertamakali ngorol dengan Sumirah dulu, di dalam kandang kuda. Bulan adalah panggilan sayang Su kepada Sumirah. Sumirah tersenyum. Tersembul butiran mutiara di celah bibirnya yang memerah.
“Karena saya hendak membunuh, Kakang !” jelas Sumirah datar. Pandangan lurus ke depan, wajahnya benar-benar berubah dingin. Kaku. Su sempat bergidik. Seperti tersedot magnet raksasa.
“Membunuh ? Astagfirullah, benarkah ?” Su pura-pura tenang, membohongi hatinya yang tersentak tak karuan.
“Benar !” jelas Sumirah tegas. Dipertegas dengan anggukan kepala. Rambutnya terjurai indah ke depan. “Dulu, pisau dapur seperti ini yang mengantarkan kakang ke penjara. Kini, dengan pisau dapur seperti ini pula yang akan mengantarkan saya ke penjara yang sama,” lanjut Sumirah tanpa mengubah nada bicaranya. Benar-benar ajaib dalam pandangan Su saat itu. Su hanya melongo, bibirnya tak terkatup. Dia benar-benar telah kena magnet. Sumirah melanjutkan bicaranya :
“Jika saya dipenjara, kakang segeralah menikah. Dengan siapa saja, dengan wanita mana saja. Tak perlu bicara soal cinta, nanti jika saya bebas dan kebetulan bertemu kakang, kakang boleh bicara bahwa kakang terpaksa menikah karena dijodohkan. Dan saya pun tentu boleh mencibir, seperti apa yang kakang lakukan tempo hari. Tempo hari, ketika saya mengatakan bawha saya menikah karena dijodohkan.” jelas Sumirah. Nada bicaranya merendah bahkan nyaris tak terdengar. Tenggorokannya seperti tersekat. Pundak Sumirah nampak terguncang sesaat, menahan gejolak yang meletup-letup. Tapi dia berusaha menggigit bibir, agar tak terus menangis. Dia seperti takut kena cibir Su yang kedua kalinya, sehingga membuat hatinya lebih perih lagi.
Su makin tersentak. Dia baru sadar ke mana arah pembicaraan Sumirah tadi. Hati kecilnya mengakui, bahwa sebenarnya dia masih tetap mencintai Sumirah. Cibiran tempo hari itu hanya karena harinya terlampau perih. Tapi apalah artinya cinta, bagi orang yang dibelenggu puluhan penjara. Bukankah cinta hanya akan tumbuh pada orang-orang yang bebas, bisik Su jujur.
“Mungkin jika saya telah merasakan kehidupan penjara, saya pun akan berubah jadi manusia perasa. Hidup serta salah dan serba curiga,” sindir Sumirah tanpa mengubah posisi duduknya. Pandangannya tetap menerawang jauh ke depan, melihat burung-burung bercengkrama dengan alam. Tangannya masih tetap memegang pisau. Su tak bicara saat itu. Mulutnya terkunci rapat. Karena baginya diam adalah kebenaran. Diapun membenarkan kata-kata Sumirah barusan. Semuanya.
Dari arah pematang bergerombol orang-orang sambil mengacung-acungkan golok dan tombak. Makin dekat makin jelas, mereka menuju ke arah Su dan Sumirah. Su segera bangkit. Naluri kelelakiannya berkata bahwa dia dalam bahaya. Tapi aneh tak secuilpun terbersit niat untuk lari menghindar. Tidak. Tidak perlu takut, tekadnya. Dan ketika orang-orang itu mendekat, berteriak menuding ke arah Su dengan golok dan tombak terhunus, Su tetap mematung. Di belalakangnya Sumirah sama-sama mematung.
“Pencuriii…pencuriii….!” teriak mereka. Su sempat melihat, lelaki yang berdiri paling belakang adalah anak Juragan Ikan, suami Sumirah. Tiba-tiba Sumirah maju ke depan dengan mengacungkan pisau dapur.
“Dia bukan pencuri,” teriaknya. “Sayalah pencurinya dan pisau ini akan segera merobek perut kalian,” katanya lagi. Semuanya tertegun. Langkahnya terhenti. Tak terkecuali anak Juragan Ikan itu..
“Mundurlah, Sum ! Kami ingin memberi pelajaran kepada bajingan itu. Dia telah menodai kampung kita, dia telah membunuh, dia telah mencuri dan kini malah hendak melarikan istri orang,” tukas seseorang, yang lain menyambut dengan teriakan seraya mengacung-acungkan golok dan tombak.
“Pencuriii…pencuriii…” teriak mereka.
“Saya akan mundur setelah kalian bersujud, dan berjanji tak akan menyebut dia sebagai pencuri, apalagi pembunuh !” teriak Sumirah dengan wajah memerah.
“Sum, sadarlah kau ? Ya, Allah, kenapa jadi begini ?” hanya itu yang keluar dari mulut putra Juragan Ikan. Sumirah terkeke, pundaknya nampak terguncang.
“Banci!” katanya kemudian
“Sum ? Tegakah kau ? Masyallah, Sum, sadarlah !” terdengar suara putra Juragan Ikan memelas. Su masih tertegun. Tenggorokannya terasa kasat. Ingin rasanya melabrak orang-orang yang ada di depannya itu. Beruntung, ketika suasana makin panas dan nyaris menumpahkan darah, datang pak Kades. Suasana sedikit mereda. Orang-orang itu pulang dengan seribu kepenasaran. Sumirah lega. Dia tertegun disamping Su yang memerah. Tersimpan dendam yang teramat sang at. Masyarakat benar-benar pejara bagi Su.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun, tiga hari kemudian, Sumirah ditemukan bersimbah darah dekat pancuran. Dia direnggut maut lewat sebilah pisau dapur. Sementara itu diketahui Su menghilang. Entah kemana.
***
Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan
karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan
kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku
sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(Q.S Yusuf : 53)
KAKATUA BOTAK
Oleh : E.Rokajat Asura
SEORANG LURAH PUNYA BURUNG KAKATUA SANGAT PINTAR NGOMONG .. POKOKNYA NGOMONG APAPUN ITU BURUNG SANGAT LANCAR … TAPI SAYANG ITU BURUNG KAKATUA PUNYA SIFAT JELEK … SUKA NGEJAR-NGEJAR DAN MEMAKSA AYAM BETINA … POKOKNYA SETIAP NGELIAT AYAM BETINA PASTI DIKEJAR-KEJAR DAN DIPAKSA … PAK LURAH SENDIRI UDAH ARAL NGADEPIN KEBIASAAN JELAK BURUNGNYA ITU … YANG NAMANYA DIPERINGATIN SAMA DIHUKUM MAH UDAH BELASAN KALI … TAPI ITU BURUNG TETEP AJA NGGAK BISA NGILANGIN KEBIASAAN BURUKNYA … DIITUNG-ITUNG UDAH LEBIH DARI SEMBILAN PULUH KALI MENGEJAR DAN MEMAKSA AYAM BETINA … MAKANYA KETIKA SAMPAI KESERATUS KALINYA, PAK LURAH BENAR-BENAR SANGAT MURKA … POKOKNYA ITU BURUNG DICABUTIN BULU-BULUNYA SAMPAI BOTAK … MAKSUDNYA SIH SUPAYA ITU BURUNG KAKATUA KAPOK … TAPI BEGITU BERES NYABUTIN BULU BURUNG KAKATUANYA PAK LURAH BARU NYADAR … ADUH KATANYA BESOK KAN MAU DATANG TAMU .. ARTIS-ARTIS TERKENAL DARI JAKARTA … MAU DIKEMAIN INI BURUNG … PADAHAL SUDAH DIGEMBAR-GEMBOR DIA ITU PUNYA BURUNG SANGAT PINTER NGOMONG … NYA AHIRNYA PAK LURAH PUNYA AKAL … UDAH LAH MENDINGAN DIPAKE MASKOT AJA … BURUNG KAKATUA YANG UDAH TURUNDUL TEH DISIMPEN DI MEJA SAMBIL DISURUH NGASIH SELAMAT DATANG SAMA ARTIS … TETEP BISA KELIATAN HEBATNYA CENAH … MOAL MERHATIIN TEUING BULU-BULUNA ANU TURUNDUL TEA … SINGKAT CERITANYA DIAJARIN GIMANA CARANYA NYAMBUT TAMU … EH DASAR BURUNG PINTER BARAYA … KAKATUA ITU PERSIS BISA NGOMONG SEPERTI MANUSIA … TAH BEGITU ROMBONGAN ARTIS DATANG PAK LURAH UDAH SIAP MENYAMBUT TERMASUK SI KAKATUA PINTER TEA ... ARTIS YANG PERTAMA DATANG ADALAH BELLA SHAPIRA … ATUH LANGSUNG AJA KAKATUA TEH NGOMONG … SELAMAT DATANG NONA BELLA … MAKIN CANTIK AJA CENAH … BAGUS KAKATUA KATA PAK LURAH BANGGA … TERUS DATANG LAGI ARTIS JEREMI THOMAS … ITU BURUNG LANGSUNG NGASIH SELAMAT … SELAMAT DATANG KANG THOMAS … GIMANA TERSANJUNGNYA … LANCAR-LANCAR AJA … BAGUS KAMU KAKATUA KATA PAK LURAH TAMBAH SENENG … GILIRAN SELANJUTNYA DATANG EL MANIK DAN OZZY SAHPUTRA YANG BOTAK TEA … NA DA ETA MAH ARI BARAKATAK TEH SI KAKATUA NYAKAKAK BARI TUTUNJUK KA EL MANIK JEUNG OZZY … HAHAHA … EUY TURUNDUL … KALUAR SIAH JALMA TURUNDUL … TUKANG MAKSA AYAM BETINA … CENAH …
SEORANG LURAH PUNYA BURUNG KAKATUA SANGAT PINTAR NGOMONG .. POKOKNYA NGOMONG APAPUN ITU BURUNG SANGAT LANCAR … TAPI SAYANG ITU BURUNG KAKATUA PUNYA SIFAT JELEK … SUKA NGEJAR-NGEJAR DAN MEMAKSA AYAM BETINA … POKOKNYA SETIAP NGELIAT AYAM BETINA PASTI DIKEJAR-KEJAR DAN DIPAKSA … PAK LURAH SENDIRI UDAH ARAL NGADEPIN KEBIASAAN JELAK BURUNGNYA ITU … YANG NAMANYA DIPERINGATIN SAMA DIHUKUM MAH UDAH BELASAN KALI … TAPI ITU BURUNG TETEP AJA NGGAK BISA NGILANGIN KEBIASAAN BURUKNYA … DIITUNG-ITUNG UDAH LEBIH DARI SEMBILAN PULUH KALI MENGEJAR DAN MEMAKSA AYAM BETINA … MAKANYA KETIKA SAMPAI KESERATUS KALINYA, PAK LURAH BENAR-BENAR SANGAT MURKA … POKOKNYA ITU BURUNG DICABUTIN BULU-BULUNYA SAMPAI BOTAK … MAKSUDNYA SIH SUPAYA ITU BURUNG KAKATUA KAPOK … TAPI BEGITU BERES NYABUTIN BULU BURUNG KAKATUANYA PAK LURAH BARU NYADAR … ADUH KATANYA BESOK KAN MAU DATANG TAMU .. ARTIS-ARTIS TERKENAL DARI JAKARTA … MAU DIKEMAIN INI BURUNG … PADAHAL SUDAH DIGEMBAR-GEMBOR DIA ITU PUNYA BURUNG SANGAT PINTER NGOMONG … NYA AHIRNYA PAK LURAH PUNYA AKAL … UDAH LAH MENDINGAN DIPAKE MASKOT AJA … BURUNG KAKATUA YANG UDAH TURUNDUL TEH DISIMPEN DI MEJA SAMBIL DISURUH NGASIH SELAMAT DATANG SAMA ARTIS … TETEP BISA KELIATAN HEBATNYA CENAH … MOAL MERHATIIN TEUING BULU-BULUNA ANU TURUNDUL TEA … SINGKAT CERITANYA DIAJARIN GIMANA CARANYA NYAMBUT TAMU … EH DASAR BURUNG PINTER BARAYA … KAKATUA ITU PERSIS BISA NGOMONG SEPERTI MANUSIA … TAH BEGITU ROMBONGAN ARTIS DATANG PAK LURAH UDAH SIAP MENYAMBUT TERMASUK SI KAKATUA PINTER TEA ... ARTIS YANG PERTAMA DATANG ADALAH BELLA SHAPIRA … ATUH LANGSUNG AJA KAKATUA TEH NGOMONG … SELAMAT DATANG NONA BELLA … MAKIN CANTIK AJA CENAH … BAGUS KAKATUA KATA PAK LURAH BANGGA … TERUS DATANG LAGI ARTIS JEREMI THOMAS … ITU BURUNG LANGSUNG NGASIH SELAMAT … SELAMAT DATANG KANG THOMAS … GIMANA TERSANJUNGNYA … LANCAR-LANCAR AJA … BAGUS KAMU KAKATUA KATA PAK LURAH TAMBAH SENENG … GILIRAN SELANJUTNYA DATANG EL MANIK DAN OZZY SAHPUTRA YANG BOTAK TEA … NA DA ETA MAH ARI BARAKATAK TEH SI KAKATUA NYAKAKAK BARI TUTUNJUK KA EL MANIK JEUNG OZZY … HAHAHA … EUY TURUNDUL … KALUAR SIAH JALMA TURUNDUL … TUKANG MAKSA AYAM BETINA … CENAH …
Rabu, 25 Mei 2016
Kehler
ANGKAT TOPI UNTUK HELEN KEHLER http://erasura.blogspot.com/2016/05/angkat-topi-untuk-helen-kehler.html
ANGKAT TOPI UNTUK HELEN KEHLER
Oleh : E. Rokajat Asura
It would be a blessing if each person could be blind and deaf for a few days during his grown-up live. It would make them see and appreciate their ability to experience the joy of sound.
(Helen Adams Keller)
Suatu hari saya mendapat email dari Anne Ahira – pakar internet marketing – yang sangat inspiratif, tentang kisah Helen Kehler. Pernah mendengar kisahnya ? Helen Adams Keller atau lebih populer dengan nama Helen Kehler adalah seorang perempuan yang dilahirkan buta dan tuli, lahir di Alabama, 27 Juni 1880 dan meningal di Connecticutt dalam usia 87 tahun. Ia menjelma menjadi sosok motivator yang tak pernah menganggap buta dan tuli sebagai hambatan untuk terus berkiprah dan memotivasi sesama.
Kisah hidup Helen Kehler kemudian difilmkan dan berhasil meraih 2 piala Oscar. Helen adalah pemenang Honorary University Degrees Women's Hall of Fame, The Presidential Medal of Freedom dan The Lions Humanitarian Award. Buku terkenalnya “The World I Live In” dan “The Story of My Life” (diketik dengan huruf biasa dan Braille), menjadi literatur klasik di Amerika dan diterjemahkan tidak kurang ke dalam 50 bahasa. Helen telah berkeliling ke 39 negara untuk berbicara dengan para presiden, mengumpulkan dana untuk orang-orang buta dan tuli. Ia mendirikan American Foundation for the Blind dan American Foundation for the Overseas Blind.
Dengan cacat sejak lahir, Helen tak bisa membaca, melihat dan mendengar. Siapapun tak akan ada yang bercita-cita terlahir ke dunia sebagai penyandang cacat. Pun seandainya Helen Kehler diberi pilihan, pasti akan memilih lahir ke dunia dalam keadaan normal. Namun berkat kegigihannya, dengan segala keterbatasan, ia justru mampu memberi motivasi dan semangat untuk mereka yang memiliki keterbatasan. Helen selalu mendorong – semua orang yang mengalami cacat seperti dirinya – agar mampu menjalani kehidupan seperti manusia normal meski itu sulit. Sangat sulit. Ia terkenal dengan ucapannya yang mampu memotivasi orang, seperti yang saya kutip di awal tulisan ini yang terjemahannya kurang lebih berarti sebuah anugerah bila setiap orang yang menginjak dewasa mengalami buta dan tuli beberapa hari saja. Dengan demikian, setiap orang akan lebih menghargai hidupnya, paling tidak saat mendengar suara.
Coba kita beranda-andai. Andai kita buta dan tuli selama dua hari atau beberapa jam saja. Dunia ini akan senyap dan gelap. Semua yang indah, penuh warna, elok, cantik, hanya bisa dilihat dengan warna seragam : hitam. Alunan musik yang indah, nyanyian yang merdu, teriakan penuh semangat, rengekan dan rayuan, tak bisa didengar selain senyap ! Sebuah kondisi yang tak pernah terlintas dalam benak orang normal, bahkan tidak sekedar dalam penggalan mimpi.
Helen Kehler – lewat ucapannya – telah menemukan kesejatian hidup. Tentang betapa kita sebagai manusia menjadi sosok yang senantiasa berkeluh-kesah, hingga kehabisan waktu untuk mensyukuri apa yang kita miliki. Padahal bisa jadi apa yang kita miliki – yang selalu kita alpa mensyukurinya – menjadi kemewahan bagi orang lain. Seandainya diijinkan bisa melihat satu hari saja – begitu keyakinan Helen – pasti akan mampu melakukan banyak hal termasuk membuat sebuah tulisan yang menarik. Bisa melihat bagi Helen Kehler adalah sebuah kemewahan, seperti juga bagi Nick Vujicic – seorang yang tidak memiliki kaki dan tangan – baginya bisa berjalan normal adalah sebuah kemewahan.
Tak berhenti berkeluh kesah tentang banyak hal dari yang sepele sampai yang besar-besar, hanya akan menghabiskan waktu sehingga lupa untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki. Mensyukuri tentang kehebatan yang sebenarnya kita miliki – dan mungkin tidak dimiliki orang lain – tidak pernah keluar sebagai sebuah kehebatan karena kadung tertutup oleh keluh kesah. Bahkan pada akhirnya anda sendiri tak pernah merasa telah memiliki kehebatan. Benar ucapan seorang guru yang sangat saya hormati, bersyukurlah ketika pilek, karena pada saat itulah anda akan merasa memiliki hidung.
Manakala mendapatkan putra-putri kita tidak bisa mata pelajaran tertentu, tidak lantas kita berkeluh-kesah atau menghukum putra-putri kita sebagai ”anak bodoh”. Karena cara seperti itu justru yang akan semakin menenggelamkan kecerdasan mereka. Yang harus kita lakukan – seperti telah dilakukan Helen Kehler yang memiliki keterbatasan – adalah mensyukuri betapa menyenangkan putra-putri kita. Pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh. Setidak-tidaknya seorang anak memiliki satu kelebihan yang jauh lebih menonjol dibanding anak-anak lain seusianya. Semakin dikembangkan kelebihan itu akan semakin menjadi kemampuan terbaiknya. Tugas kita selanjutnya – setelah belajar bersyukur – menemukan kelebihan putra-putri kita. Cara seperti itu akan jauh lebih baik dibanding menghabiskan waktu untuk berkeluh-kesah.
Helen Kehler memang telah menemukan kesejatian hidup, sehingga kehadirannya menjadi berarti bagi sesama. Tapi untuk bisa menemukan kesejatian hidup seperti itu, perlu perjuangan dan perjuangan itu harus dimulai sejak kanak-kanak. D’ Arcy Lyness, seorang psikolog anak, seperti yang dipublikasikan oleh Kids Health, seorang anak membutuhkan kepercayaan diri bahkan ketika untuk pertama kalinya harus keluar rumah. Dan hal itu, tidak muncul dengan sendirinya. Kita sebagai orang tua harus ambil peranan, bukan menjadi seorang penuntut dan hakim yang bengis, melainkan menjadi seorang fasilitator dan katalisator.
Untuk menjadi anak hebat – seperti Helen Kehler – tentu tidak bisa lewat mantra simsalabim atau meminta bantuan seorang illusionis. Seorang anak akan merasa percaya diri, bila ia mulai mampu melakukan hal-hal kecil. Coba perhatikan anak kita yang telah beranjak remaja, telah pintar memasang dasi sekolah sendiri, memilin tali sepatu sendiri, apakah kepandaiannya itu datang dengan sendirinya ? Tentu saja tidak. Masih ingatkah bagaimana ketika anak baru bisa berjalan, lalu betapa sangat sulitnya pekerjaan memasang kancing bajunya sendiri. Andai pada saat itu anda hanya memposisikan diri sebagai penuntut dan hakim yang bengis, bisa jadi pekerjaan memasang kancing kemejanya sendiri itu akan terus sulit sampai ia beranjak remaja.
Masih menurut D’ Arcy Lyness yang memperoleh gelar Doktor dari sebuah universitas di Philadelpia, membangun anak hebat harus dimulai sejak dini. Sebagai orang tua harus turut membangun rasa percaya diri anak dengan memberi kesempatan seluas-luasnya untuk melejitkan kemampuannya. Tentu saja dengan tetap memperhatikan tahapan perkembangan anak. Sebagai fasilitator dan katalisator, orang tua dalam melejitkan kemampuan anak ada baiknya memperhatikan pendapat Bobbi De Porter, Presiden Learning Forum SuperCamp Oceanside, California yang menyebutnya dengan rumus ajaib 7x3.
Rumus ajaib dari Bobbi De Porter merupakan desain pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya. Bobbi De Porter membagi tahapan perkembangan seorang anak dalam tiga periode tujuh tahunan yaitu rentang 7 tahun pertama, rentang 7 tahun kedua dan rentang 7 tahun ketiga. Seorang anak pada usia rentang 7 tahun pertama, dibiarkan bebas bermain dan tidak boleh ada hukuman. Kemudian pada usia rentang 7 tahun kedua, telah diperkenalkan tentang baik dan buruk, sehingga mulai ada hukuman ketika ia melakukan keburukan dan pada usia rentang 7 tahun ketiga, kepada seorang anak telah diberikan alternatif-alternatif dan biarkan mereka memilih. Dengan begitu anak harus mempertanggung jawabkan segala pilihannya.
Pada saat si kecil ingin merapihkan kamar tidurnya sendiri, sebagai fasilitator dan katalisator, orang tua cukup mengawasi. Berikan kesempatan si kecil untuk melakukan sesuatu. Kalaupun ternyata hasilnya tidak serapih sesuai dengan kriteria kerapihan anda, tak perlu lantas menghambatnya dengan cara mengambil peran anak untuk membereskan kamar tidur. Bila hal ini yang anda lakukan, anak akan menuduh dirinya sendiri tidak bisa merapihkan kamar tidur dan sampai kapanpun tidak akan merasa percaya dengan kemampuannya sendiri. Berantakan sedikit tidak mengapa, tapi anda telah menanamkan pada si kecil betapa dia anak yang hebat, yang memiliki kemampun untuk mengerjakan sesuatu yang baru. Tidak perlu berkeluh-kesah hanya karena si kecil tak bisa merapihkan tempat tidurnya sendiri. Mulailah berhenti berkeluh-kesah dan menggantinya dengan bersyukur, maka luar biasa banyaknya yang telah kita miliki dan tidak dimiliki orang lain. Hidup pun akan semakin terasa indah.
Bahasan
POSTKOLONIALISME DALAM CERPEN http://erasura.blogspot.com/2016/05/postkolonialisme-dalam-cerpen.html
POSTKOLONIALISME DALAM CERPEN
Postkolonialisme dalam Cerpen Asmarandana Karya Enang Rokajat Asura : Sifat Jajahan, Menempatkan satu pihak lebih tinggi dari pihak lain
Karya dari seorang cerpenis bernama Enang Rokajat Asura yang berjudul Asmarandana ini, memiliki perpaduan cerita yang sangat menarik untuk mengalami kajian dalam salah satu teori sastra, yaitu postkolonialisme. Dalam cerpen ini mungkin tidak terdapat unsur-unsur penjajah yang anda kutip adalah Belanda, tapi menghubungkan dengan sifat jajahan yang menempatkan pihak lebih tinggi dari pihak yang lain. Dapat terlihat dari cerpen ini, memiliki kunci-kunci yang menguatkan teori poskolonialisme, yaitu: adanya relasi kuasa, orientalisme, oksidentalisme, ambivalensi dan mimikri.
Karmina merupakan tokoh pusat yang terdapat dalam cerita pendek ini. Karmina seorang anak SMP yang tinggal bersama ibu, adik dan ayahnya. Tapi miris sekali perjalanan hidupnya, ayahnya dipasung oleh ibunya di gudang tua dan ibunya hanya sibuk bergulat dalam dunia perjudian. Bocah cantik ini memiliki kepintaran dan sangat dibanggakan oleh teman-temannya, terutama Ajeng. Ibu Karmina adalah seorang manusia yang masa mudanya mengalami kehidupan dunia yang sangat keras dan mengalami traumatik dalam kehidupannya. Ibu Karmina dibesarkan oleh keluarga yang sangat keras dan mengalami penyiksaan sampai akhirnya beliau dapat bebas lepas seperti burung, tetapi ibu Karmina tidak hanya diam, dia memberikan Karmina sebuah pengalaman yang tak sepantasnya dialami pada usianya. Karmina dijual oleh ibunya di sebuah rumah bordir dan berganti nama menjadi Novi. Tidak hanya itu ibu Karmina adalah seorang manusia tamak harta dan menyiksa suaminya yaitu ayah Karmina dan memasungnya dalam sebuah gudang pengab.
Dalam cerpen karya Enang ini terdapat relasi kuasa antara orang tua dan anak, dimana Karmina memiliki relasi kuasa dengan ibunya dan ibunya sebagai penguasa dan mengalahkan kekuasaan ayahnya. Adanya orientalisme dan oksidentalisme pandangan ibu Karmina terhadap Karmina yang tidak menganggap Karmina adalah anak yang pintar dan dapat menaikan derajat keluarganya. Ibu Karmina hanya menganggap bahwa tubuh Karmina adalah sumber keuangannya. Sedangkan, Karmina menganggap ibunya adalah seorang ibu yang gila judi dan gila harta dan dia berfikir ingin bebas dari kejinya perlakuan ibunya. Dalam cerpen Asmarandana ini tokoh Karmina yang harus menjadi pelacur dan berganti nama menjadi Novi ini bukan kemauan Karmina tapi paksaan ibunya yang telah mendapat siksaan kehidupan saat muda sebelum menikah dengan ayah Karmina, terdapat ambivalensi dalam cerpen ini. Karena ibu Karmina mengalami trauma terhadap keluarganya dan ingin menyakiti. Ibu Karmina sendiri mengalami peniruan kelakuan yang menyerupai orang tuanya dan diaplikasikan terhadap Karmina dan suaminya yang disebut mimikri.
Dalam cerpen Asmarandana ini terdapat sosok penjajah yaitu ibu Karmina yang pernah mengalami traumatik akibat penjajahan yang dia alami dengan orang tuanya dan memberikan pengalaman keji tersebut kepada anaknya Karmina, disini ibunya tidak melihat Karmina sebagai anak yang cerdas, tidak hanya Karmina suaminya sendiri ditempatkan pada sebuah gudang tua dalam keadaan terpasung. Ironis sekali kehidupan Karmina yang masa mudanya bekerja sebagai pelayan nikmat yang melayani lelaki hidung belang. Dapat disimpulkan, teori postkolonialisme tidak hanya bercerita tentang penjajahan Belanda tetapi adanya sifat jajahan yang menempatkan derajat seseorang yang lebih tinggi dari pihak lain. (sumber : http://syarofi-fib11.web.unair.ac.id/artikel_detail-80984-Sebuah%20Karya-Asmarandana.html)
Langganan:
Postingan (Atom)


