Informasi
Kamis, 18 Agustus 2016
Harimau
Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (4) http://erasura.blogspot.com/2016/08/cuplikan-novel-raden-pamanah-rasa-4.html
Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (4)
“Harimau jadi-jadian,” batin Raden Pamanah Rasa semakin waspada. Harimau putih itu kembali mengaum, suaranya menggetarkan ranting-ranting pepohonan. Gelapnyawang dan dua sahabatnya serempak mundur menjauh. Sementara Raden Pamanah Rasa memperkuat kuda-kuda. Ia tak berniat menyerang untuk melumpuhkan harimau putih itu.
Jumat, 12 Agustus 2016
Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (3)
Ketiga sosok bertopeng itu tampaknya masih pingsan. Raden Pamanah Rasa segera menaburkan tanah ke tubuh tiga pengasuhnya. Tak berapa lama kemudian ketiganya bangun. Sekujur tubuhnya normal kembali. Tak ada luka lebam bekas pukulan, tak terlihat benjol bekas tonjokan.
“Ada apa sebenarnya, Paman?”
“Tiga orang ini ketahuan sedang memanah Raden dari balik rerimbun pohon. Kami menegurnya dan mereka marah.”
Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (2)
“Sesungguhnya gelap itu tak ada, melainkan tidak adanya cahaya ke tempat itu. Seperti juga angkara itu tidak diciptakan Nu Ngersakeun, sebab bila diciptakan, Nu Ngersakeun telah kehilangan kesuciannya,” ujar Rakean Taksaka, sang penasihat.
"Jadi apa sesungguhnya angkara itu kalau tidak diciptakan oleh Nu Ngersakeun, Paman?”
“Angkara itu tak lain adalah keadaan di mana kebaikan hilang darinya. Keadaan di mana Nu Ngersakeun tidak hadir bersamanya.”
"Kalau demikian angkara itu sebenarnya tidak untuk dimusnahkan, sebab ia tidak diciptakan?”
Kamis, 11 Agustus 2016
Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (1)
Tersiar kabar mereka datang untuk berdagang. Tapi ternyata mereka bersenjata modern. Anak panah atau tombak bukan tandingan senapan yang bisa memuntahkan bunga api itu. Teknologi senjata api belum dikenal di Nusantara. Maka ketika mereka datang dipersenjatai seperti itu, apalagi kalau bukan kiamat?
“Apa mereka hantu pembunuh itu, Datuk?” seorang pemuda berteriak di antara desing peluru. Entah pada siapa ia memanggil Datuk, sebab tak seorang pemimpin pasukan pun mengenalnya. Mungkin ia sedang dilanda ketakutan sehingga teriakan itu lebih merupakan rasa frustrasi. Pedang tetap di tangan, tapi kepada siapa harus ditebaskan?
Jumat, 29 Juli 2016
Parfum dan Saputangan
PARFUM DAN SAPUTANGAN http://erasura.blogspot.com/2016/07/parfum-dan-saputangan.html
PARFUM DAN SAPUTANGAN
Oleh : E. ROKAJAT ASURA
Selain serentetan pertanyaan, parfum dan saputangan merupakan dua barang yang bisa memberi indikasi apakah pasangan kita selingkuh atau tidak. Teori sederhana ini pernah beberapa kali dilakukan oleh seorang istri nun jauh dari ujung Tangerang sana. Believe it or not, begitu kata orang. Tapi yang namanya teori sederhana, artinya validitasnya juga masih mengandung error. Mengandung error atau tidak, toh Sumi, kita sebut saja demikian, masih mau menggunakannya.
"Kenapa kau, Sum, kok jadi begitu perhatian sama parfum dan saputangan ?" celetuk temannya. "
"Abisnya aku penasaran banget, apakah suamiku selingkuh atau tidak."
"Emang bisa ?"
"Kata teori sih begitu..."
"Teori darimana ?"
"Tau ah...yang pasti aku akan mencobanya daripada terus penasaran," jelas Sumi lagi. Maka sejak mendeklarasikan niatnya itu, Sumi jadi rajin mempelajari setiap wangi parfum. Dalam waktu singkat ia pun sudah hapal beberapa wangi parfum yang biasa digunakan perempuan dan mana yang biasa digunakan laki-laki. Ia pun hafal nama-nama parfum dari kelas eksekutif sampai kelas sopir. Maklum sebagai seorang sales di perusahaan cukup besar, suaminya sering berhubungan dengan orang dari berbagai kalangan.
"Coba apa nama parfum ini, apa buat laki apa buat wanita ?" tanya seorang sahabatnya sekedar memberikan test apakah Sumi benar-benar sudah kampiun dalam urusan parfum atau belum. Sumi menciumnya beberapa kali. Pikirannya mengingat-ingat sesuatu. Lalu beberapa saat kemudian ia menyebutkan nama satu parfum.
"Bener nggak ?"
"Ho-oh...tapi untuk wanita apa laki-laki ?"
"Parfum laki-laki !" jawab Sumi pasti.
Temannya angkat jempol karena Sumi bisa menjawab dengan pasti. Nah, dalam urusan saputangan pun Sumi sama piawainya. Ia bisa hapal mana saputangan untuk laki mana untuk wanita, bagaimana lipatan saputangan pria dan bagaimana lipatan saputangan yang biasa dilakukan wanita.
***
Sudah seminggu suami Sumi pulang lambat. Katanya sih banyak kerjaan, bertemu klien di beberapa tempat. Sumi tak begitu saja percaya, tapi ia pun tidak langsung sewot menghadapi masalah itu. Ia beranggapan, kalaulah memang suaminya itu selingkuh, berpindah ke lain hati, maka ia ingin menyelesaikannya secara baik dan benar. Begitulah tekad Sumi.
"Abang capek dong ?" rajuk Sumi
"Terang dong..."
"Mau makan dulu apa mandi dulu, Bang ?"
"Istirahat saja dulu lah..." jelas suami Sumi seraya merebahkan badan di sofa. Sumi menyimpan tas suami ke kamar belakang, tempat dimana dia bisa menyelesaikan tugas kantor. Lalu kembali ke ruang tengah, membawa minum dan penganan. Suaminya melahap semua sajian istrinya dengan nikmat. Samasekali tidak menaruh curiga apa-apa.
Singkat kata ketika suaminya mandi, dengan teliti Sumi menciumi kemeja suaminya. Ia terus menciumi di bagian-bagian dimana suaminya biasa menyemprotkan parfum. Ketika menciumi bagian kiri kemeja suaminya, Sumi mulai curiga. Di sana ia mencium wangi parfum yang lain dari biasanya. Ia kembali menciumnya dan semakin nyatalah bahwa di sana telah menempel wangi parfum merek tertentu yang biasa dipakai oleh perempuan.
Malam itu perang pun tidak bisa dihindari. Sumi terus mencecar dengan berbagai pertanyaan yang intinya memojokkan suaminya. Sebaliknya sang suami tak menerima tuduhan-tuduhan itu karena memang ia samasekali tidak merasa telah berpindah ke lain hati. Kalau berpindah ke lain warung sih pernah, karena kantin langganannya memang sedang tutup. Pikiranya daripada mati kelaparan, mendingan berpaling ke lain warung.
"Abang telah bohong, abang memeluk wanita lain ya 'kan ?" cecar Sumi.
"Sum, mana mungkin aku punya waktu memeluk wanita lain. Lagipula kapan waktunya, dari pagi sampai malam aku terus bertemu klien, Sum."
"Siapa tahu salah satu klien itu adalah wanita."
"Emang..."
"Tuh, kan, jadi benar abang ngaku selingkuh ?"
"Sumi, nyebut, nyebut !"
Adu mulut berlanjut menjadi pertengkaran hebat, lalu berubah menjadi aksi lempar-lemparan. Pokoknya malam itu benar-benar terjadi perang, lebih dahsyat dari perang Irak kemarin. Keesokan harinya orang ketiga pun dipanggil. Maklum hubungan mereka sudah semakin panas. Saking panasnya, ketika telor mentah disimpan dekat mereka berdua, sepuluh menit kemudian langsung matang.
"Atas dasar apa dik Sumi menuduh suami selingkuh ?" tanya penasihat perkawinan.
"Saya sudah mencium wangi parfum yang aneh dan biasa dipakai wanita di kemeja suami saya, Pak ! Dan itu sudah berlangsung beberapa kali," jelas Sumi.
"Benar begitu, Mas ?" tanya penasihat perkawinan kepada suami Sumi.
"Kalau urusan wangi parfum, memang benar, Pak. Sebenarnya sebulan belakangan ini saya nyambi jualan parfum dari salah satu perusahaan. Untuk nambah-nambah penghasilan. Mungkin karena saking seringnya memegang parfum yang dikhususkan untuk wanita, nempel di kemeja saya, Pak !"
"Benar begitu ?"
"Benar, Pak, saya berani sumpah !" jelas suami Sumi seraya memperlihatkan catatan-catatan penjualan. Di sana memang tertulis jenis parfum, jumlah pesanan dan nama pelanggannya. Mendengar penjelasan itu, Sumi agak mereda juga kemarahannya.
"Ternyata begitu katanya dik Sumi !"
"Tapi saya tidak percaya !"
"Bagus, kalau kau tidak percaya, sekarang juga akan kubawa ka counter parfum dan menemui salah seorang calon pembeli," jelas suami Sumi.
Memang demikian akhirnya sang suami membawa istrinya ke counter parfum tempat ia memesan barang, kemudian siang itu juga dibawa menemui salah seorang calon pembelinya. Puaslah Sumi. Suaminya memang tidak selingkuh. Dari sisi parfum, samasekali tidak bisa dijadikan alasan.
"Jadi benar abang tidak selingkuh ?"
"Memangnya kenapa, Sum ? Kau masih curiga rupanya ?"
"Curiga sih tidak, cuma waspada."
"Lalu ?"
"Dari parfum memang tidak terbukti, tapi saputangan ini punya siapa ?" tanya Sumi seraya menyerahkan saputangan warna cerah dan di sana ada sulaman tertulis sebuah nama. Suaminya tampak tersentak. Ia samasekali tidak pernah mengingat saputangan siapa sebenarnya yang sedang dipegang istrinya itu.
"Ini saputangan siapa ?"
"Aku nggak tahu, Sum !"
"Nggak tahu atau pura-pura tidak tahu ?"
Suaminya tidak menjawab karena memang tidak tahu. Sejak penemuan saputangan itu Sumi langsung minta cerai. Seminggu setelah cerai, ibunya datang dari kampung.
"Bagaimana, Sum, apa suamimu senang menerima saputangan bikinan mak sendiri itu ?"
"Saputangan ?"
"Ya, mak ‘kan pernah mengirim saputangan padamu !"
"Warna cerah dan ada inisial SM ?"
"Iya, itu kan singkatan namamu, Sumi Maemunah !"
Sumi langsung pingsan. Entah teori mana yang menjelaskannya, kenapa saat itu juga pingsan.
***
Langganan:
Postingan (Atom)




