Informasi

Novel Raden Pamanah Rasa bisa dipesan langsung SMS/WA ke 081310860817 Tafsir Wangsit Siliwangi bisa dipesan langsung SMS/WA 081310860817

Senin, 29 Agustus 2016

Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (6)

“Kapan kau akan menjelaskannya padaku, Sayang?” tanya perempuan bermata biru itu yang kemudian mengenalkan dirinya dengan nama Samantha. “Kapan saja kau mau mendengarkannya, Samantha,” ujar Hulubalang dengan senyum bangga. Ia telah berhasil mengatasi mabuk laut selama ini, tapi ternyata tidak bisa mengatasi mabuk cinta. Tanpa diminta, ia lalu menjelaskan tentang Tritangtu di Buana. “Apa ketiga posisi itu selalu dijalankan di mana pun di Nusantara ini?” Hulubalang mengangguk pelan. Lalu terdengar Samantha seperti sedang menghafal, mengulang kembali apa yang baru saja dijelaskan Hulubalang. Jagat palangka, jagat kreta, jagat daranan.

Minggu, 28 Agustus 2016

Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (5)d

“Bagaimana mungkin menyebarluaskan ajaran baru, sementara seluruh rakyat di sini telah memiliki keyakinan berbeda,” sergah seorang utusan datuk kepada utusan lain. Lalu, mereka melaporkan hasil pertemuan itu kepada datuk masing-masing. Kekhawatiran itu ternyata mendapat reaksi yang sama. Semua menolak keinginan para pendatang Portugis itu. Tidak mungkin. Maka, para datuk itu kemudian mengadakan rapat serentak. Nusantara sedang dalam bahaya. Bukan akan diluluhlantakkan senapan mesin Portugis, tapi ajarannya yang akan dikotori. Padahal kerajaan-kerajaan di Nusantara telah berdaulat dalam kemaharajaan Nusantara. Hari ini giliran para datuk berkumpul. Cuaca tak begitu terik sebenarnya, tapi para datuk merasa serupa dipanggang di atas bara. Bukan tidak percaya dengan pesan yang dibawa para wakilnya. Tapi barangkali mereka ingin mendengarnya sendiri. Di Malaka mereka berkumpul. Menghadap wakil Portugis, Alfonso d'Albuquerque. Para datuk itu menyebut pemimpin Portugis itu dengan nama Laksamana Bungker.

Kamis, 18 Agustus 2016

Harimau

Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (4) http://erasura.blogspot.com/2016/08/cuplikan-novel-raden-pamanah-rasa-4.html

Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (4)

“Harimau jadi-jadian,” batin Raden Pamanah Rasa semakin waspada. Harimau putih itu kembali mengaum, suaranya menggetarkan ranting-ranting pepohonan. Gelapnyawang dan dua sahabatnya serempak mundur menjauh. Sementara Raden Pamanah Rasa memperkuat kuda-kuda. Ia tak berniat menyerang untuk melumpuhkan harimau putih itu.

Jumat, 12 Agustus 2016

Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (3)

Ketiga sosok bertopeng itu tampaknya masih pingsan. Raden Pamanah Rasa segera menaburkan tanah ke tubuh tiga pengasuhnya. Tak berapa lama kemudian ketiganya bangun. Sekujur tubuhnya normal kembali. Tak ada luka lebam bekas pukulan, tak terlihat benjol bekas tonjokan. 

 “Ada apa sebenarnya, Paman?” 

 “Tiga orang ini ketahuan sedang memanah Raden dari balik rerimbun pohon. Kami menegurnya dan mereka marah.” 

 “Paman tahu dari mana asal ketiga orang bertopeng ini?”
“Mereka mengaku dari Astana Japura. Tapi mungkin hanya rekaan saja, Raden.”

Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (2)

“Sesungguhnya gelap itu tak ada, melainkan tidak adanya cahaya ke tempat itu. Seperti juga angkara itu tidak diciptakan Nu Ngersakeun, sebab bila diciptakan, Nu Ngersakeun telah kehilangan kesuciannya,” ujar Rakean Taksaka, sang penasihat. 

"Jadi apa sesungguhnya angkara itu kalau tidak diciptakan oleh Nu Ngersakeun, Paman?” “Angkara itu tak lain adalah keadaan di mana kebaikan hilang darinya. Keadaan di mana Nu Ngersakeun tidak hadir bersamanya.” 

"Kalau demikian angkara itu sebenarnya tidak untuk dimusnahkan, sebab ia tidak diciptakan?”

Kamis, 11 Agustus 2016

Cuplikan Novel Raden Pamanah Rasa (1)

Tersiar kabar mereka datang untuk berdagang. Tapi ternyata mereka bersenjata modern. Anak panah atau tombak bukan tandingan senapan yang bisa memuntahkan bunga api itu. Teknologi senjata api belum dikenal di Nusantara. Maka ketika mereka datang dipersenjatai seperti itu, apalagi kalau bukan kiamat? “Apa mereka hantu pembunuh itu, Datuk?” seorang pemuda berteriak di antara desing peluru. Entah pada siapa ia memanggil Datuk, sebab tak seorang pemimpin pasukan pun mengenalnya. Mungkin ia sedang dilanda ketakutan sehingga teriakan itu lebih merupakan rasa frustrasi. Pedang tetap di tangan, tapi kepada siapa harus ditebaskan?