Informasi
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cermin. Tampilkan semua postingan
Kamis, 09 Juni 2016
JODOH BODOH
Oleh : E.Rokajat Asura
Ada tiga sahabat karib sejak di sekolah menengah. Sebut saja Ari, Septian dan Harun, nama ketiga sahabat itu. Ketiganya kebetulan satu hobby, satu sekolah, satu kuliahan. Dan sekarang, luar biasanya, ketiganya juga bekerja di perusahaan yang sama. Kejadian langka ini tentu saja semakin mengukuhkan persahabatan mereka. Boleh dikata, tak ada Ari tanpa Septian dan Harun, demikian pula sebaliknya dimana ada Harun, bisa dipastikan di sana Septian dan Ari juga ada.
Soal jodoh, ini juga terbilang aneh. Sampai sekarang ketiga sahabat kental itu masih juga belum ketemu jodohnya. Entah karena belum waktunya, entah karena seperti sangkaan orang-orang, ketiga sahabat itu sulit untuk dipisahkan. Mereka lebih mementingkan persahabatan daripada membangun rumah tangga. Khawatir kalaupun mereka menikah, anak istrinya bisa ditelantarkan kalau ada urusan yang menyangkut persahabatan mereka. Padahal secara fisik, ketiganya terbilang punya tampang di atas rata-rata dan hidup mapan pula.
Suatu hari ada seorang wanita cantik, sebut saja Farah, karyawan baru di kantor ketiga sahabat itu. Entah kenapa pada saat yang sama ketiganya menaruh hati. Bahkan secara sembunyi-sembunyi mereka mulai mendekati wanita itu. Karena dianggap sebagai teman sekantor, Farah menyambut persahabatan ketiga cowok itu tanpa ada pretensi apa-apa. Ketika malam minggu tiba, tanpa disengaja pula, ketiga cowok itu datang berkunjung ke rumah Farah.
Pertama datang adalah Ari. Selang lima menit muncul Harun, disusul kemudian sepuluh menit berikutnya Septian yang tiba. Tentu saja ketiganya kelabakan. Sementara Farah samasekali tidak menaruh curiga apa-apa. Dia menganggap karena memang ketiganya senang bertandang. Cuma itu. Farah hanya tahu sedikit tentang informasi bahwa ketiga lelaki itu sudah lama bersahabat.
Senin hari di kantor ketika makan siang, ketiga lelaki itu berikrar, daripada persahabatan hancur, lebih baik tak seorang pun yang menjalin persahabat istimewa dengan Farah. Begitulah akhirnya, mereka seperti juga karyawan lain, hanya kalau ada urusan penting saja berhubungan dengan Farah. Apalagi antara ketiga lelaki itu dengan Farah berbeda departemen, sehingga akan sangat kentara apabila diantara mereka ada yang sengaja main mata.
***
Selang beberapa bulan, Ari dipanggil orang tuanya ke Yogya. Katanya ada yang harus diomongkan. Maka dengan diantar ke bandara, Ari pulang kampung. Kedua sahabatnya pergi ke kantor dan bekerja seperti semula. Dua hari sejak kepulangan Ari, Septian dan Harun menerima telpon. Singkat saja isinya. Ternyata, katanya, Ari di Yogya akan dijodohkan dengan putri kenalan ayahnya.
"Kamu terima ?" tanya Harun di telpon.
"Saya lihat dulu, kalau cantik, sayang ‘kan dibuang begitu saja," canda Ari. Demikian pula ketika Septian menelpon, Ari menjawab persis seperti ia katakan kepada Harun.
Seminggu kemudian Ari balik ke kantor. Ketemu dengan ketiga sahabatnya lagi. Pada satu kesempatan ia mulai ngobrol tentang proses penjodohan dengan putri sahabat ayahnya itu.
"Cantik nggak ?" canda Septian
"Di foto sih iya...tapi aku nggak begitu bisa mastiin, soalnya fotonya ‘kan waktu kuliah. Biasa, foto yang masih culun."
"Namanya ?"
"Adila Farahandira. Keren, nggak ?"
"Lumayan !"
"Kapan kamu janjian ketemu ?"
"Katanya sih aku yang harus aktif, soalnya anak itu kerja di Jakarta juga. Tapi aku belum diberi nomor teleponnya," jawab Ari mengakhiri perbincangannya.
Kisah Siti Nurbaya abad IT itu pun begitu saja terjadi. Pada satu kesempatan, Ari benar-benar dibuat tidak percaya. Betapa tidak, ternyata wanita yang dijodohkan ayahnya itu tidak lain adalah Farah.
"Sorry, bukan aku ingin menghancurkan persahabatan kita, tapi aku samasekali tak menyangka kalau wanita itu adalah Farah," jelas Ari di depan dua sahabatnya. Septian dan Harun hanya saling pandang. Lalu keduanya tertawa. Ari jelas tidak mengerti. Ditatapnya kedua sahabatnya itu, tapi yang ditatap malah makin terpingkal.
"Apaan sih ?"
"Itu artinya kamu kena batunya. Kan ada peribahasa, jodoh itu bodoh, karena nggak bisa pilih-pilih. Yang dipilih malah lari, yang nggak dipilih datang sendiri," jelas Harun.
"Kamu tahu, minggu depan aku juga tunangan. Tahu siapa gadis yang kumaksud ?" tanya Septian
"Nggak tahu !"
"Lasmi !"
"Orang mana ?"
"Jalan X No. 17 !"
"Nggak salah kamu ?"
"Kenapa ?"
"Lha, itu kan rumahnya Harun !"
"Itulah memang yang namanya jodoh itu bodoh, artinya nggak bisa diprediksi, nggak bisa dipilih-pilih."
"Maksudnya ?"
"Aku memang akan tunangan dengan adiknya Harun !"
Mendengar penjelasan Septian seperti Ari hanya tersenyum. Soalnya ia ingat bener, dulu sewaktu masih kuliah, antara Septian dengan Lasmi, kerjanya berantem melulu. Kalau diam sebentar saja, itu namanya nggak seru.
"Sayang ya," jelas Ari
"Kenapa emang ?" Harun penasaran.
"Aku nggak punya adik perempuan. Kalau punya, siapa tahu jodoh kamu justru dengan adikku."
Harun hanya mesem. Ia memang belum punya jodoh. Tapi dengan melihat pengalaman masing-masing sahabatnya, terus-terang ia enggan untuk berandai-andai. Soalnya kalau berandai-andai, malah nggak jadi. Sebaliknya ia juga tidak mau pilih-pilih, khawatir yang tidak dipilih justru jodohnya.
***
Ketika dua sahabatnya, Ari dan Septian menikah, Harun masih sendiri. Suatu hari ia diajak temannya yang lain ke kampungnya. Kebetulan ada acara pasar kaget, acara tahunan, yang biasanya seluruh penduduk tumplek menghadiri pesta itu. Diam-diam acara tahunan ini juga jadi semacam arena cari jodoh. Harun yang dari sananya memang senang menjelajahi pedesan, menerima dengan suka hati. Aku bisa berpetualang, alasannya.
Di tempat pasar kaget ketika sedang memilih salah satu kerajinan desa itu, kaki Harun terinjak terumpah. Ia tidak saja menjerit tapi mencak-mencak. Tapi ketika melihat yang menginjak itu seorang nenek, keriput, rambutnya uban semua, ia kontan meminta maaf. Soalnya tidak mau menghina wanita, takut justru si nenek jadi jodohnya. Pasti lebih berabe.
Pulang dari tempat itu, Harun begitu saja gemetaran ketika di jalan ketemu dengan si nenek kembali. Apalagi si nenek memaksanya mampir. Hanya karena takut menyinggung si nenek lah, Harun dan temannya bersedia mampir.
"Nenek sudah berbuat kesalahan kemarin, menginjak anak ini. Hitung-hitung menebus dosa, mampir lah kalian. Nenek bersyukur kalian tidak menolak. Sebentar, nenek bikinin minum," aku si nenek jujur.
"Nggak usah, Nek !" Harun melarang.
"Nggak apa-apa, cuma air saja."
Lalu si nenek batuk-batuk. Rupanya itu isyarat. Karena sebentar kemudian, seorang gadis cantik datang membawa nampan diisi minuman dan penganan. Harun melotot. Baru kali itu ia melihat wajah perempuan demikian sempurna. Tapi lagi-lagi ia tak mau beranda-andai, soalnya takut malah lari. Ia juga tidak mungkin tiba-tiba saja marah pada gadis cantik itu, dengan harapan akan berbalik jadi jodohnya. Ia sekarang benar-benar menyerahkan bulat-bulat pada keputusan Allah SWT.
***
Kamis, 19 Mei 2016
SEPANJANG KEINGINAN UDIN
Oleh : E.Rokajat Asura
Namanya sangat singkat, Udin. Cuma empat hurup, tidak kurang tidak lebih. Dari sononya namanya ya seperti itu. Ini bukan nama rekayasa bukan pula singkatan. Tapi soal keinginan jangan tanya. Keinginan Udin panjang sekali, lebih panjang dari rel kereta api Jakarta – Surabaya. Sejak kecil Udin selalu memelihara keinginan demi keinginan itu. Bahkan beberapa diantara keinginan itu ada yang sampai menjadikannya sebuah obsesi. Memang tidak selamanya keinginan itu terwujud, banyak juga yang tidak terlaksana sehingga keinginan tinggal keinginan.
Setiap akhir tahun sudah jadi kebiasaan Udin yaitu mengadakan introspeksi tentang keinginan mana yang terlaksana dan keinginan mana yang tidak terlaksana. Nah, kesimpulan pada tahun sekarang ternyata banyak keinginan yang tidak terlaksana. Artinya selama tahun ini prestasi Udin sangat buruk. Tidak heran kalau sekarang dia selalu merenung mencari akal dan ramuan yang jitu, agar keinginan-keinginan di tahun depan nanti akan banyak yang terlaksana. Paling tidak 51 satu prosen dari keinginan itu terlaksana, dan 49 yang tidak terlaksana. Sengaja menggunakan komposisi seperti itu agar kelihatannya lebih keren, atau paling tidak mengikuti bagaimana para pemegang saham menentukan kebijakan.
Hampir setiap hari, pagi-pagi benar Udin telah memegang buku dan pensil. Dia mulai menulis satu demi satu keinginan yang ingin diwujudkan dalam tahun depan. Selama seminggu mencatat keinginan-keinginan itu akhirnya telah tertulis tidak kurang dari 60 buah keinginan. Jumlah yang fantastis tentu saja, karena dengan jumlah keinginan sebanyak itu, paling sedikit dalam sebulan harus mewujudkan lima buah keinginan.
“Inilah planning saya untuk tahun depan,” jelas Udin ketika Sugeng, salah seorang teman dekatnya menanyakan apa yang ditulisnya selama seminggu ini. Satu demi satu Sugeng menelitinya, lalu ia senyam-senyum dengan sejumlah catatan yang ada dalam buku milik sahabatnya itu.
“Kamu punya jurus apa untuk mewujudkan semua keinginan ini ?” tanya Sugeng serius. Ditanya seperti itu Udin tidak langsung menjawab. Dia sendiri masih bingung, jurus apa yang paling ampuh agar semua keinginan yang telah ditulisnya dalam buku cukup tebal itu semuanya terwujud.
“Kamu perlu seorang peramal, yang harus meramal nasib kamu tahun depan nanti. Nah, keinginan-keinginan yang sesuai dengan ramalan itulah yang harus kamu prioritaskan. Dengan cara seperti itu kamu tidak akan terlalu membuang-buang energi secara percuma. Kalau kamu butuh seorang peramal, aku punya teman !” jelas Sugeng seraya menuliskan nama dan alamat temannya yang terkenal sebagai peramal. Sesaat Udin seperti ragu-ragu dengan usulan Sugeng itu, tapi akhirnya dia menerima juga. Menurut pemikiran Udin saat itu, dengan diramal paling tidak dia sendiri akan memiliki jurus untuk memilih dan memilah keinginan mana saja yang harus diprioritaskan.
Singkat cerita pada suatu hari Udin pergi ke tempat meramal. Di sana mulailah dia diramal, dari mulai rejeki, jodoh sampai sejumlah keinginan yang telah dicatatnya. Sejam berikutnya, Udin telah melenggang meninggalkan tempat itu dengan wajah ceria. Betapa tidak, menurut ramalan di akhir tahun ini, dia akan menerima kejutan demi kejutan yang berkaitan dengan rejeki. Kejutan demi kejutan itu konon akan datang langsung ke rumahnya. Maka melambunglah khayalan Udin. Andaikata dikejutkan dengan diperolehnya sejumlah rejeki pada akhir tahun ini, dia punya rencana dari mulai mengganti sepeda motor, mencat rumah, wisata dan tentu saja melamar gadis pujaannya.
Pagi-pagi Udin sudah mandi, lalu duduk di depan teras lengkap dengan buku dan pensil. Dia mulai menuliskan rencana. Pertama, mengganti sepeda motor. Dia hitung berapa harga motor lamanya dan berapa harga motor baru sehingga munculah margin. Dalam kolom pemasukan ia menuliskan, andaikata kejutan itu sejumlah lima belas juta maka sekian prosen dipakai untuk nambah beli motor, sekian prosen untuk mencat rumah, wisata dan sekian prosen untuk disimpan di dalam tabungan agar nanti kalau telah cukup waktu menikah, tidak akan terlalu kelabakan.
Jam sepuluh pagi Udin belum beranjak dari tempat duduknya karena menunggu datangnya kejutan. Hari itu dia memutuskan untuk tidak pergi jualan, karena takut ketika kejutan itu datang, dia sendiri tidak sedang di tempat. Sampai sore hari ternyata kejutan itu belum juga datang. Kecewakah Udin ? Ternyata tidak. Dia justru berharap, siapa tahu kejutan itu akan datang besok. Sebaliknya dia mulai instrospeksi. Tadi pagi jam delapan dia sudah duduk di teras, tapi siapa tahu kejutan itu justru datang jam tujuh saat dia sedang di kamar mandi.
Keesokan harinya jam tujuh Udin sudah menunggu kejutan. Tapi sampai sore hari bahkan sampai tengah malam kejutan itu tidak muncul juga. Pada hari ketiga ia bangun lebih pagi dan jam enam sudah duduk di teras menunggu kejutan. Tapi anehnya sampai sore kejutan itu belum muncul juga. Udin tetap tidak kecewa, sebaliknya keesokan harinya jam lima pagi sudah duduk di teras untuk menunggu sang kejutan tiba. Demikianlah terus, Udin selang sehari selalu memundurkan waktu duduk di teras itu. Hingga akhirnya entah pada hari ke berapa, Udin genap tidak tidur samasekali. Selama itu pula ia tidak pergi dagang sehingga sebagian dari tabungannya mulai dikuras untuk biaya hidup selama beberapa hari menunggu kejutan. Apalagi pengeluaran selama menunggu kejutan itu benar-benar melambung, karena untuk segala keperluan Udin menyuruh orang lain sementara dia sendiri duduk di teras menunggu sang kejutan datang. Dia sengaja menyuruh orang untuk melayani dirinya, agar tidak ada kesempatan kejutan lewat begitu saja.
Hampir sebulan duduk di teras menunggu sang kejutan, Udin dikabarkan ambruk. Maklum karena terlalu sering begadang sehingga kesehatannya terganggu. Lalu Udin dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan harus opname. Menurus hipotesa dokter, Udin menderita tekanan darah rendah komplikasi dengan wasir.
Udin yang diopname akhirnya sampai juga beritanya kepada Sugeng yang saat itu baru pulang dari Surabaya. Sahabat dekatnya itu datang menjenguk. Melihat wajah Udin yang pucat dengan tulang pipi yang menonjol, Sugeng benar-benar tidak kuasa menahan tangis.
“Kenapa kamu jadi begini, Din ?” tanya Sugeng sambil berurai air mata. Udin tidak segera menjawab melainkan menunjuk ke atas meja kecil tempat buku yang selama ini dipegangnya tersimpan. Sugeng membuka-buka buku. Pada halaman dalam ada tulisan besar : Kamu Akan Mendapatkan Kejutan Rejeki Yang Datang Ke Rumah. Dibawah tulisan itu ada juga serentetan tulisan yang berisikan rencana mengganti sepeda motor, wisata dan melamar gadis pujaanya. Di halaman lain Sugeng membaca tulisan tentang hari pertama Udin menunggu kejutan sampai akhirnya dia ambruk. Pada tulisan-tulisan itu terlihat bulatan-bulatan stabilo yang memberi tanda kalau hari itu Udin gagal menerima kejutan.
“Kenapa kamu jadi bodoh begini, Din ?”
“Aku tidak bodoh, justru karena aku pintar semua itu terjadi. Kata peramal teman kamu itu, semua ramalan akan terjadi kalau kita percaya seratus prosen dan melatih kesabaran dari apa saja yang diramalkannya itu,” jelas Udin terbata-bata mengingat kesehatannya belum pulih. Mendengar pengakuan Udin seperti itu, untuk kesekian kalinya Sugeng hanya menggelengkan kepala.
“Din, yang namanya ramalan itu hanya sebuah prediksi, bukan sesuatu yang pasti. Kejutan rejeki itu mustahil datang kalau kamu hanya menunggu, duduk termenung di depan teras. Coba kamu bayangkan, kalau selama sebulan ini kamu terus berdagang, kamu terus pergi ke pasar, menjalin hubungan dengan orang lain, berapa keuntungan yang akan kamu peroleh sekarang ? Mungkin itulah kejutan rejeki kamu di akhir tahun. Tapi sekarang, kamu bukannya mendapat kejutan rejeki malah sebaliknya sangat banyak kehilangan rejeki. Buang-buang rejeki.”
Udin termenung. Entah kenapa selama sebulan ke belakang dia benar-benar telah berlaku bodoh, menunggu rejeki turun dari langit tanpa berusaha sedikit pun. Udin kemudian memejamkan mata, dengan kegagalan seperti itu berapa point keinginannya lenyap begitu saja. Akhir tahun yang menyedihkan tentu saja.
***
Selasa, 10 Mei 2016
BERMAIN-MAIN DENGAN SUMPAH
Oleh : E. Rokajat Asura
Dalam sebuah pelantikan pejabat selalu dilakukan sumpah jabatan. Maksudnya sebagai bukti bahwa ia akan memegang amanat jabatan itu untuk digunakan sesuai dengan proporsinya. Sumpah jabatan mengandung sebuah semangat spiritual yang tinggi. Sumpah jabatan menjadi salah bukti kesungguhan pejabat tadi agar tidak menyalahgunakan jabatan. Kalau kemudian pejabat tadi terbukti menyalahgunakan jabatan, terbukti mengingkari jabatannya itu, tentu bukan sumpah jabatan yang salah tapi individu pejabatan itulah yang salah.
Ketika dua orang bertengkar atau cekcok, tak ada yang mau disalahkan. Jalan tengah biasanya ditempuh dengan menyuruh keduanya untuk bersumpah. Sumpah seperti ini menjadi sebuah cara pembuktikan sosial kepada satu sama lain tentang perbuatan yang dituduhkan kepada dirinya itu tidak benar. Kalau kemudian di akhir hari ketahuan bahwa para pelaku sumpah tadi salah, tentu bukan sumpahnya yang salah melainkan masing-masing individu itulah yang ingkar. Individu tadi dengan sengaja telah melakukan pembohongan publik. Bohong atas sumpahnya sendiri.
Ketika seseorang dituduh mencuri, ia tidak akan dipercaya begitu saja dengan hanya mengaku tidak mencuri. Orang yang menuduh mencuri biasanya secara psikologis akan berubah manakala pencuri itu berani bersumpah. Namun demikian ketika ketahuan ternyata sumpahnya bohong, tentu saja bukan sumpahnya yang salah tapi pencuri itu yang salah. Dia telah berani bermain-main dengan sumpah.
Ketika sumpah dijadikan pembelaan dan hanya untuk bermain-main, maka nilai sumpah terasa menjadi hambar dan tidak bernilai. Kenyataan seperti itulah yang dirasakan Her belakangan ini. Padahal saat ini ia justru sedang dihadapkan pada kondisi yang serba sulit. Bayangkan saja, istrinya diduga berselingkuh. Beberapa bukti dari omongan tetangga telah dikantongi. Hanya saja Her sendiri belum menangkap basah kelakuan istrinya itu. Tapi ketika dikonfirmasi, istrinya tetap bersikeras mengaku tidak selingkuh. Bahkan ketika diajak bicara baik-baik dengan mengumpulkan kedua keluarga, istrinya tetap bersikeras kalau ia tidak berbuat. Ia samasekali tidak selingkuh. Ketika pamannya menyuruh keluar dari pekerjaanya, istri Her dengan enteng mau menerima.
“Kalau memang sumber tuduhan selingkuh itu karena saya bekerja, sehingga punya keleluasaan untuk berselingkuh, saat ini juga saya bersedia keluar kerja. Tapi tentu saja jangan konyol. Saya mau keluar kerja kalau memang mas Her telah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” jelas istri Her.
“Bagaimana Her, kau sanggup ? Inilah salah satu cara untuk membuktikan benar tidaknya omongan tetangga dan tuduhan kamu bahwa istrimu tidak selingkuh,” urai sang paman. Her berpikir. Selama ini ia memang telah bekerja keras, kendati kebutuhan rumah tangganya masih saja belum tercukupi. Dari sanalah pertimbangan sang istri kenapa ia mau bekerja.
Pertemuan itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Isu bahwa istri Her berselingkuh semakin santer. Istri Her sendiri tetap bersikeras tidak mau mengaku. Pada suatu hari Her mengajak istrinya menemui seorang ustadz. Di hadapan sang ustadz Her bicara panjang lebar:
“Begitulah, pak Ustadz, saya memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah ini ?” keluh Her. Pak Ustadz hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu ia cerita tentang bagaimana kebohongan itu bisa berakhir dengan sebuah kecelakaan. Apalagi kalau berbohong dengan cara bersumpah, tentu akan lebih rugi lagi akibatnya. Kebohongan yang terus-menerus akan membuat ia tidak dipercaya lagi, demikian pula dengan orang yang senang bermain-main dengan sumpah, tidak akan dipercaya lagi sumpahnya. Kendati pada suatu hari ia benar-benar bersumpah dengan segala kesungguhan, sumpah itu tetap saja menjadi tidak bernilai dan ia akan tetap dianggap bohong. Lalu ustadz itu mensitir sebuah kisah.
Pada suatu masa, katanya, ada seorang gembala kambing. Ia biasa menggembalakan kambing itu jauh keluar kampung. Di sebuah padang rumput yang maha luas, di sanalah ia melepas kambing-kambingnya yang ratusan itu. Setiap hari begitulah pekerjaannya, pagi hari membawa kambing-kambing itu, melepaskan di padang rumput, sore hari dikumpulkan dan dibawa pulang. Suatu hari ia terjebak dengan perbuatan iseng hanya karena dilanda kesepian, diam sendiri di padang rumput yang maha luas itu. Terpikir olehnya bagaimana kalau berteriak minta tolong, seolah-olah ia didatangi oleh srigala. Ia pun melakukannya. Ia berteriak lantang.
“Tolong…tolong ! Ada srigala. Tolong aku, kambing-kambingku dimakannya. Tolong...”
Rupanya beberapa orang dari kampung terdekat bisa mendengar suara gembala yang minta tolong tersebut. Berbondong-bondonglah penduduk desa itu menuju padang rumput untuk menolong si gembala. Betapa anehnya ketika mereka tiba ke padang rumput melihat si gembala sedang tiduran, kambing-kambingnya berkeliaran dengan damai, dan tak tanda-tanda bekas kedatangan srigala.
“Hai, gembala, benarkah kau akan diterkam srigala ?” tanya salah seorang penduduk desa yang hendak menolongnya.
“Oh, tidak, tidak ada srigala di sini.”
“Lalu siapa yang teriak minta tolong tadi ?”
“Oh, itu memang aku. Aku sengaja teriak minta tolong untuk menguji apakah penduduk desa di sini masih peduli pada seorang gembala atau tidak. Aku khawatir diam di sini sendirian. Kalau memang benar-benar ada srigala dan tidak ada yang peduli menolongku, bagaimana nasibku nanti ?”
Mendengar alasan gembala yang memang masuk akal itu, penduduk desa hanya saling pandang kemudian satu persatu pulang meninggalkan sang gembala. Sementara itu si gembala sendiri hanya tersenyum puas karena telah berhasil mengelabui mereka.
Selang beberapa hari, si gembala melakukan hal yang sama. Ia teriak nyaring meminta tolong kepada penduduk desa. Beberapa orang yang mendengarnya sempat ragu-ragu, jangan-jangan si gembala itu berbohong lagi dan hanya akan mengelabui mereka. Dari sepuluh orang yang mendengar, lima orang diantaranya memutuskan untuk tidak menolong dan mengabaikan teriakan si gembala itu karena khawatir terkelabui untuk kedua kalinya. Sementara lima orang yang lain dengan ragu-ragu akhirnya datang untuk menolong. Apalagi ketika teriakan itu makin lama terdengar makin sayup-sayup. Mereka menyangka tentu srigala itu telah demikian buas memangsa kambing-kambing si gembala. Kelima orang itu kendati tetap ragu-ragu akhirnya datang juga ke padang rumput tempat si gembala menggembalakan kambing-kambingnya.
Namun betapa kecewanya ketika di padang rumput ia melihat si gembala sedang menyantap bekalnya. Dengan emosi salah seorang dari kelima penduduk desa itu mendekati si gembala. Dengan menjambak leher, penduduk desa itu menghardik.
“Sialan kamu ! Sudah dua kali mengelabui kami. Apa maksud kamu sebenarnya bangsat !”
“Aku...aku tadi seperti melihat srigala. Sumpah, aku seperti melihat srigala itu datang dari sudut sana. Aku khawatir sekali. Sebelum srigala itu datang, aku cepat-cepat teriak minta tolong,” jelas si gembala dengan gemetaran.
“Aku tidak percaya. Kau hanya sedang bermain-main,” teriak yang lain. Lalu mereka meninggalkan si gembala dengan perasaan jengkel.
Pada suatu hari ketika belasan penduduk desa sedang berkumpul, lagi-lagi mereka mendengar teriak si gembala. Teriakan itu terdengar timbul tenggelam bahkan terasa menyayat hati. Sesekali teriakan itu seperti sedang menahan sakit. Namun tak ada seorang pun dari penduduk desa itu yang bersedia menolongnya. Mereka menyangka pasti si gembala itu sedang bermain-main dan mereka tak mau kena tipu untuk ketiga kalinya. Padahal sesungguhnya saat itu si gembala sedang berjuang dengan maut karena sedang diterkam srigala. Beberapa saat kemudian seorang pencari rumput menemukan si gembala meninggal dengan mengerikan.
Mendengar kisah itu istri Her langsung menangis. Ia menyesal sekali telah berbohong dan bermain-main dengan sumpah. Mendengar pengakuan istrinya seperti itu Her tidak bisa berbuat apa-apa. Mau marah, malu dengan pak Ustadz. Dibiarkan begitu saja jelas hatinya terasa tercabik-cabik. Akhirnya ia pamit pada ustadz dan samasekali tidak mempedulikan istrinya.
***
Dalam sebuah pelantikan pejabat selalu dilakukan sumpah jabatan. Maksudnya sebagai bukti bahwa ia akan memegang amanat jabatan itu untuk digunakan sesuai dengan proporsinya. Sumpah jabatan mengandung sebuah semangat spiritual yang tinggi. Sumpah jabatan menjadi salah bukti kesungguhan pejabat tadi agar tidak menyalahgunakan jabatan. Kalau kemudian pejabat tadi terbukti menyalahgunakan jabatan, terbukti mengingkari jabatannya itu, tentu bukan sumpah jabatan yang salah tapi individu pejabatan itulah yang salah.
Ketika dua orang bertengkar atau cekcok, tak ada yang mau disalahkan. Jalan tengah biasanya ditempuh dengan menyuruh keduanya untuk bersumpah. Sumpah seperti ini menjadi sebuah cara pembuktikan sosial kepada satu sama lain tentang perbuatan yang dituduhkan kepada dirinya itu tidak benar. Kalau kemudian di akhir hari ketahuan bahwa para pelaku sumpah tadi salah, tentu bukan sumpahnya yang salah melainkan masing-masing individu itulah yang ingkar. Individu tadi dengan sengaja telah melakukan pembohongan publik. Bohong atas sumpahnya sendiri.
Ketika seseorang dituduh mencuri, ia tidak akan dipercaya begitu saja dengan hanya mengaku tidak mencuri. Orang yang menuduh mencuri biasanya secara psikologis akan berubah manakala pencuri itu berani bersumpah. Namun demikian ketika ketahuan ternyata sumpahnya bohong, tentu saja bukan sumpahnya yang salah tapi pencuri itu yang salah. Dia telah berani bermain-main dengan sumpah.
Ketika sumpah dijadikan pembelaan dan hanya untuk bermain-main, maka nilai sumpah terasa menjadi hambar dan tidak bernilai. Kenyataan seperti itulah yang dirasakan Her belakangan ini. Padahal saat ini ia justru sedang dihadapkan pada kondisi yang serba sulit. Bayangkan saja, istrinya diduga berselingkuh. Beberapa bukti dari omongan tetangga telah dikantongi. Hanya saja Her sendiri belum menangkap basah kelakuan istrinya itu. Tapi ketika dikonfirmasi, istrinya tetap bersikeras mengaku tidak selingkuh. Bahkan ketika diajak bicara baik-baik dengan mengumpulkan kedua keluarga, istrinya tetap bersikeras kalau ia tidak berbuat. Ia samasekali tidak selingkuh. Ketika pamannya menyuruh keluar dari pekerjaanya, istri Her dengan enteng mau menerima.
“Kalau memang sumber tuduhan selingkuh itu karena saya bekerja, sehingga punya keleluasaan untuk berselingkuh, saat ini juga saya bersedia keluar kerja. Tapi tentu saja jangan konyol. Saya mau keluar kerja kalau memang mas Her telah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” jelas istri Her.
“Bagaimana Her, kau sanggup ? Inilah salah satu cara untuk membuktikan benar tidaknya omongan tetangga dan tuduhan kamu bahwa istrimu tidak selingkuh,” urai sang paman. Her berpikir. Selama ini ia memang telah bekerja keras, kendati kebutuhan rumah tangganya masih saja belum tercukupi. Dari sanalah pertimbangan sang istri kenapa ia mau bekerja.
Pertemuan itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Isu bahwa istri Her berselingkuh semakin santer. Istri Her sendiri tetap bersikeras tidak mau mengaku. Pada suatu hari Her mengajak istrinya menemui seorang ustadz. Di hadapan sang ustadz Her bicara panjang lebar:
“Begitulah, pak Ustadz, saya memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah ini ?” keluh Her. Pak Ustadz hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu ia cerita tentang bagaimana kebohongan itu bisa berakhir dengan sebuah kecelakaan. Apalagi kalau berbohong dengan cara bersumpah, tentu akan lebih rugi lagi akibatnya. Kebohongan yang terus-menerus akan membuat ia tidak dipercaya lagi, demikian pula dengan orang yang senang bermain-main dengan sumpah, tidak akan dipercaya lagi sumpahnya. Kendati pada suatu hari ia benar-benar bersumpah dengan segala kesungguhan, sumpah itu tetap saja menjadi tidak bernilai dan ia akan tetap dianggap bohong. Lalu ustadz itu mensitir sebuah kisah.
Pada suatu masa, katanya, ada seorang gembala kambing. Ia biasa menggembalakan kambing itu jauh keluar kampung. Di sebuah padang rumput yang maha luas, di sanalah ia melepas kambing-kambingnya yang ratusan itu. Setiap hari begitulah pekerjaannya, pagi hari membawa kambing-kambing itu, melepaskan di padang rumput, sore hari dikumpulkan dan dibawa pulang. Suatu hari ia terjebak dengan perbuatan iseng hanya karena dilanda kesepian, diam sendiri di padang rumput yang maha luas itu. Terpikir olehnya bagaimana kalau berteriak minta tolong, seolah-olah ia didatangi oleh srigala. Ia pun melakukannya. Ia berteriak lantang.
“Tolong…tolong ! Ada srigala. Tolong aku, kambing-kambingku dimakannya. Tolong...”
Rupanya beberapa orang dari kampung terdekat bisa mendengar suara gembala yang minta tolong tersebut. Berbondong-bondonglah penduduk desa itu menuju padang rumput untuk menolong si gembala. Betapa anehnya ketika mereka tiba ke padang rumput melihat si gembala sedang tiduran, kambing-kambingnya berkeliaran dengan damai, dan tak tanda-tanda bekas kedatangan srigala.
“Hai, gembala, benarkah kau akan diterkam srigala ?” tanya salah seorang penduduk desa yang hendak menolongnya.
“Oh, tidak, tidak ada srigala di sini.”
“Lalu siapa yang teriak minta tolong tadi ?”
“Oh, itu memang aku. Aku sengaja teriak minta tolong untuk menguji apakah penduduk desa di sini masih peduli pada seorang gembala atau tidak. Aku khawatir diam di sini sendirian. Kalau memang benar-benar ada srigala dan tidak ada yang peduli menolongku, bagaimana nasibku nanti ?”
Mendengar alasan gembala yang memang masuk akal itu, penduduk desa hanya saling pandang kemudian satu persatu pulang meninggalkan sang gembala. Sementara itu si gembala sendiri hanya tersenyum puas karena telah berhasil mengelabui mereka.
Selang beberapa hari, si gembala melakukan hal yang sama. Ia teriak nyaring meminta tolong kepada penduduk desa. Beberapa orang yang mendengarnya sempat ragu-ragu, jangan-jangan si gembala itu berbohong lagi dan hanya akan mengelabui mereka. Dari sepuluh orang yang mendengar, lima orang diantaranya memutuskan untuk tidak menolong dan mengabaikan teriakan si gembala itu karena khawatir terkelabui untuk kedua kalinya. Sementara lima orang yang lain dengan ragu-ragu akhirnya datang untuk menolong. Apalagi ketika teriakan itu makin lama terdengar makin sayup-sayup. Mereka menyangka tentu srigala itu telah demikian buas memangsa kambing-kambing si gembala. Kelima orang itu kendati tetap ragu-ragu akhirnya datang juga ke padang rumput tempat si gembala menggembalakan kambing-kambingnya.
Namun betapa kecewanya ketika di padang rumput ia melihat si gembala sedang menyantap bekalnya. Dengan emosi salah seorang dari kelima penduduk desa itu mendekati si gembala. Dengan menjambak leher, penduduk desa itu menghardik.
“Sialan kamu ! Sudah dua kali mengelabui kami. Apa maksud kamu sebenarnya bangsat !”
“Aku...aku tadi seperti melihat srigala. Sumpah, aku seperti melihat srigala itu datang dari sudut sana. Aku khawatir sekali. Sebelum srigala itu datang, aku cepat-cepat teriak minta tolong,” jelas si gembala dengan gemetaran.
“Aku tidak percaya. Kau hanya sedang bermain-main,” teriak yang lain. Lalu mereka meninggalkan si gembala dengan perasaan jengkel.
Pada suatu hari ketika belasan penduduk desa sedang berkumpul, lagi-lagi mereka mendengar teriak si gembala. Teriakan itu terdengar timbul tenggelam bahkan terasa menyayat hati. Sesekali teriakan itu seperti sedang menahan sakit. Namun tak ada seorang pun dari penduduk desa itu yang bersedia menolongnya. Mereka menyangka pasti si gembala itu sedang bermain-main dan mereka tak mau kena tipu untuk ketiga kalinya. Padahal sesungguhnya saat itu si gembala sedang berjuang dengan maut karena sedang diterkam srigala. Beberapa saat kemudian seorang pencari rumput menemukan si gembala meninggal dengan mengerikan.
Mendengar kisah itu istri Her langsung menangis. Ia menyesal sekali telah berbohong dan bermain-main dengan sumpah. Mendengar pengakuan istrinya seperti itu Her tidak bisa berbuat apa-apa. Mau marah, malu dengan pak Ustadz. Dibiarkan begitu saja jelas hatinya terasa tercabik-cabik. Akhirnya ia pamit pada ustadz dan samasekali tidak mempedulikan istrinya.
***
Selasa, 03 Mei 2016
SUSUK SI MANIS
Oleh : E. Rokajat Asura
Sebagai seorang penyanyi Dangdut, Mirna tak seberuntung Evi Tamala. Ia juga tak sehebat Iis Dahlia. Mirna masih untuk kelas daerah, sementara Evi Tamala dan Iis Dahlia tingkat nasional. Tapi cita-cita untuk jadi seorang penyanyi hebat, barangkali lebih dari Iis Dahlia dan Evi Tamala. Mirna lahir dan besar di kota kelahirannya, jauh dari hiruk-pikuknya kota Jakarta. Bukan tak ada niat hijrah ke ibukota, tapi tak punya keberanian dan tak mendapat restu dari kedua orang tuanya.
Padahal dilihat dari suaranya yang merdu, mestinya Mirna bisa jadi penyanyi Dangdut hebat. Paling tidak sudah harus masuk ke dapur rekaman. Ia memang selama ini sering masuk dapur, tapi bukan untuk rekaman. Ia masuk dapur untuk bikin sayur dan sambel pete. Kasihan Mirna. Ia punya kemampuan, tapi tak ada hokki. Padahal kedua orang tuanya sejak kecil sudah membantu agar Mirna bernasib mujur. Konon, ketika memberi nama, kedua orang tuanya telah menghitung agar jatuh pada ‘naptu’ yang baik. Kemudian menjelang remaja, selalu disuruh mandi air kembang. Tapi itulah nasib yang belum berpihak pada Mirna. Ia hanya jadi penyanyi Dangdut dari satu hajatan kecil ke hajatan kecil lainnya, hanya manggung dari satu kampung ke kampung lainnya, dengan bayaran alakadarnya pula.
Suatu hari ia pernah mendengar teman-teman sebaya bercerita tentang penggunaan susuk. Tidak hanya satu orang temannya yang mengaku pernah menggunakan susuk. Bahkan ia sendiri mengantarkan temannya ke seorang yang ahli di bidang susuk. Susuk itu dimaksudkan agar orang lain senang dan memiliki sifat pengasihan.
Dari sekian banyak temannya yang menggunakan susuk, semuanya mengakui akan keberhasilannya. Melihat keberhasilan itu, Mirna menjadi tertarik untuk menggunakan susuk. Namun yang menjadi persoalan adalah dana. Dana untuk memasang susuk ke tempat orang pintar temannya itu cukup mahal. Sementara itu Mirna, bukan tergolong orang berada, tidak akan mampu membayarnya. Jangankan untuk membiayai susuk, untuk makan saja, orang tuanya sudah kewalahan.
Bagi Mirna susuk adalah sebuah cara agar ia cepat memperoleh ketenaran. Terdorong oleh keinginan menyenangkan keluarga, akhirnya ia berusaha mencari uang yang diperlukan untuk membiayai susuk. Ia pergi ke teman dekatnya, tapi tidak juga ada yang mau memberi pinjaman. Padahal ketika bertanya pada orang pinter, memang disebutkan kalau ingin maju, Mirna harus segera punya penglaris. Mendengar keterangan orang pinter tersebut, baik Mirna maupun kedua orang tuanya sama-sama setuju.
“Mestinya bapak usaha, bantu Mirna, agar jadi laris !” desak ibu Mirna.
“Ya, aku juga sedang berpikir seperti itu. Tapi harus usaha apalagi ? Kau barangkali punya simpanan barang sedikit, Mir ?” bapaknya berpaling pada Mirna, yang baru saja meminum wedang jahe dan ramuan tradisional lainnya untuk menghaluskan suara.
“Ya, bapak, aku punya simpanan dari mana ? Honor setiap manggung kan selalu dikasihkan sama bapak. Aku hanya minta sisanya untuk beli bedak dan lipstik. Itu saja !”
Mendengar jawaban Mirna seperti itu, ketiganya merenung. Memang sulit mencari uang untuk membayar maskawin, agar Mirna ditanami susuk. Biar laris. Kalaulah sudah laris, tentu harapan untuk menembus dunia rekamanan akan jauh lebih gampang.
Seminggu setelah pembicaraan itu, akhirnya bapak Mirna mendapat pinjaman dari seorang rentenir. Maka berangkatlah Mirna bersama bapaknya ke orang pinter, yang katanya bisa menanamkan susuk dengan harga maskawin yang tidak terlalu besar.
Menurut orang pinter, susuk itu harus ditanam di paha dan pantat. Awalnya Mirna ngeri juga. Masak harus dipasang di paha dan pantat, protesnya. Kedua tempat itu kan termasuk daerah rawan. Tapi ketika orang pinter itu menyebutkan bahwa di kedua tempat tersebut merupakan tempat yang paling cocok, akhirnya Mirna mengalah. Di paha dan pantatnya sekarang dipasang susuk. Entah bagaimana cara memasangnya, Mirna sendiri tak memperhatikan dengan jelas. Ia sendiri merasa risih, ada yang memegang paha dan pantatnya.
Setelah menggunakan susuk, Mirna jadi lebih lincah di atas panggung. Ia jadi semakin dahsyat goyangnya, dan selalu mengumbar senyum pada siapapun. Sejak saat itu ia jadi semakin laris. Kini tidak hanya dikenal di kampung-kampung, tapi juga telah merambah ke kota kecamatan bahkan pernah beberapa kali manggung di kabupaten. Sekali waktu pernah manggung bersama artis dangdut ibukota atas undangan satu partai politik. Tentu saja Mirna dan orang tuanya semakin bahagia. Paling tidak pemasukan dari hasil menyanyi itu semakin banyak.
“Kamu sekarang jadi hebat. Susuk itu benar-benar ampuh ya, Mir ?” tanya bapaknya suatu hari saat Mirna kosong tidak manggung.
“Lha, iya, dong, Pak, buktinya aku semakin laris !” Mirna tersenyum.
“Syukurlah !” ibunya ikut bicara.
Begitulah roda keberuntungan sekarang sedang berada di tangan Mirna. Setiap manggung selalu banyak penonton. Tidak aneh kalau Mirna semakin banyak diundang, dan semakin laris. Suatu hari ia harus manggung di salah satu hajatan orang kaya di kampungnya. Tidak tanggung-tanggung, Mirna dan grup Dangdut yang membawanya manggung sejak pagi sampai sore, kemudian disambung lagi dari sehabis Isya sampai tengah malam. Nah, ketika break Mirna dan kawan-kawan makan sepuasnya. Segala makanan disodorkan. Maklum untuk menjamu artis terkenal. Saat makan itulah, entah kenapa Mirna begitu tertarik sama jengkol.
“Hati-hati, Mir, jangan terlalu banyak makan sambel. Apalagi makan jengkol bisa-bisa suaramu parau, susah nanti malam nggak bisa nyanyi lama.” Pemimpin grup Dangdut itu memberi saran. Mirna mengangguk. Ia terus makan dengan lahapnya. Beberapa buah jengkol itu dicocolkan ke sambel dan dilahapnya dengan nikmat. Selesai makan Mirna mulas-mulas. Tentu saja grup Dangdut dan empunya hajat jadi kalang kabut. Bagaimana kalau Mirna nanti malam tak bisa nyanyi, gara-gara terus pingin ke belakang. Padahal berita Mirna akan manggung malam nanti, sudah tersebar kemana-mana. Berbagai upaya dilakukan, tapi tetap saja, setiap sepuluh menit Mirna harus ke belakang, mencret-mencret sampai-sampai wajahnya nampak pucat. Beruntung ada seorang dukun pinter, ngasih resep, dan setelah ke belakang untuk terakhir kalinya Mirna sembuh.
Malampun tiba dan Mirna manggung dengan sangat memukau. Siapa yang akan menyangka kalau beberapa jam sebelum manggung, artis itu mencret-mencret. Tepukan demi tepukan terus menggema, suitan dan sawer terus mengalir. Semakin malam semakin dahsyat. Mungkin karena kecapekan, setelah pentas itu dikabarkan Mirna sakit. Acara manggung pun banyak yang ia batalkan.
Selang beberapa Minggu, tawaran jadi sepi kembali. Mirna curiga jangan-jangan susuknya sudah mulai kurang ampuh. Akhirnya Mirna pergi ke orang pinter yang ngasihnya. Tapi betapa kagetnya ia, karena ternyata orang pinter yang menanamkan susuk itu sudah tidak ada di rumahnya. Rumahnya disita polisi dan ia sendiri harus ditahan. Tuduhanya terbukti, ia dengan sengaja memasang susuk palsu. Ternyata yang selama ini ia pasangkan bukan intan, tapi hanya perhiasan sepuhan. Konon kalau tidak cocok bisa membahayakan. Mirna dan ayahnya tentu saja kaget. Kenapa bisa terjadi demikian. Kalau memang palsu, kenapa Mirna jadi laris ?
Masih dengan tanda tanya, mereka akhirnya pulang. Di sebuah korban diberitakan, seorang pemasang susuk yang tengah diperiksa polisi mengaku jujur, ia selalu memasang susuk di paha dan pantat karena ingin melihat daerah sensitif secara leluasa. Sialan ! Mirna benar-benar mengumpat. Lebih kaget lagi ketika ia datang kepada orang pinter yang lain, ternyata susuk yang ditanam di paha dan pantatnya itu samasekali bukan susuk selain sebuah paku payung. Kalau tetap dibiarkan bisa berkarat dan membahayakan keselamatannya. Akhirnya susuk itu dicabut.
Mirna terus menyesal. Kalau memang susuk itu susuk palsu, kenapa ia selama ini laris ? Barangkali Mirna lupa. Setelah ia dipasang susuk, muncul keberanian yang luar biasa. Dengan keberanian itu pula ia tak sungkan untuk goyang, dan bisa mengeluarkan suara emasnya dengan leluasa. Apa karena kebebasan bernyanyi dan bergoyang itu yang memuaskan penonton ?
***
Sebagai seorang penyanyi Dangdut, Mirna tak seberuntung Evi Tamala. Ia juga tak sehebat Iis Dahlia. Mirna masih untuk kelas daerah, sementara Evi Tamala dan Iis Dahlia tingkat nasional. Tapi cita-cita untuk jadi seorang penyanyi hebat, barangkali lebih dari Iis Dahlia dan Evi Tamala. Mirna lahir dan besar di kota kelahirannya, jauh dari hiruk-pikuknya kota Jakarta. Bukan tak ada niat hijrah ke ibukota, tapi tak punya keberanian dan tak mendapat restu dari kedua orang tuanya.
Padahal dilihat dari suaranya yang merdu, mestinya Mirna bisa jadi penyanyi Dangdut hebat. Paling tidak sudah harus masuk ke dapur rekaman. Ia memang selama ini sering masuk dapur, tapi bukan untuk rekaman. Ia masuk dapur untuk bikin sayur dan sambel pete. Kasihan Mirna. Ia punya kemampuan, tapi tak ada hokki. Padahal kedua orang tuanya sejak kecil sudah membantu agar Mirna bernasib mujur. Konon, ketika memberi nama, kedua orang tuanya telah menghitung agar jatuh pada ‘naptu’ yang baik. Kemudian menjelang remaja, selalu disuruh mandi air kembang. Tapi itulah nasib yang belum berpihak pada Mirna. Ia hanya jadi penyanyi Dangdut dari satu hajatan kecil ke hajatan kecil lainnya, hanya manggung dari satu kampung ke kampung lainnya, dengan bayaran alakadarnya pula.
Suatu hari ia pernah mendengar teman-teman sebaya bercerita tentang penggunaan susuk. Tidak hanya satu orang temannya yang mengaku pernah menggunakan susuk. Bahkan ia sendiri mengantarkan temannya ke seorang yang ahli di bidang susuk. Susuk itu dimaksudkan agar orang lain senang dan memiliki sifat pengasihan.
Dari sekian banyak temannya yang menggunakan susuk, semuanya mengakui akan keberhasilannya. Melihat keberhasilan itu, Mirna menjadi tertarik untuk menggunakan susuk. Namun yang menjadi persoalan adalah dana. Dana untuk memasang susuk ke tempat orang pintar temannya itu cukup mahal. Sementara itu Mirna, bukan tergolong orang berada, tidak akan mampu membayarnya. Jangankan untuk membiayai susuk, untuk makan saja, orang tuanya sudah kewalahan.
Bagi Mirna susuk adalah sebuah cara agar ia cepat memperoleh ketenaran. Terdorong oleh keinginan menyenangkan keluarga, akhirnya ia berusaha mencari uang yang diperlukan untuk membiayai susuk. Ia pergi ke teman dekatnya, tapi tidak juga ada yang mau memberi pinjaman. Padahal ketika bertanya pada orang pinter, memang disebutkan kalau ingin maju, Mirna harus segera punya penglaris. Mendengar keterangan orang pinter tersebut, baik Mirna maupun kedua orang tuanya sama-sama setuju.
“Mestinya bapak usaha, bantu Mirna, agar jadi laris !” desak ibu Mirna.
“Ya, aku juga sedang berpikir seperti itu. Tapi harus usaha apalagi ? Kau barangkali punya simpanan barang sedikit, Mir ?” bapaknya berpaling pada Mirna, yang baru saja meminum wedang jahe dan ramuan tradisional lainnya untuk menghaluskan suara.
“Ya, bapak, aku punya simpanan dari mana ? Honor setiap manggung kan selalu dikasihkan sama bapak. Aku hanya minta sisanya untuk beli bedak dan lipstik. Itu saja !”
Mendengar jawaban Mirna seperti itu, ketiganya merenung. Memang sulit mencari uang untuk membayar maskawin, agar Mirna ditanami susuk. Biar laris. Kalaulah sudah laris, tentu harapan untuk menembus dunia rekamanan akan jauh lebih gampang.
Seminggu setelah pembicaraan itu, akhirnya bapak Mirna mendapat pinjaman dari seorang rentenir. Maka berangkatlah Mirna bersama bapaknya ke orang pinter, yang katanya bisa menanamkan susuk dengan harga maskawin yang tidak terlalu besar.
Menurut orang pinter, susuk itu harus ditanam di paha dan pantat. Awalnya Mirna ngeri juga. Masak harus dipasang di paha dan pantat, protesnya. Kedua tempat itu kan termasuk daerah rawan. Tapi ketika orang pinter itu menyebutkan bahwa di kedua tempat tersebut merupakan tempat yang paling cocok, akhirnya Mirna mengalah. Di paha dan pantatnya sekarang dipasang susuk. Entah bagaimana cara memasangnya, Mirna sendiri tak memperhatikan dengan jelas. Ia sendiri merasa risih, ada yang memegang paha dan pantatnya.
Setelah menggunakan susuk, Mirna jadi lebih lincah di atas panggung. Ia jadi semakin dahsyat goyangnya, dan selalu mengumbar senyum pada siapapun. Sejak saat itu ia jadi semakin laris. Kini tidak hanya dikenal di kampung-kampung, tapi juga telah merambah ke kota kecamatan bahkan pernah beberapa kali manggung di kabupaten. Sekali waktu pernah manggung bersama artis dangdut ibukota atas undangan satu partai politik. Tentu saja Mirna dan orang tuanya semakin bahagia. Paling tidak pemasukan dari hasil menyanyi itu semakin banyak.
“Kamu sekarang jadi hebat. Susuk itu benar-benar ampuh ya, Mir ?” tanya bapaknya suatu hari saat Mirna kosong tidak manggung.
“Lha, iya, dong, Pak, buktinya aku semakin laris !” Mirna tersenyum.
“Syukurlah !” ibunya ikut bicara.
Begitulah roda keberuntungan sekarang sedang berada di tangan Mirna. Setiap manggung selalu banyak penonton. Tidak aneh kalau Mirna semakin banyak diundang, dan semakin laris. Suatu hari ia harus manggung di salah satu hajatan orang kaya di kampungnya. Tidak tanggung-tanggung, Mirna dan grup Dangdut yang membawanya manggung sejak pagi sampai sore, kemudian disambung lagi dari sehabis Isya sampai tengah malam. Nah, ketika break Mirna dan kawan-kawan makan sepuasnya. Segala makanan disodorkan. Maklum untuk menjamu artis terkenal. Saat makan itulah, entah kenapa Mirna begitu tertarik sama jengkol.
“Hati-hati, Mir, jangan terlalu banyak makan sambel. Apalagi makan jengkol bisa-bisa suaramu parau, susah nanti malam nggak bisa nyanyi lama.” Pemimpin grup Dangdut itu memberi saran. Mirna mengangguk. Ia terus makan dengan lahapnya. Beberapa buah jengkol itu dicocolkan ke sambel dan dilahapnya dengan nikmat. Selesai makan Mirna mulas-mulas. Tentu saja grup Dangdut dan empunya hajat jadi kalang kabut. Bagaimana kalau Mirna nanti malam tak bisa nyanyi, gara-gara terus pingin ke belakang. Padahal berita Mirna akan manggung malam nanti, sudah tersebar kemana-mana. Berbagai upaya dilakukan, tapi tetap saja, setiap sepuluh menit Mirna harus ke belakang, mencret-mencret sampai-sampai wajahnya nampak pucat. Beruntung ada seorang dukun pinter, ngasih resep, dan setelah ke belakang untuk terakhir kalinya Mirna sembuh.
Malampun tiba dan Mirna manggung dengan sangat memukau. Siapa yang akan menyangka kalau beberapa jam sebelum manggung, artis itu mencret-mencret. Tepukan demi tepukan terus menggema, suitan dan sawer terus mengalir. Semakin malam semakin dahsyat. Mungkin karena kecapekan, setelah pentas itu dikabarkan Mirna sakit. Acara manggung pun banyak yang ia batalkan.
Selang beberapa Minggu, tawaran jadi sepi kembali. Mirna curiga jangan-jangan susuknya sudah mulai kurang ampuh. Akhirnya Mirna pergi ke orang pinter yang ngasihnya. Tapi betapa kagetnya ia, karena ternyata orang pinter yang menanamkan susuk itu sudah tidak ada di rumahnya. Rumahnya disita polisi dan ia sendiri harus ditahan. Tuduhanya terbukti, ia dengan sengaja memasang susuk palsu. Ternyata yang selama ini ia pasangkan bukan intan, tapi hanya perhiasan sepuhan. Konon kalau tidak cocok bisa membahayakan. Mirna dan ayahnya tentu saja kaget. Kenapa bisa terjadi demikian. Kalau memang palsu, kenapa Mirna jadi laris ?
Masih dengan tanda tanya, mereka akhirnya pulang. Di sebuah korban diberitakan, seorang pemasang susuk yang tengah diperiksa polisi mengaku jujur, ia selalu memasang susuk di paha dan pantat karena ingin melihat daerah sensitif secara leluasa. Sialan ! Mirna benar-benar mengumpat. Lebih kaget lagi ketika ia datang kepada orang pinter yang lain, ternyata susuk yang ditanam di paha dan pantatnya itu samasekali bukan susuk selain sebuah paku payung. Kalau tetap dibiarkan bisa berkarat dan membahayakan keselamatannya. Akhirnya susuk itu dicabut.
Mirna terus menyesal. Kalau memang susuk itu susuk palsu, kenapa ia selama ini laris ? Barangkali Mirna lupa. Setelah ia dipasang susuk, muncul keberanian yang luar biasa. Dengan keberanian itu pula ia tak sungkan untuk goyang, dan bisa mengeluarkan suara emasnya dengan leluasa. Apa karena kebebasan bernyanyi dan bergoyang itu yang memuaskan penonton ?
***
Jumat, 22 April 2016
KEPADA SIAPA KITA BERGANTUNG
Cermin oleh : E. Rokajat Asura
Dengan kekayaan yang dimilikinya, Samsul banyak dikagumi orang. Sebagai seorang pemimpin di daerahnya, ia memang menjadi panutan siapa saja. Kalau ada orang yang butuh bantuan, silakan datang kepadanya pasti akan dibantu. Kalau ada yang sakit dan tidak punya uang untuk berobat, jangan kemana-mana, temui saja Samsul, semuanya akan beres seketika. Apalagi kalau butuh bantuan untuk masjid, jalan kampung atau urusan yang menyangkut kepentingan umum, Samsul telah menyediakan dana khusus untuk semua itu.
Selama Samsul jadi pemimpin memang semua merasakan enaknya, semua merasakan bagaimana mudahnya menyelesaikan masalah. Tapi sayang, Samsul tak lama menjadi pemimpin daerah itu. Karena satu dan lain hal, ia diturunkan dari jabatannya. Sekarang Samsul memang lantas ditinggalkan oleh semua. Tak ada yang meminta bantuan ini-itu lagi. Ia hidup sendirian di rumahnya yang mewah. Tak ada lagi yang menghiraukan dia, kecuali anak dan istrinya.
Sekarang semua orang sedang terfokus pada Darma, pemimpin berikutnya. Ia memang tidak kaya dan royal seperti Samsul. Sebaliknya Darma seorang yang sederhana tapi cerdas. Dengan kecerdasannya itu semua masalah bisa diselesaikan, dari mulai biaya untuk berobat, masalah kelaparan sampai kepada urusan perbaikan masjid. Dengan kecerdasan Darma, semua bisa diatur. Maka tidak mengherankan kalau Darma selalu kedatangan banyak tamu dengan seribu satu masalah. Pulang dari rumah Darma semua bisa tertawa karena telah ditemukan cara menyelesaikan masalah itu.
***
Pada kesempatan lain Darma justru ditinggalkan banyak orang. Ketika label “pemimpin daerah” itu sudah tidak lagi ia pegang, Darma bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Nasibnya malang seperti Samsul. Ditinggalkan banyak teman dan tak pernah dikunjungi siapa-siapa. Sekarang ia hidup sepi bersama seorang istrinya.
Cerita justru sedang terfokus pada Badrul. Pemimpin baru. Ia tidak kaya dan royal, juga tidak begitu cerdas. Badrul naik menjadi pemimpin justru karena kesaktiannya. Konon ia punya sebilah keris dan beberapa ajimat dalam bentuk batu permata. Entah darimana benda keramat itu ia peroleh. Hanya yang jelas Badrul yakin benar kalau sesungguhnya dengan bantuan jimat-jimat itulah ia berhasil menjadi seorang pemimpin.
Ada anak muda tawuran langsung damai hanya karena diajak salaman oleh Badrul. Seorang pengusaha langsung mau mengeluarkan uang untuk perbaikan masjid dan jalan, gara-gara diajak salaman oleh Badrul. Seribu satu masalah yang muncul akan segera selesai, tuntas, kalau diselesaikan atau lebih tepatnya diajak salaman oleh Badrul. Luar biasa memang tangan Badrul ini, ibarat tangan emas yang akan merubah bongkahan batu hitam menjadi permata.
Tapi ketika semua ajimatnya itu hilang, seperti juga sebilah kerisnya yang raib entah kemana, lalu Badrul pun terpuruk sendiri. Ia hidup sepi dan menyendiri di sebuah pondok di ujung kampung. Tak ada teman, tak ada kerabat juga tak pernah ada seribu satu orang yang mengharap bantuannya lagi. Temannya sekarang hanyalah istri dan dua orang putranya yang masih kecil. Sedemikian cepat hilangnya jimat itu, secepat itu pula tampuk kepemimpinan hilang dari genggaman Badrul.
***
“Memilih pemimpin yang beruang, akan hilang ketika uangnya hilang. Memilih pemimpin cerdas, akan hilang ketika kecerdasan itu lenyap, dan memilih pemimpin yang punya ajimat pun sama ruginya ketika ajimat dan tetek bengek benda sakti itu raib entah kemana. Lalu siapa yang harus aku pilih,” begitulah pertanyaan yang selalu menggoda pikiran Karim, seorang sopir angkutan kota yang menghabiskan sebagian hidupnya di jalanan.
“Kau pilih saja seorang pemimpin yang menguntungkan bagimu,” usul Norma, istrinya.
“Dulu saya juga berpikiran begitu, tapi keuntungan itu selalu berubah setiap saat. Kalau sekarang saya merasa diuntungkan kalau ada yang memberi pinjaman uang untuk perbaikan angkot ini, lantas aku memilihnya sebagai pemimpin, bagaimana jadinya kalau besok ceritanya berubah lagi. Bagaimana kalau besok justru yang saya butuhkan adalah beberapa kilogram beras, apakah akan memilih tukang beras sebagai pemimpinku ?” sergah Karim.
Ditanya seperti itu Norma tidak bisa menjawab. Dari dulu memang selalu begitu, setiap harus memilih pemimpin, ia selalu bingung karena selalu berubah-ubah keinginannya termasuk juga berubah-ubahnya janji para calon pemimpin itu. Akhirnya keduanya diam dan melamun sampai akhirnya kantuk menyergapnya. Suami istri itu tertidur pulas.
Di dalam tidurnya Karim bermimpi bertemu seorang lelaki tua berjubah putih, wajahnya tenang, senyum selalu mengembang dari bibirnya. Pada mata lelaki tua itu ia melihat kedamaian terpancar. Inikah pemimpinku ? Begitu pertanyaan Karim.
“Dulu, nabi Ibrahim juga begitu sulit memilih siapa Tuhannya. Ketika melihat matahari di pagi hari, ia lalu mengatakan pada dirinya itulah tuhannya. Tapi ketika matahari tenggelam di ufuk barat, Ibrahim lalu kecewa. Tidak mau katanya punya tuhan yang hilang dan tenggelam,” cerita lelaki berjubah putih itu. Mendengar penjelasan seperti itu Karim jadi teringat akan keadaannya yang bingung kepada siapa ia harus menggantungkan diri.
“Begitu juga dengan keadaan saya, sepuh, bagaimana cara memilih seorang pemimpin ?”
“Pilihlah yang paling jujur. Jujur terhadap dirinya sendiri, jujur terhadap orang lain,” jelas lelaki berjubah putih itu.
“Jujur ? Bukankah semua orang selalu mengaku jujur kepada siapa saja yang diajaknya bicara ?”
“Benar, tapi kejujuran memang bukan untuk dikatakan, tapi akan terwujud dalam kelakuannya sehari-hari,” jelas lelaki berjubah putih itu lagi.
Obrolan itu terus berlangsung. Tapi ketika sedang asyik-asyiknya dialog, Karim dibangunkan karena adzan shubuh telah tiba. Angkutan kota miliknya itu harus segera dihidupkan, kemudian membawa sepuluh penumpang dari kampungnya menuju pasar, dan di sana ia akan mangkal sebentar, mengangkut beberapa pedagang yang selesai belanja, lalu mengakut anak-anak sekolah. Demikian roda kehidupan Karim terus berputar.
Diantara penumpang yang ia temui siang itu, tak ada seorang pun yang layak dijadikan pemimpin, karena rata-rata tidak jujur. Kebanyakan penumpang menyebutkan jarak terdekat padahal sebenarnya tujuannya bukan ke sana, lebih jauh dari yang disebutkan. Artinya kebanyakan para penumpang itu memang tidak jujur.
Lalu ketika ia makan di warung tegal, ia juga tidak menemukan kejujuran di tukang warung itu. Pada Karim wanita gembrot itu bicara kalau sayurnya tidak pedas, tapi ketika Karim memakannya justru terasa sangat pedas. Ketika dikomplain, pedagang itu dengan enteng bicara, pedas yang dirasakan Karim seperti itu tidak termasuk pedas, katanya.
Ketika ia kembali ke rumah dengan pencarian yang tak usai, Karim bercengkrama dengan anaknya yang masih berusia empat tahun. Ketika diberikan permen, anaknya itu menolak dengan menggelengkan kepala karena di tangannya memang ada satu permen. Lalu sebentar kemudian anaknya itu menangis dan mengatakan mau pipis. Ketika dibawa ke kamar mandi, anak itu lantas pipis. Ketika ia lapar, anak itu juga menangis dan bilang mau makan. Ketika diberi makan, ia akan diam bahkan seringnya langsung tidur. Pada anaknya itulah Karim menemukan kejujuran. Tapi apakah anaknya itu yang harus dipilih sebagai pemimpin, tempat ia menggantungkan kehidupan ini ?
Karim bingung sendiri karena tak mungkin menjadikan anak terkecilnya sebagai pemimpin. Sayang, Karim sepertinya lupa bahwa anak kecil seperti itu memang selalu jujur karena masih ada dalam genggaman kesucian Allah SWT. Jadi selayaknya pada pemilik kekuasaan tertinggi itulah kita menggantungkan diri dan menjadikan Dia sebagai pemimpin kehidupan ini.
***
Dengan kekayaan yang dimilikinya, Samsul banyak dikagumi orang. Sebagai seorang pemimpin di daerahnya, ia memang menjadi panutan siapa saja. Kalau ada orang yang butuh bantuan, silakan datang kepadanya pasti akan dibantu. Kalau ada yang sakit dan tidak punya uang untuk berobat, jangan kemana-mana, temui saja Samsul, semuanya akan beres seketika. Apalagi kalau butuh bantuan untuk masjid, jalan kampung atau urusan yang menyangkut kepentingan umum, Samsul telah menyediakan dana khusus untuk semua itu.
Selama Samsul jadi pemimpin memang semua merasakan enaknya, semua merasakan bagaimana mudahnya menyelesaikan masalah. Tapi sayang, Samsul tak lama menjadi pemimpin daerah itu. Karena satu dan lain hal, ia diturunkan dari jabatannya. Sekarang Samsul memang lantas ditinggalkan oleh semua. Tak ada yang meminta bantuan ini-itu lagi. Ia hidup sendirian di rumahnya yang mewah. Tak ada lagi yang menghiraukan dia, kecuali anak dan istrinya.
Sekarang semua orang sedang terfokus pada Darma, pemimpin berikutnya. Ia memang tidak kaya dan royal seperti Samsul. Sebaliknya Darma seorang yang sederhana tapi cerdas. Dengan kecerdasannya itu semua masalah bisa diselesaikan, dari mulai biaya untuk berobat, masalah kelaparan sampai kepada urusan perbaikan masjid. Dengan kecerdasan Darma, semua bisa diatur. Maka tidak mengherankan kalau Darma selalu kedatangan banyak tamu dengan seribu satu masalah. Pulang dari rumah Darma semua bisa tertawa karena telah ditemukan cara menyelesaikan masalah itu.
***
Pada kesempatan lain Darma justru ditinggalkan banyak orang. Ketika label “pemimpin daerah” itu sudah tidak lagi ia pegang, Darma bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Nasibnya malang seperti Samsul. Ditinggalkan banyak teman dan tak pernah dikunjungi siapa-siapa. Sekarang ia hidup sepi bersama seorang istrinya.
Cerita justru sedang terfokus pada Badrul. Pemimpin baru. Ia tidak kaya dan royal, juga tidak begitu cerdas. Badrul naik menjadi pemimpin justru karena kesaktiannya. Konon ia punya sebilah keris dan beberapa ajimat dalam bentuk batu permata. Entah darimana benda keramat itu ia peroleh. Hanya yang jelas Badrul yakin benar kalau sesungguhnya dengan bantuan jimat-jimat itulah ia berhasil menjadi seorang pemimpin.
Ada anak muda tawuran langsung damai hanya karena diajak salaman oleh Badrul. Seorang pengusaha langsung mau mengeluarkan uang untuk perbaikan masjid dan jalan, gara-gara diajak salaman oleh Badrul. Seribu satu masalah yang muncul akan segera selesai, tuntas, kalau diselesaikan atau lebih tepatnya diajak salaman oleh Badrul. Luar biasa memang tangan Badrul ini, ibarat tangan emas yang akan merubah bongkahan batu hitam menjadi permata.
Tapi ketika semua ajimatnya itu hilang, seperti juga sebilah kerisnya yang raib entah kemana, lalu Badrul pun terpuruk sendiri. Ia hidup sepi dan menyendiri di sebuah pondok di ujung kampung. Tak ada teman, tak ada kerabat juga tak pernah ada seribu satu orang yang mengharap bantuannya lagi. Temannya sekarang hanyalah istri dan dua orang putranya yang masih kecil. Sedemikian cepat hilangnya jimat itu, secepat itu pula tampuk kepemimpinan hilang dari genggaman Badrul.
***
“Memilih pemimpin yang beruang, akan hilang ketika uangnya hilang. Memilih pemimpin cerdas, akan hilang ketika kecerdasan itu lenyap, dan memilih pemimpin yang punya ajimat pun sama ruginya ketika ajimat dan tetek bengek benda sakti itu raib entah kemana. Lalu siapa yang harus aku pilih,” begitulah pertanyaan yang selalu menggoda pikiran Karim, seorang sopir angkutan kota yang menghabiskan sebagian hidupnya di jalanan.
“Kau pilih saja seorang pemimpin yang menguntungkan bagimu,” usul Norma, istrinya.
“Dulu saya juga berpikiran begitu, tapi keuntungan itu selalu berubah setiap saat. Kalau sekarang saya merasa diuntungkan kalau ada yang memberi pinjaman uang untuk perbaikan angkot ini, lantas aku memilihnya sebagai pemimpin, bagaimana jadinya kalau besok ceritanya berubah lagi. Bagaimana kalau besok justru yang saya butuhkan adalah beberapa kilogram beras, apakah akan memilih tukang beras sebagai pemimpinku ?” sergah Karim.
Ditanya seperti itu Norma tidak bisa menjawab. Dari dulu memang selalu begitu, setiap harus memilih pemimpin, ia selalu bingung karena selalu berubah-ubah keinginannya termasuk juga berubah-ubahnya janji para calon pemimpin itu. Akhirnya keduanya diam dan melamun sampai akhirnya kantuk menyergapnya. Suami istri itu tertidur pulas.
Di dalam tidurnya Karim bermimpi bertemu seorang lelaki tua berjubah putih, wajahnya tenang, senyum selalu mengembang dari bibirnya. Pada mata lelaki tua itu ia melihat kedamaian terpancar. Inikah pemimpinku ? Begitu pertanyaan Karim.
“Dulu, nabi Ibrahim juga begitu sulit memilih siapa Tuhannya. Ketika melihat matahari di pagi hari, ia lalu mengatakan pada dirinya itulah tuhannya. Tapi ketika matahari tenggelam di ufuk barat, Ibrahim lalu kecewa. Tidak mau katanya punya tuhan yang hilang dan tenggelam,” cerita lelaki berjubah putih itu. Mendengar penjelasan seperti itu Karim jadi teringat akan keadaannya yang bingung kepada siapa ia harus menggantungkan diri.
“Begitu juga dengan keadaan saya, sepuh, bagaimana cara memilih seorang pemimpin ?”
“Pilihlah yang paling jujur. Jujur terhadap dirinya sendiri, jujur terhadap orang lain,” jelas lelaki berjubah putih itu.
“Jujur ? Bukankah semua orang selalu mengaku jujur kepada siapa saja yang diajaknya bicara ?”
“Benar, tapi kejujuran memang bukan untuk dikatakan, tapi akan terwujud dalam kelakuannya sehari-hari,” jelas lelaki berjubah putih itu lagi.
Obrolan itu terus berlangsung. Tapi ketika sedang asyik-asyiknya dialog, Karim dibangunkan karena adzan shubuh telah tiba. Angkutan kota miliknya itu harus segera dihidupkan, kemudian membawa sepuluh penumpang dari kampungnya menuju pasar, dan di sana ia akan mangkal sebentar, mengangkut beberapa pedagang yang selesai belanja, lalu mengakut anak-anak sekolah. Demikian roda kehidupan Karim terus berputar.
Diantara penumpang yang ia temui siang itu, tak ada seorang pun yang layak dijadikan pemimpin, karena rata-rata tidak jujur. Kebanyakan penumpang menyebutkan jarak terdekat padahal sebenarnya tujuannya bukan ke sana, lebih jauh dari yang disebutkan. Artinya kebanyakan para penumpang itu memang tidak jujur.
Lalu ketika ia makan di warung tegal, ia juga tidak menemukan kejujuran di tukang warung itu. Pada Karim wanita gembrot itu bicara kalau sayurnya tidak pedas, tapi ketika Karim memakannya justru terasa sangat pedas. Ketika dikomplain, pedagang itu dengan enteng bicara, pedas yang dirasakan Karim seperti itu tidak termasuk pedas, katanya.
Ketika ia kembali ke rumah dengan pencarian yang tak usai, Karim bercengkrama dengan anaknya yang masih berusia empat tahun. Ketika diberikan permen, anaknya itu menolak dengan menggelengkan kepala karena di tangannya memang ada satu permen. Lalu sebentar kemudian anaknya itu menangis dan mengatakan mau pipis. Ketika dibawa ke kamar mandi, anak itu lantas pipis. Ketika ia lapar, anak itu juga menangis dan bilang mau makan. Ketika diberi makan, ia akan diam bahkan seringnya langsung tidur. Pada anaknya itulah Karim menemukan kejujuran. Tapi apakah anaknya itu yang harus dipilih sebagai pemimpin, tempat ia menggantungkan kehidupan ini ?
Karim bingung sendiri karena tak mungkin menjadikan anak terkecilnya sebagai pemimpin. Sayang, Karim sepertinya lupa bahwa anak kecil seperti itu memang selalu jujur karena masih ada dalam genggaman kesucian Allah SWT. Jadi selayaknya pada pemilik kekuasaan tertinggi itulah kita menggantungkan diri dan menjadikan Dia sebagai pemimpin kehidupan ini.
***
Kamis, 21 April 2016
KESEJAHTERAAN HIDUP
Oleh : E. Rokajat Asura
Keluarga Makmur hidup rukun dan bahagia. Ia punya seorang anak manis yang diberi nama Sejahterawati. Sekalipun hanya makan tahu tempe, tak pernah Makmur uring-uringan. Begitu pula istri dan anaknya, hidup bahagia sekalipun sangat sederhana. Bahkan seringkali kehidupan keluarga Makmur membuat iri tetangga. Kok hidup dengan sederhana tetapi tidak mengurangi keharmonisan rumah tangga ya ? Rumah masih ngontrak kenapa bisa rukun dan tidak tidak pernah terdengar ribut ya ?
“Kebahagiaan itu tidak terletak pada uang dan harta, tapi ada dalam hati kita,” jelas Makmur ketika suatu hari dikerubuti ibu-ibu yang sengaja datang meminta tips bagaimana agar bisa hidup bahagia, tentram, aman dan terkendali.
“Apa hati bisa tenteram sementara dapur belum ngebul ?” tanya seorang ibu yang terkenal senang ngutang hanya agar kelihatan seperti orang banyak uang.
“Bagi saya makan itu bukan tujuan hidup, Bu, tapi makan hanya untuk penyambung hidup,” jawab Makmur mengemukakan konsep hidupnya yang sederhana.
Mendengar jawaban Makmur seperti itu, ibu-ibu hanya saling pandang. Tetap bagi pikiran mereka, pola pikir Makmur seperti itu tak bisa diterima. Bagi mereka kebahagiaan justru terletak pada kekayaan. Uang. Soalnya mana mungkin bisa memenuhi keinginan tanpa punya uang. Pertemuan itu bubar tanpa menghasilkan kesimpulan apa-apa. Ibu-ibu itu kembali ke rumah tetap dengan pola pikir dan pola hidup semula.
Suatu hari Makmur kena PHK dengan alasan perusahaan sedang mengadakan effisiensi. Tentu saja Makmur kaget, padahal dialah tulang punggung keluarga. Ketika istrinya mengetahui Makmur di-PHK, ia hanya menunduk sedih. Tak terbayang bagaimana memenuhi kebutuhan dapur, kebutuhan sekolah dan tentu saja uang untuk kontrak rumah. Rumah tangga yang harmonis itu nyaris limbung.
Suatu hari Makmur pamit untuk cari kerjaan. Tapi sore harinya tidak pulang, bahkan keesokan harinya pun belum juga pulang. Tentu saja istri dan anaknya sangat mengkhawatirkannya, apalagi sebelumnya Makmur tak pernah pergi jauh-jauh. Sehari berlalu, dua hari, bahkan genap tiga hari Makmur belum juga pulang. Cerita miring mulai terdengar. Ada yang mengatakan Makmur punya istri lagi. Ada pula yang menyebutkan kalau Makmur tersesat dan jadi korban pengeroyokan. Istri dan anaknya hanya bisa pasrah sambil tetap berdo’a, semoga Makmur selamat dan cepat kembali.
Sepuluh hari sejak kepergiannya, akhirnya Makmur pulang. Badannya kuyu, pakaiannya kotor dan wajahnya sangat lelah. Istri dan anaknya menyambut dengan suka cita. Tak ada kebahagiaan bagi mereka selain berkumpul kembali. Sang istri sudah tidak sabar lagi mendengar cerita Makmur yang tidak pulang sampai sepuluh hari. Sebuah rekor yang luar biasa. Pada malam harinya Makmur mulai cerita. Ternyata ia pergi ke sebuah tempat keramat, meminta berkah. Menurut leluhur di tempat keramat itu bahwa Makmur cocok berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Makmur diberi sebentuk batu ali. Tapi ada satu hal yang tak boleh dilanggar yaitu tidak boleh tergoda wanita apalagi kalau sampai dikawin. Padahal menurut sesepuh di sana, setelah memiliki batu ali ini dorongan untuk punya istri lagi sangat besar. Mendengar itu, sang istri kebingungan. Bukan bingung karena suaminya takut kawin lagi, tapi bingung darimana harus menyediakan modal. Untuk dagang, tentu butuh modal yang tidak kecil.
Setelah menemui kesepakatan bersama, akhirnya kalung simpanan yang ditabung bertahun-tahun lamanya harus dijual. Dan dua pertiga-nya dipakai modal, sementara yang sepertiga dibelikan beras, untuk kebutuhan makan sehari-hari. Makmur menetapkan hati untuk jualan Bubur Kacang. Tempat usahanya dipilih di simpang jalan dekat sebuah pabrik dan pasar. Tempat yang cukup strategis.
Hari pertama, dagangannya laris manis. Betapa senangnya hati mereka. Hari ke hari bahkan dalam waktu sangat singkat, Makmur sudah bisa membeli gerobak. Kehidupannya pun mulai tampak berubah.
Setahun kemudian, Makmur benar-benar berubah. Dagangannya semakin maju. Ia kini telah mampu membeli sebuah rumah dan tanah, bahkan sepeda motor bekas. Ia berhasil membeli sebuah toko di dekat terminal. Tokonya itu berukuran tiga kali empat, tapi cukup strategis untuk jualan.
Dibalik keberhasilan usahanya, tampak ada perubahan pada Makmur. Dulu ketika hidup sederhana, ia selalu tersenyum pada siapa saja. Kepada anak dan istri sangat sayang dan sehari-harinya selalu bercanda. Tapi sekarang, semua itu telah berubah. Ia tampak sombong, tak pernah mau tersenyum pada tetangga, dengan anak dan istripun jarang bercanda lagi. Sehari-harinya ia hanya memikirkan dagangan dan dagangan. Setiap malam seluruh waktunya dipakai untuk memikirkan jualan dan uang hasil dagangnya.
“Kalau terus-terus begini saya tidak kuat, Kang ! Masak sih akang cuma memikirkan dagang dan uang. Mana perhatian untuk keluarga ?” protes istrinya pada suatu malam. Mendengar keluhan istrinya seperti itu, Makmur marah besar.
“Kamu tahu, semua ini karena saya memikirkan kalian supaya tidak hidup menderita lagi. Bukannya berterima kasih, malah minta macam-macam,” bentak Makmur dengan nada tinggi.
“Yang kami butuhkan perhatian, bukan hanya tercukupi uang dan makan,” protes istrinya lagi.
Makmur terus uring-uringan. Semalaman ia tak tidur. Keesokan harinya ia dagang seperti biasa. Tapi sore harinya ia tidak pulang. Sehari, dua hari, bahkan selama seminggu tidak pulang ke rumah. Setiap ditengok ke tempat dagangnya, selalu tak bisa ditemui. Di toko itu hanya ada dua pembantunya.
Genap sepuluh hari setelah kepergian Makmur, tersiar kabar ternyata Makmur kawin lagi. Katanya ia kawin dengan seorang janda kembang, yang sama-sama jualan di terminal. Betapa sakitnya hati istri Makmur. Hari itu juga ia pulang kembali ke orang tuanya, meninggalkan rumah dan segala isinya. Bersama anaknya ia hidup di rumah orang tuanya.
“Apa akang tidak ingat, punya istri lagi itu pantangan dari sepuh ?” suatu hari isteri tuanya masih sempet mengingatkan. Tapi rupanya Makmur benar-benar lupa diri. Ia tidak mau mendengar apa yang diucapkan isteri pertamanya, yang terbayang bagaimana kehangatan sang isteri muda, yang menurut pengakuan Makmur selalu bisa menyenangkan suami.
Tidak kuat dimadu akhirnya istri pertama Makmur minta cerai. Makmur malah senang. Sekarang ia hidup bahagia bersama istri mudanya. Dua bulan sejak perceraian itu, rumah beserta istrinya dijual. Anehnya tak sedikitpun diberikan kepada istri tuanya. Semua diserahkan pada istri muda. Makmur giat kembali bekerja, dan sering meninggalkan isteri mudanya di rumah.
Makmur tidak menyadari kalau sikap dan watak dari istri mudanya ini berbeda dengan istri pertamanya. Tapi dasar sudah terbius rayuan istri muda, Makmur lupa segalanya. Makmur juga sudah lupa akan larangan sesepuh di tempat keramat itu. Sekarang bukan saja tergoda tapi benar-benar telah kawin. Bahkan isteri tua yang selama ini menemani suka dan duka, justru rela diceraikan.
Suatu hari ada kejadian menggemparkan. Isteri muda Makmur kedapatan main serong dengan seorang supir. Betapa terpukulnya Makmur. Saat itu juga istri mudanya dicerai. Kini, Makmur hidup sendiri mengelola toko. Tapi entah kenapa belakangan ini Makmur kurang konsentrasi dalam dagangnya. Tidak aneh kalau kemudian semakin hari penghasilan semakin menurun. Beberapa persediaan baik uang maupun perhiasan, sedikit demi sedikit sudah mulai dijualnya.
Ternyata kesialan Makmur belum juga berakhir. Suatu hari Makmur sakit-sakitan. Berbulan-bulan ia dirawat di rumah sakit. Ada yang bilang kena guna-guna istri mudanya. Tapi menurut dokter Makmur mengidap penyakit lever. Semua uang dari hasil berdagangnya, habis terkuras untuk biaya pengobatan.
Setahun kemudian ia sembuh. Ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan kehidupannya lebih sulit dari sebelumnya. Dan sekarang hidup sendiri di rumah kontrakannya. Istri mudanya telah meninggalkannya dengan segudang hutang. Ia tak pernah nyangka, perubahan kekayaan itu akan berakhir pada titik nol. Ia hidup sengsara tanpa rumah, tanpa anak dan isteri. Kalau begini akhirnya, dulu ia tak bercita-cita ingin kaya, hanya itu yang sering ia gumamkan.
***
Keluarga Makmur hidup rukun dan bahagia. Ia punya seorang anak manis yang diberi nama Sejahterawati. Sekalipun hanya makan tahu tempe, tak pernah Makmur uring-uringan. Begitu pula istri dan anaknya, hidup bahagia sekalipun sangat sederhana. Bahkan seringkali kehidupan keluarga Makmur membuat iri tetangga. Kok hidup dengan sederhana tetapi tidak mengurangi keharmonisan rumah tangga ya ? Rumah masih ngontrak kenapa bisa rukun dan tidak tidak pernah terdengar ribut ya ?
“Kebahagiaan itu tidak terletak pada uang dan harta, tapi ada dalam hati kita,” jelas Makmur ketika suatu hari dikerubuti ibu-ibu yang sengaja datang meminta tips bagaimana agar bisa hidup bahagia, tentram, aman dan terkendali.
“Apa hati bisa tenteram sementara dapur belum ngebul ?” tanya seorang ibu yang terkenal senang ngutang hanya agar kelihatan seperti orang banyak uang.
“Bagi saya makan itu bukan tujuan hidup, Bu, tapi makan hanya untuk penyambung hidup,” jawab Makmur mengemukakan konsep hidupnya yang sederhana.
Mendengar jawaban Makmur seperti itu, ibu-ibu hanya saling pandang. Tetap bagi pikiran mereka, pola pikir Makmur seperti itu tak bisa diterima. Bagi mereka kebahagiaan justru terletak pada kekayaan. Uang. Soalnya mana mungkin bisa memenuhi keinginan tanpa punya uang. Pertemuan itu bubar tanpa menghasilkan kesimpulan apa-apa. Ibu-ibu itu kembali ke rumah tetap dengan pola pikir dan pola hidup semula.
Suatu hari Makmur kena PHK dengan alasan perusahaan sedang mengadakan effisiensi. Tentu saja Makmur kaget, padahal dialah tulang punggung keluarga. Ketika istrinya mengetahui Makmur di-PHK, ia hanya menunduk sedih. Tak terbayang bagaimana memenuhi kebutuhan dapur, kebutuhan sekolah dan tentu saja uang untuk kontrak rumah. Rumah tangga yang harmonis itu nyaris limbung.
Suatu hari Makmur pamit untuk cari kerjaan. Tapi sore harinya tidak pulang, bahkan keesokan harinya pun belum juga pulang. Tentu saja istri dan anaknya sangat mengkhawatirkannya, apalagi sebelumnya Makmur tak pernah pergi jauh-jauh. Sehari berlalu, dua hari, bahkan genap tiga hari Makmur belum juga pulang. Cerita miring mulai terdengar. Ada yang mengatakan Makmur punya istri lagi. Ada pula yang menyebutkan kalau Makmur tersesat dan jadi korban pengeroyokan. Istri dan anaknya hanya bisa pasrah sambil tetap berdo’a, semoga Makmur selamat dan cepat kembali.
Sepuluh hari sejak kepergiannya, akhirnya Makmur pulang. Badannya kuyu, pakaiannya kotor dan wajahnya sangat lelah. Istri dan anaknya menyambut dengan suka cita. Tak ada kebahagiaan bagi mereka selain berkumpul kembali. Sang istri sudah tidak sabar lagi mendengar cerita Makmur yang tidak pulang sampai sepuluh hari. Sebuah rekor yang luar biasa. Pada malam harinya Makmur mulai cerita. Ternyata ia pergi ke sebuah tempat keramat, meminta berkah. Menurut leluhur di tempat keramat itu bahwa Makmur cocok berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Makmur diberi sebentuk batu ali. Tapi ada satu hal yang tak boleh dilanggar yaitu tidak boleh tergoda wanita apalagi kalau sampai dikawin. Padahal menurut sesepuh di sana, setelah memiliki batu ali ini dorongan untuk punya istri lagi sangat besar. Mendengar itu, sang istri kebingungan. Bukan bingung karena suaminya takut kawin lagi, tapi bingung darimana harus menyediakan modal. Untuk dagang, tentu butuh modal yang tidak kecil.
Setelah menemui kesepakatan bersama, akhirnya kalung simpanan yang ditabung bertahun-tahun lamanya harus dijual. Dan dua pertiga-nya dipakai modal, sementara yang sepertiga dibelikan beras, untuk kebutuhan makan sehari-hari. Makmur menetapkan hati untuk jualan Bubur Kacang. Tempat usahanya dipilih di simpang jalan dekat sebuah pabrik dan pasar. Tempat yang cukup strategis.
Hari pertama, dagangannya laris manis. Betapa senangnya hati mereka. Hari ke hari bahkan dalam waktu sangat singkat, Makmur sudah bisa membeli gerobak. Kehidupannya pun mulai tampak berubah.
Setahun kemudian, Makmur benar-benar berubah. Dagangannya semakin maju. Ia kini telah mampu membeli sebuah rumah dan tanah, bahkan sepeda motor bekas. Ia berhasil membeli sebuah toko di dekat terminal. Tokonya itu berukuran tiga kali empat, tapi cukup strategis untuk jualan.
Dibalik keberhasilan usahanya, tampak ada perubahan pada Makmur. Dulu ketika hidup sederhana, ia selalu tersenyum pada siapa saja. Kepada anak dan istri sangat sayang dan sehari-harinya selalu bercanda. Tapi sekarang, semua itu telah berubah. Ia tampak sombong, tak pernah mau tersenyum pada tetangga, dengan anak dan istripun jarang bercanda lagi. Sehari-harinya ia hanya memikirkan dagangan dan dagangan. Setiap malam seluruh waktunya dipakai untuk memikirkan jualan dan uang hasil dagangnya.
“Kalau terus-terus begini saya tidak kuat, Kang ! Masak sih akang cuma memikirkan dagang dan uang. Mana perhatian untuk keluarga ?” protes istrinya pada suatu malam. Mendengar keluhan istrinya seperti itu, Makmur marah besar.
“Kamu tahu, semua ini karena saya memikirkan kalian supaya tidak hidup menderita lagi. Bukannya berterima kasih, malah minta macam-macam,” bentak Makmur dengan nada tinggi.
“Yang kami butuhkan perhatian, bukan hanya tercukupi uang dan makan,” protes istrinya lagi.
Makmur terus uring-uringan. Semalaman ia tak tidur. Keesokan harinya ia dagang seperti biasa. Tapi sore harinya ia tidak pulang. Sehari, dua hari, bahkan selama seminggu tidak pulang ke rumah. Setiap ditengok ke tempat dagangnya, selalu tak bisa ditemui. Di toko itu hanya ada dua pembantunya.
Genap sepuluh hari setelah kepergian Makmur, tersiar kabar ternyata Makmur kawin lagi. Katanya ia kawin dengan seorang janda kembang, yang sama-sama jualan di terminal. Betapa sakitnya hati istri Makmur. Hari itu juga ia pulang kembali ke orang tuanya, meninggalkan rumah dan segala isinya. Bersama anaknya ia hidup di rumah orang tuanya.
“Apa akang tidak ingat, punya istri lagi itu pantangan dari sepuh ?” suatu hari isteri tuanya masih sempet mengingatkan. Tapi rupanya Makmur benar-benar lupa diri. Ia tidak mau mendengar apa yang diucapkan isteri pertamanya, yang terbayang bagaimana kehangatan sang isteri muda, yang menurut pengakuan Makmur selalu bisa menyenangkan suami.
Tidak kuat dimadu akhirnya istri pertama Makmur minta cerai. Makmur malah senang. Sekarang ia hidup bahagia bersama istri mudanya. Dua bulan sejak perceraian itu, rumah beserta istrinya dijual. Anehnya tak sedikitpun diberikan kepada istri tuanya. Semua diserahkan pada istri muda. Makmur giat kembali bekerja, dan sering meninggalkan isteri mudanya di rumah.
Makmur tidak menyadari kalau sikap dan watak dari istri mudanya ini berbeda dengan istri pertamanya. Tapi dasar sudah terbius rayuan istri muda, Makmur lupa segalanya. Makmur juga sudah lupa akan larangan sesepuh di tempat keramat itu. Sekarang bukan saja tergoda tapi benar-benar telah kawin. Bahkan isteri tua yang selama ini menemani suka dan duka, justru rela diceraikan.
Suatu hari ada kejadian menggemparkan. Isteri muda Makmur kedapatan main serong dengan seorang supir. Betapa terpukulnya Makmur. Saat itu juga istri mudanya dicerai. Kini, Makmur hidup sendiri mengelola toko. Tapi entah kenapa belakangan ini Makmur kurang konsentrasi dalam dagangnya. Tidak aneh kalau kemudian semakin hari penghasilan semakin menurun. Beberapa persediaan baik uang maupun perhiasan, sedikit demi sedikit sudah mulai dijualnya.
Ternyata kesialan Makmur belum juga berakhir. Suatu hari Makmur sakit-sakitan. Berbulan-bulan ia dirawat di rumah sakit. Ada yang bilang kena guna-guna istri mudanya. Tapi menurut dokter Makmur mengidap penyakit lever. Semua uang dari hasil berdagangnya, habis terkuras untuk biaya pengobatan.
Setahun kemudian ia sembuh. Ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Bahkan kehidupannya lebih sulit dari sebelumnya. Dan sekarang hidup sendiri di rumah kontrakannya. Istri mudanya telah meninggalkannya dengan segudang hutang. Ia tak pernah nyangka, perubahan kekayaan itu akan berakhir pada titik nol. Ia hidup sengsara tanpa rumah, tanpa anak dan isteri. Kalau begini akhirnya, dulu ia tak bercita-cita ingin kaya, hanya itu yang sering ia gumamkan.
***
Langganan:
Postingan (Atom)





