Informasi
Selasa, 10 Mei 2016
SENYUM ITU INDAH
Oleh : E. Rokajat Asura
Setiap pagi menjelang, Putri, anak kelas dua SMU di bilangan Pondok Gede berangkat, bu Nani selalu saja waswas. Begitupun ketika suaminya berangkat kerja, bu Nani sama waswasnya. Bu Nani waswas setiap anaknya berangkat sekolah, bukan karena takut anaknya tidak bisa mengikuti setiap pelajaran. Ia justru takut karena berita di koran dan televisi yang selalu menceritakan tawuran antar etnis, penodongan dan pengedaran narkoba yang semakin meningkat. Sementara Putri memang akan melewati jalur-jalur rawan kecelakaan.
Lain lagi kekhawatiran bu Nani setiap suaminya pergi kerja. Ia khawatir bukan karena takut suaminya kepincut gadis lain, atau takut nyari selingkuhan. Bukan. Soal itu sih, bu Nani percaya betul, suaminya memang dijamin seratus proses bukan tipe lelaki mata keranjang atau yang gatalan setiap melihat jidat licin. Bu Nani khawatir karena tingkat kejahatan di angkutan umum, perampasan dan penodongan di taksi belakangan ini semakin meningkat.
Maka setiap pagi itu selalu saja bu Nani terpekur, berdo’a apa saja yang ia bisa lantunkan, untuk keselamatan anak dan suaminya. Ia memang selalu tidak tenteram sebelum mengetahui dengan pasti bahwa anak dan suaminya itu sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Barulah ia akan bisa memasak dan mengurus tetek-bengek sebagai ibu rumah tangga. Menjelang tengah hari saat masakan siap, cucian kering, ia kembali khawatir dan menunggu dengan waswas sampai Putri betul-betul datang dengan selamat. Begitulah selalu yang ia hadapi hari-hari belakangan ini.
Kekhawatiran seperti itu memang tidak baik, bu Nani tahu betul masalah itu. Seorang psikolog kondang memang pernah bicara, kekhawatiran seperti itu adalah stress yang tidak dikelola dengan baik sehingga ia akan menyedot energi positip dari tubuhnya. Tapi harus bagaimana lagi, toh sekalipun dicoba untuk tenang, tetap saja kekhawatiran seperti tadi akan muncul dan terus muncul setiap hari.
Satu hal yang sedikit bisa meringankan beban itu adalah ketika Putri datang dengan senyum dan cium tangan, sementara nanti sore suaminya datang dengan senyum. Ah, memang indah senyum itu. Bu Nani memang sempat mengkhayal, kalau saja semua orang mudah senyum, mungkin akan aman negeri ini. Bu Nani seperti diucapkan pada suaminya, coba kalau setiap kernet dan sopir bis kota itu senyum pada setiap penumpang, tak akan muncul ketegangan sekalipun penumpang bayar kurang.
Tadi malam bu Nani mendengar cerita dari suaminya bahwa seorang teman kantornya, sebut saja Pahrul, datang ke kantor dengan luka pukul di wajahnya. Usut punya usut ternyata karena urusan sepele. Pahrul saat itu naik metro mini dari rumah menuju kantor. Seperti biasa pada jam-jam sibuk, tak akan ada metro mini yang kosong kecuali metro mini yang mogok. Maka ia naik dan ikut desak-desakan. Entah karena apa, ada seorang bapak yang keinjek. Bapak itu ngotot, dan Pahrul rupanya meladeninya. Adu mulut terjadi, dan berakhir dengan sebuah pukulan telak di wajah Pahrul. Buk ! Pahrul pun pening dan nyaris terjadi perkelahian massal kalau tidak ada seorang tentara yang sama-sama numpang.
“Coba kalau saat itu kamu tersenyum dan minta maaf, tak akan terjadi adut otot sampai muka bengep,” begitulah saran suami bu Nani pada sahabatnya.
Entah karena bicaranya yang lemah-lembut sehingga menyentuh perasaan Pahrul atau memang karena ia takut kena bogem mentah lagi, keesokan harinya setiap naik kendaraan umum, ia telah siap untuk senyum. Konon ketika ada seorang ibu menginjak kakinya, Pahrul buru-buru senyum. Hasilnya memang luar biasa, ibu itu balik membalas senyumnya dan mereka ngobrol ngalor-ngidul. Lain waktu, Pahrul nyaris ketubruk seorang bapak yang lari entah karena apa. Pahrul pun cepat-cepat menolong, memegang pundaknya si bapak yang terengah-engah sambil tentu saja tersenyum, suasana pun lumer dan menyenangkan. Sejak saat itulah, di dada Pahrul selalu tertanam : Aku Harus Siap Tersenyum !
Keesokan harinya, bu Nani telah menyiapkan sepatu, tas kantor dan sarapan untuk anak dan suaminya. Ketika ia mengantarkan di pintu, bu Nani tak lupa bicara :
“Kamu tidak lupa gosok gigi kan, Put, soalnya jangan sampai lupa hari ini untuk tersenyum kepada siapapun,” begitulah peringatan bu Nani.
“Oke !” Putri mengacungkan jempol diikuti senyum bu Nani dan suaminya.
Siang hari Putri pulang. Tapi ia datang tidak tersenyum, sebaliknya wajahnya hanya merenggut asem. Sambil makan siang, bu Nani mencoba mengorek ada apa sebenarnya sampai Putri datang tanpa senyum. Putri pun cerita. Katanya di mikrolet ada tiga pemuda yang siap-siap akan menodong ibu-ibu. Terdorong oleh rasa setia kawan dan kasihan pada si ibu, Putri pun langsung tersenyum pada ibu itu sambil berkata, hati-hati Bu, perhiasan ibu takut kena jambret. Rupanya mendengar omongan Putri seperti itu, ibu tadi siap-siap mengemasi barangnya, dan buntutnya ketiga pemuda itu yang balik marah pada Putri karena kesal aksinya digagalkan seorang cewek ingusan.
Ketika Putri turun agak jauh dari sekolahnya rupanya ketiga pemuda tadi mengikutinya, lalu di tempat sepi mereka menghadang Putri. Salah seorang diantara pemuda tadi menodongkan pisau. Jelas saja Putri gemeteran, tapi ia tidak lupa untuk tetap tersenyum. Mungkin karena merasa dilecehkan tiba-tiba Putri didorong dan hampir jatuh. Beruntung ada beberapa orang guru lewat sehingga ketiga pemuda tadi langsung ngibrit. Itulah kenapa ia mangkel banget, gara-gara senyum malah jadi celaka katanya.
Mendengar cerita putrinya, bu Nani pun tersenyum. Pasti bukan karena gara-gara senyum semua itu terjadi, malah bu Nani justru berpikir sebaliknya. Coba kalau waktu itu Putri tidak tersenyum, mungkin si ibu di mikrolet akan kena jambret. Kalau Putri tidak senyum, mungkin pisau salah seorang pemuda itu benar-benar akan mencelakainya. Jadi, begitu kesimpulan bu Nani, besok semakin lebar lah kamu tersenyum, Put !
Ada kejadian lain sore itu di ujung gang tak jauh dari rumah Putri. Dua pemuda pengacara alias pengangguran banyak acara, adu mulut bahkan nyaring adu jotos. Konon katanya gara-gara kedua pengangguran tadi rebutan uang parkiran. Putri lewat ke tempat itu dan hampir lari saat kedua pemuda itu benar-benar mau berantem. Tapi karena ia ingat pesan mamanya, sambil lewat ke tempat itu sempat juga nyeletuk : Tersenyumlah kawan, karena senyum itu indah !
Rupanya salah seorang pemuda yang mau berantem itu mendengarnya. Sebenarnya kalau pun terjadi berantem, yang lebih kecil itu sudah bisa dipastikan tidak akan bisa menang. Secara fisik ia kalah, bahkan kalau dilihat pengalaman juga masih jauh dibanding musuhnya itu. Makanya ia putar akal, dan sebelum benar-benar berantem ia menemukan jalan. Dengan senyum ia bicara :
“Sebelum kita berantem, bagusnya lap dulu itu ingusnya,” katanya. Entah karena merasa malu atau bagaimana, musuhnya itu langsung tersentak kaget dan melap ingusnya. Padahal sesungguhnya tak ada ingus, bekasnya pun tidak terlihat. Saat musuhnya melap ingus, pemuda yang lebih kecil itu langsung bereaksi memiting musuhnya. Dengan mudah musuhnya bisa dikalahkan dalam satu gerakan. Ketika pemuda tadi bertemu kembali dengan Putri, tak lupa mengucapkan terima kasih. Senyum itu memang indah, Put, katanya.
Malam hari giliran suami bu Nani yang merenggut. Rupanya ketika akan pulang, dompetnya kena sambar copet. Terang aja uang tunai, kartu, dan KTP amblas digondol pencopet. Ia memang lupa akan senyum dan sebaliknya hanya bisa marah-marah. Beruntung ia satu bis dengan seorang temannya, sehingga suami bu Nani tidak sampai benar-benar kehilangan muka karena tidak bisa bayar bis.
Saat makan malam semua kejadian itu diceritakan pada anak dan istrinya. Entah kenapa, tiba-tiba bu Nani dan Putri saling menatap lalu keduanya tersenyum. Menyaksikan anak dan istrinya tersenyum, suami bu Nani jelas tersinggung.
“Bagaimana kalian ini, mendengar aku kena musibah kok malah tersenyum sih ?” gerutu suami bu Nani. Lagi-lagi ibu dan anak itu tersenyum, lebih manis dari senyumnya yang pertama tadi.
“Hei, kalian sengaja mau melecehkan aku, ya ?” suami bu Nani benar-benar kesal. Melihat suaminya kesal, bu Nani angkat bicara.
“Buat apa marah-marah, Pak. Musibah itu ‘kan terjadi bukan karena kita menghendaki, tapi musibah itu untuk menguji sejauhmana kesabaran kita !” jawab bu Nani tenang.
“Aku tahu itu, tapi kenapa harus tersenyum ?” protes suaminya
“Kalaupun kita marah-marah, mengumpat, kesal, protes, toh dompet itu tidak akan kembali, Pak. Maka daripada marah-marah, kenapa tidak tersenyum saja. Paling tidak dengan senyum, otot kita lebih kendur,” jelas Putri sambil tetap tersenyum. Mendengar itu, ayahnya pun tersenyum. Memang benar, buat apa marah-marah hanya akan bikin kita capek. Sudah capek, dompet tetap hilang, memang rugi dua kali. Maka tersenyumlah ia.
***
TIGA PERMINTAAN
Diropea : E. Rokajat Asura
TIGA ORANG PENDAKI GUNUNG TERSESAT DI HUTAN BELANTARA … BERHARI-HARI MEREKA TAK BISA KELUAR … JABA MAKANAN SUDAH HABIS .. WAH POKONA SUSAH BEAK KAREP … KEUR NGALEMPREH DARIUK DEUKEUT BATU … TIBA-TIBA SALAH SEORANG PENDAKI TEH MANGGIHAN BOTOL … WAH SIAPA TAHU KATANYA INI TEH BOTOL MINUMAN … BISA NGURANGI HAUS … MAKANYA LANGSUNG TANPA PIKIR PANJANG ITU BOTOL TEH DIBUKA … BEGITU DIBUKA … UJUG-UJUG DATANG JIN JANGKUNG BADAG JABA HIDEUNG … JIN AFRIKA SIGANA MAH … TAH SI JIN TEH NGARASA DITOLONG SAMA KETIGA PENDAKI GUNUNG TEA KARENA DIBUKAKEUN BOTOL … SINGKATNA SEBAGAI TANDA TERIMA KASIH SIJIN BAKAL MENGABULKAN TIGA PERMINTAAN … SOK CENAH MAU MINTA APA SAJA PASTI BAKAL DILAKSANAKAN … HEI MANUSA KAMU MINTA APA ? KATA SI JIN PADA PENDAKI PERTAMA … AH SAYAH TEH SUDAH LAMA TIDAK MAKAN ENAK … SAYA LAPAR … SAYAH MAH MINTA DIKIRIM KE RESTORAN SANGAT MEWAH … GAMPANG KATA SI JIN TEH … JRENG … HARITA KENEH ADA DI SEBUAH RESTORAN LENGKEP DENGAN MAKANAN YANG ENAK-ENAK … DIA MAKAN DENGAN LAHAP … NAH SEKARANG KAMU MINTA APA … KATA SIJIN PADA PENDAKI KEDUA … SAYA UDAH CAPEK TERSESAT … TIDUR TIDAK ENAK … POKOKNYA SAYA TIDAK MAU MINTA MACAM-MACAM … SAYA MAH MAU DIAM AJA DI HOTEL … NGARAH BISA TIDUR DENGAN NYAMAN DI ATAS KASUR YANG EMPUK … SIJIN TEH KETAWA LAGI … DAN JRENG … MAKA SI PENDAKI KEDUA PUN TIBA-TIBA ADA DI KAMAR HOTEL BINTANG LIMA … DIA PUN BISA TIDUR DENGAN NYENYAK … TAH GILIRAN PENDAKI KETIGA … DIA MAH TERKENAL RADA JAIL … MAKANYA KETIKA SIJIN NANYA … HEI MANUSA KAMU MINTA APA … SI PENDAKI KETIGA TEH TENANG AJA … SAYA MAH TIDAK MAU MAKAN … TIDAK MAU TIDUR DI TEMPAT TIDUR YANG EMPUK … TERUS KAMU MINTA APA … SAYA MAH MINTA KEDUA TEMAN SAYA DIBALIKEUN DEUI KESINI … BIAR SAYA TIDAK SEPI DISINI CENAH … OH GAMPANG … DAN HARITA KENEH JRENG … KEDUA TEMENYA BALIK LAGI KE TEMPAT SEMULA …
Sumpah...
BERMAIN-MAIN DENGAN SUMPAH http://erasura.blogspot.com/2016/05/bermain-main-dengan-sumpah.html
BERMAIN-MAIN DENGAN SUMPAH
Oleh : E. Rokajat Asura
Dalam sebuah pelantikan pejabat selalu dilakukan sumpah jabatan. Maksudnya sebagai bukti bahwa ia akan memegang amanat jabatan itu untuk digunakan sesuai dengan proporsinya. Sumpah jabatan mengandung sebuah semangat spiritual yang tinggi. Sumpah jabatan menjadi salah bukti kesungguhan pejabat tadi agar tidak menyalahgunakan jabatan. Kalau kemudian pejabat tadi terbukti menyalahgunakan jabatan, terbukti mengingkari jabatannya itu, tentu bukan sumpah jabatan yang salah tapi individu pejabatan itulah yang salah.
Ketika dua orang bertengkar atau cekcok, tak ada yang mau disalahkan. Jalan tengah biasanya ditempuh dengan menyuruh keduanya untuk bersumpah. Sumpah seperti ini menjadi sebuah cara pembuktikan sosial kepada satu sama lain tentang perbuatan yang dituduhkan kepada dirinya itu tidak benar. Kalau kemudian di akhir hari ketahuan bahwa para pelaku sumpah tadi salah, tentu bukan sumpahnya yang salah melainkan masing-masing individu itulah yang ingkar. Individu tadi dengan sengaja telah melakukan pembohongan publik. Bohong atas sumpahnya sendiri.
Ketika seseorang dituduh mencuri, ia tidak akan dipercaya begitu saja dengan hanya mengaku tidak mencuri. Orang yang menuduh mencuri biasanya secara psikologis akan berubah manakala pencuri itu berani bersumpah. Namun demikian ketika ketahuan ternyata sumpahnya bohong, tentu saja bukan sumpahnya yang salah tapi pencuri itu yang salah. Dia telah berani bermain-main dengan sumpah.
Ketika sumpah dijadikan pembelaan dan hanya untuk bermain-main, maka nilai sumpah terasa menjadi hambar dan tidak bernilai. Kenyataan seperti itulah yang dirasakan Her belakangan ini. Padahal saat ini ia justru sedang dihadapkan pada kondisi yang serba sulit. Bayangkan saja, istrinya diduga berselingkuh. Beberapa bukti dari omongan tetangga telah dikantongi. Hanya saja Her sendiri belum menangkap basah kelakuan istrinya itu. Tapi ketika dikonfirmasi, istrinya tetap bersikeras mengaku tidak selingkuh. Bahkan ketika diajak bicara baik-baik dengan mengumpulkan kedua keluarga, istrinya tetap bersikeras kalau ia tidak berbuat. Ia samasekali tidak selingkuh. Ketika pamannya menyuruh keluar dari pekerjaanya, istri Her dengan enteng mau menerima.
“Kalau memang sumber tuduhan selingkuh itu karena saya bekerja, sehingga punya keleluasaan untuk berselingkuh, saat ini juga saya bersedia keluar kerja. Tapi tentu saja jangan konyol. Saya mau keluar kerja kalau memang mas Her telah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” jelas istri Her.
“Bagaimana Her, kau sanggup ? Inilah salah satu cara untuk membuktikan benar tidaknya omongan tetangga dan tuduhan kamu bahwa istrimu tidak selingkuh,” urai sang paman. Her berpikir. Selama ini ia memang telah bekerja keras, kendati kebutuhan rumah tangganya masih saja belum tercukupi. Dari sanalah pertimbangan sang istri kenapa ia mau bekerja.
Pertemuan itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Isu bahwa istri Her berselingkuh semakin santer. Istri Her sendiri tetap bersikeras tidak mau mengaku. Pada suatu hari Her mengajak istrinya menemui seorang ustadz. Di hadapan sang ustadz Her bicara panjang lebar:
“Begitulah, pak Ustadz, saya memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah ini ?” keluh Her. Pak Ustadz hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu ia cerita tentang bagaimana kebohongan itu bisa berakhir dengan sebuah kecelakaan. Apalagi kalau berbohong dengan cara bersumpah, tentu akan lebih rugi lagi akibatnya. Kebohongan yang terus-menerus akan membuat ia tidak dipercaya lagi, demikian pula dengan orang yang senang bermain-main dengan sumpah, tidak akan dipercaya lagi sumpahnya. Kendati pada suatu hari ia benar-benar bersumpah dengan segala kesungguhan, sumpah itu tetap saja menjadi tidak bernilai dan ia akan tetap dianggap bohong. Lalu ustadz itu mensitir sebuah kisah.
Pada suatu masa, katanya, ada seorang gembala kambing. Ia biasa menggembalakan kambing itu jauh keluar kampung. Di sebuah padang rumput yang maha luas, di sanalah ia melepas kambing-kambingnya yang ratusan itu. Setiap hari begitulah pekerjaannya, pagi hari membawa kambing-kambing itu, melepaskan di padang rumput, sore hari dikumpulkan dan dibawa pulang. Suatu hari ia terjebak dengan perbuatan iseng hanya karena dilanda kesepian, diam sendiri di padang rumput yang maha luas itu. Terpikir olehnya bagaimana kalau berteriak minta tolong, seolah-olah ia didatangi oleh srigala. Ia pun melakukannya. Ia berteriak lantang.
“Tolong…tolong ! Ada srigala. Tolong aku, kambing-kambingku dimakannya. Tolong...”
Rupanya beberapa orang dari kampung terdekat bisa mendengar suara gembala yang minta tolong tersebut. Berbondong-bondonglah penduduk desa itu menuju padang rumput untuk menolong si gembala. Betapa anehnya ketika mereka tiba ke padang rumput melihat si gembala sedang tiduran, kambing-kambingnya berkeliaran dengan damai, dan tak tanda-tanda bekas kedatangan srigala.
“Hai, gembala, benarkah kau akan diterkam srigala ?” tanya salah seorang penduduk desa yang hendak menolongnya.
“Oh, tidak, tidak ada srigala di sini.”
“Lalu siapa yang teriak minta tolong tadi ?”
“Oh, itu memang aku. Aku sengaja teriak minta tolong untuk menguji apakah penduduk desa di sini masih peduli pada seorang gembala atau tidak. Aku khawatir diam di sini sendirian. Kalau memang benar-benar ada srigala dan tidak ada yang peduli menolongku, bagaimana nasibku nanti ?”
Mendengar alasan gembala yang memang masuk akal itu, penduduk desa hanya saling pandang kemudian satu persatu pulang meninggalkan sang gembala. Sementara itu si gembala sendiri hanya tersenyum puas karena telah berhasil mengelabui mereka.
Selang beberapa hari, si gembala melakukan hal yang sama. Ia teriak nyaring meminta tolong kepada penduduk desa. Beberapa orang yang mendengarnya sempat ragu-ragu, jangan-jangan si gembala itu berbohong lagi dan hanya akan mengelabui mereka. Dari sepuluh orang yang mendengar, lima orang diantaranya memutuskan untuk tidak menolong dan mengabaikan teriakan si gembala itu karena khawatir terkelabui untuk kedua kalinya. Sementara lima orang yang lain dengan ragu-ragu akhirnya datang untuk menolong. Apalagi ketika teriakan itu makin lama terdengar makin sayup-sayup. Mereka menyangka tentu srigala itu telah demikian buas memangsa kambing-kambing si gembala. Kelima orang itu kendati tetap ragu-ragu akhirnya datang juga ke padang rumput tempat si gembala menggembalakan kambing-kambingnya.
Namun betapa kecewanya ketika di padang rumput ia melihat si gembala sedang menyantap bekalnya. Dengan emosi salah seorang dari kelima penduduk desa itu mendekati si gembala. Dengan menjambak leher, penduduk desa itu menghardik.
“Sialan kamu ! Sudah dua kali mengelabui kami. Apa maksud kamu sebenarnya bangsat !”
“Aku...aku tadi seperti melihat srigala. Sumpah, aku seperti melihat srigala itu datang dari sudut sana. Aku khawatir sekali. Sebelum srigala itu datang, aku cepat-cepat teriak minta tolong,” jelas si gembala dengan gemetaran.
“Aku tidak percaya. Kau hanya sedang bermain-main,” teriak yang lain. Lalu mereka meninggalkan si gembala dengan perasaan jengkel.
Pada suatu hari ketika belasan penduduk desa sedang berkumpul, lagi-lagi mereka mendengar teriak si gembala. Teriakan itu terdengar timbul tenggelam bahkan terasa menyayat hati. Sesekali teriakan itu seperti sedang menahan sakit. Namun tak ada seorang pun dari penduduk desa itu yang bersedia menolongnya. Mereka menyangka pasti si gembala itu sedang bermain-main dan mereka tak mau kena tipu untuk ketiga kalinya. Padahal sesungguhnya saat itu si gembala sedang berjuang dengan maut karena sedang diterkam srigala. Beberapa saat kemudian seorang pencari rumput menemukan si gembala meninggal dengan mengerikan.
Mendengar kisah itu istri Her langsung menangis. Ia menyesal sekali telah berbohong dan bermain-main dengan sumpah. Mendengar pengakuan istrinya seperti itu Her tidak bisa berbuat apa-apa. Mau marah, malu dengan pak Ustadz. Dibiarkan begitu saja jelas hatinya terasa tercabik-cabik. Akhirnya ia pamit pada ustadz dan samasekali tidak mempedulikan istrinya.
***
Dalam sebuah pelantikan pejabat selalu dilakukan sumpah jabatan. Maksudnya sebagai bukti bahwa ia akan memegang amanat jabatan itu untuk digunakan sesuai dengan proporsinya. Sumpah jabatan mengandung sebuah semangat spiritual yang tinggi. Sumpah jabatan menjadi salah bukti kesungguhan pejabat tadi agar tidak menyalahgunakan jabatan. Kalau kemudian pejabat tadi terbukti menyalahgunakan jabatan, terbukti mengingkari jabatannya itu, tentu bukan sumpah jabatan yang salah tapi individu pejabatan itulah yang salah.
Ketika dua orang bertengkar atau cekcok, tak ada yang mau disalahkan. Jalan tengah biasanya ditempuh dengan menyuruh keduanya untuk bersumpah. Sumpah seperti ini menjadi sebuah cara pembuktikan sosial kepada satu sama lain tentang perbuatan yang dituduhkan kepada dirinya itu tidak benar. Kalau kemudian di akhir hari ketahuan bahwa para pelaku sumpah tadi salah, tentu bukan sumpahnya yang salah melainkan masing-masing individu itulah yang ingkar. Individu tadi dengan sengaja telah melakukan pembohongan publik. Bohong atas sumpahnya sendiri.
Ketika seseorang dituduh mencuri, ia tidak akan dipercaya begitu saja dengan hanya mengaku tidak mencuri. Orang yang menuduh mencuri biasanya secara psikologis akan berubah manakala pencuri itu berani bersumpah. Namun demikian ketika ketahuan ternyata sumpahnya bohong, tentu saja bukan sumpahnya yang salah tapi pencuri itu yang salah. Dia telah berani bermain-main dengan sumpah.
Ketika sumpah dijadikan pembelaan dan hanya untuk bermain-main, maka nilai sumpah terasa menjadi hambar dan tidak bernilai. Kenyataan seperti itulah yang dirasakan Her belakangan ini. Padahal saat ini ia justru sedang dihadapkan pada kondisi yang serba sulit. Bayangkan saja, istrinya diduga berselingkuh. Beberapa bukti dari omongan tetangga telah dikantongi. Hanya saja Her sendiri belum menangkap basah kelakuan istrinya itu. Tapi ketika dikonfirmasi, istrinya tetap bersikeras mengaku tidak selingkuh. Bahkan ketika diajak bicara baik-baik dengan mengumpulkan kedua keluarga, istrinya tetap bersikeras kalau ia tidak berbuat. Ia samasekali tidak selingkuh. Ketika pamannya menyuruh keluar dari pekerjaanya, istri Her dengan enteng mau menerima.
“Kalau memang sumber tuduhan selingkuh itu karena saya bekerja, sehingga punya keleluasaan untuk berselingkuh, saat ini juga saya bersedia keluar kerja. Tapi tentu saja jangan konyol. Saya mau keluar kerja kalau memang mas Her telah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” jelas istri Her.
“Bagaimana Her, kau sanggup ? Inilah salah satu cara untuk membuktikan benar tidaknya omongan tetangga dan tuduhan kamu bahwa istrimu tidak selingkuh,” urai sang paman. Her berpikir. Selama ini ia memang telah bekerja keras, kendati kebutuhan rumah tangganya masih saja belum tercukupi. Dari sanalah pertimbangan sang istri kenapa ia mau bekerja.
Pertemuan itu tidak membuahkan hasil apa-apa. Isu bahwa istri Her berselingkuh semakin santer. Istri Her sendiri tetap bersikeras tidak mau mengaku. Pada suatu hari Her mengajak istrinya menemui seorang ustadz. Di hadapan sang ustadz Her bicara panjang lebar:
“Begitulah, pak Ustadz, saya memohon petunjuk bagaimana mengatasi masalah ini ?” keluh Her. Pak Ustadz hanya mengangguk tanda mengerti. Lalu ia cerita tentang bagaimana kebohongan itu bisa berakhir dengan sebuah kecelakaan. Apalagi kalau berbohong dengan cara bersumpah, tentu akan lebih rugi lagi akibatnya. Kebohongan yang terus-menerus akan membuat ia tidak dipercaya lagi, demikian pula dengan orang yang senang bermain-main dengan sumpah, tidak akan dipercaya lagi sumpahnya. Kendati pada suatu hari ia benar-benar bersumpah dengan segala kesungguhan, sumpah itu tetap saja menjadi tidak bernilai dan ia akan tetap dianggap bohong. Lalu ustadz itu mensitir sebuah kisah.
Pada suatu masa, katanya, ada seorang gembala kambing. Ia biasa menggembalakan kambing itu jauh keluar kampung. Di sebuah padang rumput yang maha luas, di sanalah ia melepas kambing-kambingnya yang ratusan itu. Setiap hari begitulah pekerjaannya, pagi hari membawa kambing-kambing itu, melepaskan di padang rumput, sore hari dikumpulkan dan dibawa pulang. Suatu hari ia terjebak dengan perbuatan iseng hanya karena dilanda kesepian, diam sendiri di padang rumput yang maha luas itu. Terpikir olehnya bagaimana kalau berteriak minta tolong, seolah-olah ia didatangi oleh srigala. Ia pun melakukannya. Ia berteriak lantang.
“Tolong…tolong ! Ada srigala. Tolong aku, kambing-kambingku dimakannya. Tolong...”
Rupanya beberapa orang dari kampung terdekat bisa mendengar suara gembala yang minta tolong tersebut. Berbondong-bondonglah penduduk desa itu menuju padang rumput untuk menolong si gembala. Betapa anehnya ketika mereka tiba ke padang rumput melihat si gembala sedang tiduran, kambing-kambingnya berkeliaran dengan damai, dan tak tanda-tanda bekas kedatangan srigala.
“Hai, gembala, benarkah kau akan diterkam srigala ?” tanya salah seorang penduduk desa yang hendak menolongnya.
“Oh, tidak, tidak ada srigala di sini.”
“Lalu siapa yang teriak minta tolong tadi ?”
“Oh, itu memang aku. Aku sengaja teriak minta tolong untuk menguji apakah penduduk desa di sini masih peduli pada seorang gembala atau tidak. Aku khawatir diam di sini sendirian. Kalau memang benar-benar ada srigala dan tidak ada yang peduli menolongku, bagaimana nasibku nanti ?”
Mendengar alasan gembala yang memang masuk akal itu, penduduk desa hanya saling pandang kemudian satu persatu pulang meninggalkan sang gembala. Sementara itu si gembala sendiri hanya tersenyum puas karena telah berhasil mengelabui mereka.
Selang beberapa hari, si gembala melakukan hal yang sama. Ia teriak nyaring meminta tolong kepada penduduk desa. Beberapa orang yang mendengarnya sempat ragu-ragu, jangan-jangan si gembala itu berbohong lagi dan hanya akan mengelabui mereka. Dari sepuluh orang yang mendengar, lima orang diantaranya memutuskan untuk tidak menolong dan mengabaikan teriakan si gembala itu karena khawatir terkelabui untuk kedua kalinya. Sementara lima orang yang lain dengan ragu-ragu akhirnya datang untuk menolong. Apalagi ketika teriakan itu makin lama terdengar makin sayup-sayup. Mereka menyangka tentu srigala itu telah demikian buas memangsa kambing-kambing si gembala. Kelima orang itu kendati tetap ragu-ragu akhirnya datang juga ke padang rumput tempat si gembala menggembalakan kambing-kambingnya.
Namun betapa kecewanya ketika di padang rumput ia melihat si gembala sedang menyantap bekalnya. Dengan emosi salah seorang dari kelima penduduk desa itu mendekati si gembala. Dengan menjambak leher, penduduk desa itu menghardik.
“Sialan kamu ! Sudah dua kali mengelabui kami. Apa maksud kamu sebenarnya bangsat !”
“Aku...aku tadi seperti melihat srigala. Sumpah, aku seperti melihat srigala itu datang dari sudut sana. Aku khawatir sekali. Sebelum srigala itu datang, aku cepat-cepat teriak minta tolong,” jelas si gembala dengan gemetaran.
“Aku tidak percaya. Kau hanya sedang bermain-main,” teriak yang lain. Lalu mereka meninggalkan si gembala dengan perasaan jengkel.
Pada suatu hari ketika belasan penduduk desa sedang berkumpul, lagi-lagi mereka mendengar teriak si gembala. Teriakan itu terdengar timbul tenggelam bahkan terasa menyayat hati. Sesekali teriakan itu seperti sedang menahan sakit. Namun tak ada seorang pun dari penduduk desa itu yang bersedia menolongnya. Mereka menyangka pasti si gembala itu sedang bermain-main dan mereka tak mau kena tipu untuk ketiga kalinya. Padahal sesungguhnya saat itu si gembala sedang berjuang dengan maut karena sedang diterkam srigala. Beberapa saat kemudian seorang pencari rumput menemukan si gembala meninggal dengan mengerikan.
Mendengar kisah itu istri Her langsung menangis. Ia menyesal sekali telah berbohong dan bermain-main dengan sumpah. Mendengar pengakuan istrinya seperti itu Her tidak bisa berbuat apa-apa. Mau marah, malu dengan pak Ustadz. Dibiarkan begitu saja jelas hatinya terasa tercabik-cabik. Akhirnya ia pamit pada ustadz dan samasekali tidak mempedulikan istrinya.
***
NOVEL AIR MATA SURGA
Sinopsis Buku:
Tim dokter dibuat tercengang dengan kesabaran yang diperlihatkan Baraah Saamehh, sementara paman dan bibinya tak kuasa menahan derai air mata. Setelah diamputasi kakinya untuk menghambat penyebaran sel kanker osteosarcoma, penyakit ganas itu sudah menyerang otak. Apa kata gadis kecil penghafal Al-Qur’an ini sebelum masuk ruang operasi? "Alhamdulillah, aku akan segera bertemu dengan Baba dan Mama di surga." Semua teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi, tetapi dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya. Kematian Baba ayahnya tertabrak di depan matanya sendiri saat akan menjenguk Mama yang terkulai lemah terserang kanker di sebuah rumah sakit, tak membuatnya patah arang. Ia bahkan bisa lolos mewakili provinsi untuk musabaqah hifzil Qur'an di tengah tragedi kematian baba dan mamanya terjadi. Untuk kesabaran dan keteguhan hatinya itu Baraah dianggap sebagai malaikat kecil yang baru turun dari surga.
Endorsement "Kisah tentang Baraah, gadis kecil yatim piatu yang berjuang melawan kanker ini, seakan-akan menampar saya: semangat hidupnya, kecintaannya pada hafalan Kitab Suci, kebaikan hatinya untuk berbagi, ketabahannya yang menembus batas. Baraah tak perlu menjadi sedikit dewasa/ matang/ tua untuk 'menasihati' saya. Bahkan dengan kekhasan kanak-kanaknya itu, Baraah berhasil membuat saya terhenyak berkali-kali. Lebih dari itu, ending-nya membuat saya bertanya-tanya, ini kisah nyata atau fiksi ya? Penulis sukses mempermainkan emosi pembaca." - Waheeda El Humayra:, Penulis Novel The Sacred Romance of King Sulaiman & Queen Sheba, Guru di Indonesia Mengajar
Tim dokter dibuat tercengang dengan kesabaran yang diperlihatkan Baraah Saamehh, sementara paman dan bibinya tak kuasa menahan derai air mata. Setelah diamputasi kakinya untuk menghambat penyebaran sel kanker osteosarcoma, penyakit ganas itu sudah menyerang otak. Apa kata gadis kecil penghafal Al-Qur’an ini sebelum masuk ruang operasi? "Alhamdulillah, aku akan segera bertemu dengan Baba dan Mama di surga." Semua teman dan keluarga terkejut. Gadis kecil ini sedang menghadapi musibah yang bertubi-tubi, tetapi dia tetap sabar dan ikhlas dengan apa yang ditetapkan Allah untuknya. Kematian Baba ayahnya tertabrak di depan matanya sendiri saat akan menjenguk Mama yang terkulai lemah terserang kanker di sebuah rumah sakit, tak membuatnya patah arang. Ia bahkan bisa lolos mewakili provinsi untuk musabaqah hifzil Qur'an di tengah tragedi kematian baba dan mamanya terjadi. Untuk kesabaran dan keteguhan hatinya itu Baraah dianggap sebagai malaikat kecil yang baru turun dari surga.
Endorsement "Kisah tentang Baraah, gadis kecil yatim piatu yang berjuang melawan kanker ini, seakan-akan menampar saya: semangat hidupnya, kecintaannya pada hafalan Kitab Suci, kebaikan hatinya untuk berbagi, ketabahannya yang menembus batas. Baraah tak perlu menjadi sedikit dewasa/ matang/ tua untuk 'menasihati' saya. Bahkan dengan kekhasan kanak-kanaknya itu, Baraah berhasil membuat saya terhenyak berkali-kali. Lebih dari itu, ending-nya membuat saya bertanya-tanya, ini kisah nyata atau fiksi ya? Penulis sukses mempermainkan emosi pembaca." - Waheeda El Humayra:, Penulis Novel The Sacred Romance of King Sulaiman & Queen Sheba, Guru di Indonesia Mengajar
Langganan:
Postingan (Atom)



