Informasi

Novel Raden Pamanah Rasa bisa dipesan langsung SMS/WA ke 081310860817 Tafsir Wangsit Siliwangi bisa dipesan langsung SMS/WA 081310860817

Rabu, 15 Juni 2016

NOVEL KUPILIH JALAN GERILYA

KUPILIH JALAN GERILYA 
Novel inilah yang dipilih Dewan Kurator (Seno Gumbira Ajidarma, Iswadi Pratama, Kadek Sonia Piscayanti) dari dua novel yang dikirim – satunya lagi Jugun ianfu – yang meloloskan saya untuk mengikuti Ubud Writers & Readers Festival 2016, Oktober yang akan datang di Ubud, Bali. Alhamdulillah bisa bertemu dan bertukar pikiran dengan sastrawan mancanegara. 

 Sekilas tentang novel Kupilih Jalan Gerilya :
"Yang sakit itu Sudirman, Panglima Besar tidak pernah sakit,” ujar Panglima Sudirman ketika Bung Karno menolak ikut gerilya. Tubuh ringkih itu memilih jalan gerilya, membakar semangat prajurit, membuktikan pada dunia – negara Indonesia tetap ada sekalipun para pemimpin politik telah ditawan Belanda. Air mata Alfiah menderas setiap membayangkan suaminya yang sakit-sakitan mendaki bukit, menembus belantara, menghadang tanah tandus berbatu, menghindari serbuan Belanda tanpa henti. Tapi di balik wajah pucat itu sinar matanya tak pernah berubah – tajam berkharisma, membuat Simon Spoor frustasi. Operasi pengejaran Sudirman selalu gagal. Saat Sudirman kembali ke Yogyakarta, rakyat menyemut di pinggir jalan menyambut. Air mata jadi saksi bagaimana lelaki kurus pengidap TBC akut itu telah gemilang mempertahankan martabat negeri. Ia berhasil mengusir berbagai aral rintang, tapi tak berhasil mengusir penyakit TBC yang bersarang di tubuhnya. Setelah rongrongan Belanda berakhir, ia pun menghadap Illahi, menghembuskan napas terakhir dengan tenang setelah memeriksa rapor putra-putrinya. Langit Magelang menjadi saksi. 

"Aku bangga sekali, Bu, sepanjang hidupku Gusti Allah senantiasa memberikan jalan yang sederhana, dekat dengan alam, anak-anak dan rakyat yang hidup dan pikirannya sederhana. Rasanya tugasku sudah selesai. Kalaupun pada akhirnya dipundut Sing Kagungan, aku rela,” ujar Sudirman sebelum menutup mata. ISBN: 978-602-7926-21-9 Kode: XK-11 Kategori: NOVEL SEJARAH 

CATATAN KURATORIAL:
 Pada periode submisi dan seleksi penulis emerging Indonesia tahun ini, panitia menerima kiriman naskah dari 894 penulis yang berasal dari 201 kota di 33 propinsi Indonesia. Sepanjang sejarah program penulis emerging, yang pertama kali diadakan pada 2008, jumlah penulis ini merupakan yang tertinggi. Hal ini mencerminkan betapa sesungguhnya gairah untuk menulis masih cukup tinggi di kalangan para penulis muda tanah air. Selain itu, tingginya jumlah penulis ini juga menunjukkan betapa program penulis emerging Indonesia di Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) telah menjadi salah satu wahana utama bagi penulis emerging Indonesia untuk menunjukkan pencapaiannya. Karya-karya para penulis peserta seleksi dibaca terlebih dahulu oleh tim pre-kurasi yang terdiri dari sastrawan Ubud, Ketut Yuliarsa dan Manajer Program Indonesia UWRF, I Wayan Juniarta. Proses pembacaan ini melahirkan daftar panjang terdiri dari karya yang direkomendasi. Karya-karya inilah yang kemudian dibaca dan ditelaah oleh kami, para anggota Dewan Kurator. 

Sangat tidak gampang mendapatkan karya-karya sastra, yang punya keberanian untuk melepaskan diri dari kecenderungan, yang sudah terlanjur mapan dan tipikal. Menulis (karya sastra) bukan cuma soal memiliki isu atau tema atau ide, lalu menguraikannya dalam sekian banyak bab, sejumlah puisi, atau sejumlah esai, melainkan juga soal bagaimana menghadirkan kembali sebuah dunia yang mampu memberikan bukan saja perspektif yang segar, tetapi juga pengalaman berbahasa yang terus menerus tumbuh dalam karya yang disajikan. Dengan persepektif demikian, tentu saja kami akan memprioritaskan karya-karya, yang dari sisi artistik maupun tema, mampu hadir dengan ciri dan kekuatan masing-masing dan tidak sekedar memperbanyak jumlah karya sastra. Pada faktanya, karya-karya seperti ini banyak lahir dari penulis-penulis muda, dengan pergaulan teks yang cukup beragam yang tercermin pada karya-karyanya. Mereka ini tampaknya berasal dari “generasi membaca” yang tidak puas dengan sekedar menjadi pewaris kecenderungan-kecenderungan yang sudah ada dan mapan. Meskipun dalam beberapa hal harapan tersebut belum terpenuhi secara ideal, namun karya-karya yang mereka kirimkan paling tidak memberikan harapan yang lebih menjanjikan bagi perkembangan sastra di Tanah Air. 

Karya-karya yang terpilih adalah karya yang telah menampilkan pencapaian kreativitas, bisa dikatakan pencapaian tertinggi atau menuju pencapaian tertinggi, dari masingmasing penulisanya. Usia tampak jelas sudah tidak menjadi ukuran pencapaian. Sejumlah penulis muda atau emerging telah menampilkan pencapaian yang mampu bersaing dengan para penulis senior. Dengan demikian, para penulis emerging yang berkualitas ini memang layak untuk mendapat tempat pada forum-forum kesusastraan yang prestisius. Tema-tema yang mereka tawarkan pun, terutama yang dilatari nilai dan perspektif lokalitas, telah memberikan warna yang menarik dalam proses seleksi ini. Dapat disimpulkan bahwa karya-karya para penulis emerging, terutama mereka yang kali ini terpilih untuk menghadiri UWRF, telah menunjukkan pencapaian yang melebihi istilah emerging. Karya-karya mereka menunjukkan kedewasaan dan kemapanan yang tidak terduga. Setiap karya tampak merupakan hasil kerja keras, penelitian yang tekun, serta kreativitas yang bernyali, dan dalam beberapa hal mendekati “kegilaan yang disadari.” 

Seleksi kali ini membuktikan bahwa penulis baru tidak selalu masih mentah karyanya bahkan sebaliknya bisa membuat “penulis mapan” terperangah, untuk menghindari kata minder. Ini juga membuktikan bahwa banyak penulis berkemampuan mumpuni yang tidak terdeteksi semata-mata hanya karena tidak mendapatkan forum yang setara dengan kualitas karyanya. Kami ucapkan selamat kepada para penulis yang terpilih. Sampai jumpa di Ubud pada Oktober mendatang. 

Ubud, Juni 2016 
DEWAN KURATOR UWRF 2016 
Aeno Gumira Ajidarma 
Iswadi Pratama 
Kadek Sonia Piscayanti 

Sujiwo Tedjo, dalang dan penulis, tentang novel Kupilih Jalan Gerilya : 
"Di dalam buku sejarah, pahlawan adalah orang yang pada akhirnya membosankan. Di dalam roman, pahlawan bisa penuh warna seperti manusia biasa pada umumnya. Begitu pula Kiai Lelonobronto, nama samaran Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam karya E. Rokajat Asura ini. Kejenakaannya bersama sang adik, Samingan, maupun romantismenya bersama sang istri, Alfiah, barulah sebagian warna-warni sang gerilyawan dalam karyanya.” 

 K.H Agus Sunyoto, Sejarawan NU tentang novel Kupilih Jalan Gerilya : 
"Sangat menarik ... pengungkapan yang cemerlang antara aktualita, faktualita, politik, sejarah, budaya, dan jiwa patriotik melalui bahasa naratif yang komunikatif dan mudah dicerna." 

Informasi Tambahan : 
Saya ucapkan selamat sekali lagi atas lolosnya Anda untuk hadir di UWRF tahun ini bersama penulis - penulis lainnya. Perkenalkan saya Gustra Adnyana, koordinator program UWRF. Saya dan kawan-kawan akan membantu Anda selama Anda mengikuti kegiatan Festival ini. Berikut saya akan memberikan beberapa informasi mengenai UWRF dan kedatangan Anda di Bali. Tentang Ubud Writers & Readers Festival 2016 Tahun ini UWRF akan dilaksanakan pada tanggal 26 - 30 Oktober di Ubud, Bali dengan menghadirkan lebih dari 150 pembicara yang terdiri dari penulis, seniman, budayawan, dan para pemikir lainnya. Tema yang diusung di festival ke-13 kali ini adalah ' Tat Tvam Asi ', sebuah penggalan filosofi Hindu dari abad ke-6 dengan makna yang sangat dalam. Dalam bahasa Indonesia ' Tat Tvam Asi ' dapat diterjemahkan menjadi ' Aku adalah engkau, engkau adalah aku ' atau ' Kita semua satu '. Di Bali sendiri, konsep ini sangat kental digunakan dalam masyarakat. Filosofi ini mengajarkan manusia bahwa mereka semua sama, bahwa mereka semua terhubung satu sama lainnya. Ideologi ' Kita semua satu ' ini pun sebenarnya adalah identitas dari negara Indonesia. Seperti yang kita tahu, Nusantara Indonesia terdiri dari berbagai macam etnis, agama, budaya, dan sejarah, sebuah latar belakang yang menjadikan Indonesia begitu kaya dengan perbedaan. Namun perbedaan-perbedaan tersebut dihormati oleh masyarakatnya dengan saling mengerti dan saling respek diantara mereka. Sejak pertama kali dilangsungkan, UWRF selalu membawa bermacam sosok dari seluruh dunia dengan bermacam cerita. Cerita-cerita yang mereka bagi berganti menjadi diskusi dan pertanyaan yang dilontarkan, yang membuat cerita - cerita tersebut dekat di hati dan menyatu dengan jiwa. dan itu adalah contoh nyata yang sederhana dari filosofi Tat Tvam Asi. "Daging kita satu arwah kita satu, walau masing jauh, yang tertusuk padamu berdarah padaku" dikutip dari puisi karya Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul Satu. Yakinilah bahwa setiap jiwa terhubung dan menyakiti satu jiwa lain sama seperti menyakiti jiwa sendiri. Dengan tema Tat Tvam Asi, UWRF akan mengajak Nusantara Indonesia untuk mendalami arti dari filosofi tersebut, dan mendalami nilai kemanusiaan, empati, juga kehidupan. Kegiatan Festival terdiri dari berbagai jenis kegiatan seperti: Main Program (acara utama, sesi diskusi) Special Events (acara special, jamuan dan diskusi intim bersama penulis) Workshops (untuk dewasa & profesional) Arts Program (acara seni & pementasan) Film Program Children's Program (program untuk anak - anak) Youth Program (program untuk remaja) Cultural Workshops (pembelajaran tentang budaya Bali) Fringe Event (acara di luar Ubud) Book Launch (Peluncuran buku) The Kitchen (program bagi koki dan penulis buku masak) Festival Club (acara kumpul bersama penulis diatas jam 10 malam) Satellite Event (acara di luar pulau Bali). Untuk gambaran lainnya dapat Anda lihat di website kami www.ubudwritersfestival.com dan buku program UWRF tahun 2015 di link berikut http://www.ubudwritersfestival.com/browse-the-2015-program-book-225-events-170-writers

Selasa, 14 Juni 2016

Gaya Mendidik

GAYA RASULULLAH MENDIDIK http://erasura.blogspot.com/2016/06/gaya-rasulullah-mendidik.html

GAYA RASULULLAH MENDIDIK

Oleh E. Rokajat Asura *) Dalam buku “Sang Nabi”, penyair dan filsup Kahlil Gibran pernah ditanya oleh seorang ibu yang sedang mendekap bayinya, bicaralah padaku tentang anak. Maka meluncurlah syair yang kemudian menjadi terkenal. Syair tentang hakikat seorang anak. Anakmu bukan anakmu Mereka adalah anak-anak kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri Mereka dilahirkan melalui kau tapi bukan darimu Meskipun mereka ada bersamamu tapi bukan milikmu Engkau bisa memberikan cinta, tapi tidak dengan fikiranmu Karena mereka punya fikiran sendiri Engkau bisa merumahkan tubuh mereka tapi tidak jiwa mereka Karena jiwa-jiwa itu tinggal di rumah masa depan Yang tak dapat engkau kunjungi sekalipun dalam mimpi Kau bisa menjadi seperti mereka tapi jangan jadikan mereka sepertimu Karena hidup tak berjalan mundur dan tidak pula berada di masa lalu Engkau adalah busur-busur tempat anakmu menjadi anak-anak panah Yang hidup untuk diluncurkan Sang pemahan telah membidik arah keabadian Merenggangkan dengan kekuatannya Sehingga anak panah meluncur dengan cepat dan jauh Jadilah tarikan tanganmu sebagai pemanah untuk sumber kegembiraan Sebab ketika ia mencintai anak-anak panah yang terbang Maka ia juga mencintai busur yang telah meluncurkannya dengan sepenuh kekuatan Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari syair terkenal tersebut ? Tak sedikit orang tua yang beranggapan anak adalah investasi, sehingga ia punya hak untuk mengatur segala aspek kehidupan agar sang anak menjadi “apa yang dikehendaki orang tuanya”. Dengan atas nama cinta, orang tua berhasil merumahkan tubuh dan jiwa anak-anak, padahal – seperti kata Kahlil Gibran dalam syairnya – jiwa anak-anak itu tinggal di rumah masa depan yang tak dapat dikunjungi orang tuanya sekalipun dalam mimpi. Tugas orang tua – seperti kata Kahlil Gibran – menjadi busur yang akan meluncurkan anak-anak panahnya dengan sekuat tenaga, dan setiap tarikan tangan merentang tali busur dengan rengkuh tubuh sebagai busur semata untuk meluncurkan anak-anak panah secepat dan sejauh mungkin menuju arah keabadian yang sejak awal telah dibidiknya. Begitu anak panah meluncur, biarkan menjadi anak panah bukan menjadi pikiran dan obsesi-obsesi anda. Biarkan mereka menjadi ‘anak panah’ dengan keunikan dan kecenderungan kecerdasannya masing-masing. Dengan cara seperti itu setiap tarikan tangan anda pada tali busur menjadi sumber kegembiraan anak-anak panah yang meluncur cepat dan jauh. Konsep kecerdasan majemuk yang dikembangkan Howard Gardner sejalan dengan konsep pendidikan anak model Kahlil Gibran yakni orang tua benar-benar menjadi busur atau fasilitator dan katalisator untuk meluncurkan anak-anak panah mereka menemukan hasil akhir terbaiknya, bukan mencetak anak-anak sesuai dengan ukuran dan keinginannya. Orang tua adalah sing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara yang dijadikan satu dari tujuh asa Perguruan Nasional Taman Siswa sejak pertengahan 1922. Sebagai anak-anak panah, seorang anak diharapkan mengembangkan dirinya dengan semangat kuat menuju target keabadian yang telah dibidik sejak awal oleh sang pemanah, setelah orang tua – dan guru – meluncurkan mereka dengan segenap tenaga dan kemampuan. Inilah implikasi model KTSP bahwa guru dan orang tua merupakan pemberi dorongan, pengawas dan pengarah kerja para peserta didik. Bukan menjadi pencetak bata, yang ukuran, bentuk dan racikannya telah ditentukan sesuai dengan keinginannya. Dalam kegiatan belajar mengajar – menurut Luna Setiati S.Sn – ada tiga cara dan gaya komunikasi seorang guru dengan para anak didiknya pada proses KBM yaitu authoritarian, permissive dan authoritative. Tentu, ketiga gaya tersebut memiliki dampak yang satu sama lain berbeda. Bahkan salah satu faktor yang dapat melejitkan kemampuan anak didik pun terkait dengan gaya komunikasi guru dalam proses belajar mengajar. Lalu, bagaimana gaya mendidik Rasulullah SAW yang telah berhasil membentuk generasi terbaik yaitu para sahabat alaihi salam ? Salah satu keberhasilan Rasulullah SAW mendidik para sahabat menjadi generasi terbaik, tak terlepas dari sistem dan metoda mendidik yang digunakan. Ada enam pilar yang menjadi tumpuan Rasulullah SAW mendidik para sahabatnya menjadi generasi terbaik yaitu lemah lembut, memberi pujian, memperhatikan waktu, bertahap, argumentasi yang jelas dan mengurangi kesenjangan antara guru dan murid. Lemah lembut menjadi karakter Muhammad SAW. Keberhasilan dakwah beliau terkait erat dengan karakter ini. Seperti dijelaskan Allah SWT dalam salah satu ayatnya yaitu ”maka disebabkan dari rahmat Allah-lah kami berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kami bersikap keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Sikap lemah lembut memiliki energi yang dahsyat manakala terjadi kesalah pahaman atau kesalahan anak didik dalam proses belajar mengajar. Sikap lemah lembut Rasulullah SAW ini tercermin ketika suatu hari – seperti diriwayatkan Anas r.a – ada seorang Arab Badui kencing di salah satu bagian mesjid dan para sahabat kontan membentak bahkan ada yang memarahinya. Tapi bagaimana dengan Rasulullah ? Rasulullah SAW malah meminta seember air, lalu menyiramkannya pada bagian yang dikencingi orang Arab Badui tadi seraya mengatakan bahwa sungguh tidak pantas mesjid dikencingi. Akan halnya kelemah lembutan, memberi pujian kepada anak didik memberi dampak yang dahsyat. Rasulullah SAW melakukan hal itu kepada para sahabat baik yang telah melakukan kebaikan ataupun dalam upaya memberi motivasi. ”Sebaik-baik orang adalah Abdullah bin Umar seandainya ia rajin sholat malam,” ungkap Rasulullah. Lalu apa yang terjadi ? Setelah kejadian itu Abdullah bin Umar semakin mengurangi kuantias tidur malamnya dan memperbanyak ibadah malam. Dalam kegiatan belajar mengajar Rasulullah SAW sangat memperhatikan tentang waktu, kemampuan anak didik dalam hal ini para sahabat dan memberi argumentasi yang tepat. Secara sunatullah hal ini seirama dengan metoda turunnya ayat-ayat al-Qur’an yakni dimulai dengan surat pendek, memperhatikan waktu dan tentu saja ayat yang saling menguatkan. *** *) E. Rokajat Asura, novelis, tinggal di Cilegon. Salah satu novel best sellernya adalah novel sejarah dwilogi Prabu Siliwangi, yang diterbitkan Edelweiss Publishing (Mizan Grup)

Kamis, 09 Juni 2016

Cermin

JODOH BODOH http://erasura.blogspot.com/2016/06/jodoh-bodoh.html

JODOH BODOH

Oleh : E.Rokajat Asura
Ada tiga sahabat karib sejak di sekolah menengah. Sebut saja Ari, Septian dan Harun, nama ketiga sahabat itu. Ketiganya kebetulan satu hobby, satu sekolah, satu kuliahan. Dan sekarang, luar biasanya, ketiganya juga bekerja di perusahaan yang sama. Kejadian langka ini tentu saja semakin mengukuhkan persahabatan mereka. Boleh dikata, tak ada Ari tanpa Septian dan Harun, demikian pula sebaliknya dimana ada Harun, bisa dipastikan di sana Septian dan Ari juga ada. Soal jodoh, ini juga terbilang aneh. Sampai sekarang ketiga sahabat kental itu masih juga belum ketemu jodohnya. Entah karena belum waktunya, entah karena seperti sangkaan orang-orang, ketiga sahabat itu sulit untuk dipisahkan. Mereka lebih mementingkan persahabatan daripada membangun rumah tangga. Khawatir kalaupun mereka menikah, anak istrinya bisa ditelantarkan kalau ada urusan yang menyangkut persahabatan mereka. Padahal secara fisik, ketiganya terbilang punya tampang di atas rata-rata dan hidup mapan pula. Suatu hari ada seorang wanita cantik, sebut saja Farah, karyawan baru di kantor ketiga sahabat itu. Entah kenapa pada saat yang sama ketiganya menaruh hati. Bahkan secara sembunyi-sembunyi mereka mulai mendekati wanita itu. Karena dianggap sebagai teman sekantor, Farah menyambut persahabatan ketiga cowok itu tanpa ada pretensi apa-apa. Ketika malam minggu tiba, tanpa disengaja pula, ketiga cowok itu datang berkunjung ke rumah Farah. Pertama datang adalah Ari. Selang lima menit muncul Harun, disusul kemudian sepuluh menit berikutnya Septian yang tiba. Tentu saja ketiganya kelabakan. Sementara Farah samasekali tidak menaruh curiga apa-apa. Dia menganggap karena memang ketiganya senang bertandang. Cuma itu. Farah hanya tahu sedikit tentang informasi bahwa ketiga lelaki itu sudah lama bersahabat. Senin hari di kantor ketika makan siang, ketiga lelaki itu berikrar, daripada persahabatan hancur, lebih baik tak seorang pun yang menjalin persahabat istimewa dengan Farah. Begitulah akhirnya, mereka seperti juga karyawan lain, hanya kalau ada urusan penting saja berhubungan dengan Farah. Apalagi antara ketiga lelaki itu dengan Farah berbeda departemen, sehingga akan sangat kentara apabila diantara mereka ada yang sengaja main mata. *** Selang beberapa bulan, Ari dipanggil orang tuanya ke Yogya. Katanya ada yang harus diomongkan. Maka dengan diantar ke bandara, Ari pulang kampung. Kedua sahabatnya pergi ke kantor dan bekerja seperti semula. Dua hari sejak kepulangan Ari, Septian dan Harun menerima telpon. Singkat saja isinya. Ternyata, katanya, Ari di Yogya akan dijodohkan dengan putri kenalan ayahnya. "Kamu terima ?" tanya Harun di telpon. "Saya lihat dulu, kalau cantik, sayang ‘kan dibuang begitu saja," canda Ari. Demikian pula ketika Septian menelpon, Ari menjawab persis seperti ia katakan kepada Harun. Seminggu kemudian Ari balik ke kantor. Ketemu dengan ketiga sahabatnya lagi. Pada satu kesempatan ia mulai ngobrol tentang proses penjodohan dengan putri sahabat ayahnya itu. "Cantik nggak ?" canda Septian "Di foto sih iya...tapi aku nggak begitu bisa mastiin, soalnya fotonya ‘kan waktu kuliah. Biasa, foto yang masih culun." "Namanya ?" "Adila Farahandira. Keren, nggak ?" "Lumayan !" "Kapan kamu janjian ketemu ?" "Katanya sih aku yang harus aktif, soalnya anak itu kerja di Jakarta juga. Tapi aku belum diberi nomor teleponnya," jawab Ari mengakhiri perbincangannya. Kisah Siti Nurbaya abad IT itu pun begitu saja terjadi. Pada satu kesempatan, Ari benar-benar dibuat tidak percaya. Betapa tidak, ternyata wanita yang dijodohkan ayahnya itu tidak lain adalah Farah. "Sorry, bukan aku ingin menghancurkan persahabatan kita, tapi aku samasekali tak menyangka kalau wanita itu adalah Farah," jelas Ari di depan dua sahabatnya. Septian dan Harun hanya saling pandang. Lalu keduanya tertawa. Ari jelas tidak mengerti. Ditatapnya kedua sahabatnya itu, tapi yang ditatap malah makin terpingkal. "Apaan sih ?" "Itu artinya kamu kena batunya. Kan ada peribahasa, jodoh itu bodoh, karena nggak bisa pilih-pilih. Yang dipilih malah lari, yang nggak dipilih datang sendiri," jelas Harun. "Kamu tahu, minggu depan aku juga tunangan. Tahu siapa gadis yang kumaksud ?" tanya Septian "Nggak tahu !" "Lasmi !" "Orang mana ?" "Jalan X No. 17 !" "Nggak salah kamu ?" "Kenapa ?" "Lha, itu kan rumahnya Harun !" "Itulah memang yang namanya jodoh itu bodoh, artinya nggak bisa diprediksi, nggak bisa dipilih-pilih." "Maksudnya ?" "Aku memang akan tunangan dengan adiknya Harun !" Mendengar penjelasan Septian seperti Ari hanya tersenyum. Soalnya ia ingat bener, dulu sewaktu masih kuliah, antara Septian dengan Lasmi, kerjanya berantem melulu. Kalau diam sebentar saja, itu namanya nggak seru. "Sayang ya," jelas Ari "Kenapa emang ?" Harun penasaran. "Aku nggak punya adik perempuan. Kalau punya, siapa tahu jodoh kamu justru dengan adikku." Harun hanya mesem. Ia memang belum punya jodoh. Tapi dengan melihat pengalaman masing-masing sahabatnya, terus-terang ia enggan untuk berandai-andai. Soalnya kalau berandai-andai, malah nggak jadi. Sebaliknya ia juga tidak mau pilih-pilih, khawatir yang tidak dipilih justru jodohnya. *** Ketika dua sahabatnya, Ari dan Septian menikah, Harun masih sendiri. Suatu hari ia diajak temannya yang lain ke kampungnya. Kebetulan ada acara pasar kaget, acara tahunan, yang biasanya seluruh penduduk tumplek menghadiri pesta itu. Diam-diam acara tahunan ini juga jadi semacam arena cari jodoh. Harun yang dari sananya memang senang menjelajahi pedesan, menerima dengan suka hati. Aku bisa berpetualang, alasannya. Di tempat pasar kaget ketika sedang memilih salah satu kerajinan desa itu, kaki Harun terinjak terumpah. Ia tidak saja menjerit tapi mencak-mencak. Tapi ketika melihat yang menginjak itu seorang nenek, keriput, rambutnya uban semua, ia kontan meminta maaf. Soalnya tidak mau menghina wanita, takut justru si nenek jadi jodohnya. Pasti lebih berabe. Pulang dari tempat itu, Harun begitu saja gemetaran ketika di jalan ketemu dengan si nenek kembali. Apalagi si nenek memaksanya mampir. Hanya karena takut menyinggung si nenek lah, Harun dan temannya bersedia mampir. "Nenek sudah berbuat kesalahan kemarin, menginjak anak ini. Hitung-hitung menebus dosa, mampir lah kalian. Nenek bersyukur kalian tidak menolak. Sebentar, nenek bikinin minum," aku si nenek jujur. "Nggak usah, Nek !" Harun melarang. "Nggak apa-apa, cuma air saja." Lalu si nenek batuk-batuk. Rupanya itu isyarat. Karena sebentar kemudian, seorang gadis cantik datang membawa nampan diisi minuman dan penganan. Harun melotot. Baru kali itu ia melihat wajah perempuan demikian sempurna. Tapi lagi-lagi ia tak mau beranda-andai, soalnya takut malah lari. Ia juga tidak mungkin tiba-tiba saja marah pada gadis cantik itu, dengan harapan akan berbalik jadi jodohnya. Ia sekarang benar-benar menyerahkan bulat-bulat pada keputusan Allah SWT. ***

Selasa, 07 Juni 2016

Oh...masinis...

SAMAN OH...SAMAN http://erasura.blogspot.com/2016/06/saman-ohsaman.html

SAMAN OH...SAMAN

Cerpen : E. Rokajat Asura (Dipublikasikan
Mingguan NOVA No. 727, Februari 2002 “Pak Saman, mana dongengnya ? Pak Saman, mana dongengnya ?” anak-anak di gang itu selalu saja membuat pak Saman tersenyum bangga. Setiap pulang dan pergi bekerja, mereka selalu menagih janji. Sesungguhnya anak-anak itu tak perlu diberi dongeng yang panjang-panjang. Cerita tentang Sang Kancilpun sudah cukup. Dongeng pendek yang telah berulang-ulang itu akan tetap disukai. Apalagi ketika pak Saman mengekspresikan suara Kancil dengan jenaka, anak-anak itu akan tertawa riang. Pak Saman sendiri pada saat-saat seperti itu selalu mengibaratkan dirinya sebagai seorang pahlawan. Pahlawan yang pulang dari medan perang, disambut rakyat-rakyat kecil dengan gembira. Maka luka dan darah yang mengering di badan itu kini, alhamdulillah tak dirasakannya lagi, karena sang pahlawan telah kembali pada haribaan pertiwi yang baru saja diperjuangkannya. Kemudian pak Saman akan berdiri kukuh di depan rakyat-rakyat kecil itu dan siap dengan sebuah dongeng. Selesai mendongeng, lelahpun akan lenyap karena mendapati kebahagiaan pada wajah anak-anak polos itu. Rakyat-rakyat kecil yang telah mengukuhkan kebesaran dirinya. “Sudah, sudah, sekarang kalian mandi, terus ngaji, ya ?” “Ya ! Terima kasih, Pak Saman !” “Terima kasih anak-anak !” “Assalamu alaikum, Pak Saman !” “Wa alaikum salam, anak-anak !” senyum pak Saman mengembang. Adegan rutin setiap pulang kerja itu yang membuatnya semakin ceria. Dia jadi teringat cerita Sri Sumarah dan Bawuk, novel karya Umar Kayam yang pernah dibacanya pada saat sekolah dulu. Iya, kebiasaan anak-anak di ujung gang itu selalu mengingatkan dia pada kebiasaan Sri yang selalu minta didongengi. Pada siang-siang begitu Sri akan menyerahkan samasekali badan, pikiran dan perasaannya pada suasana yang dikembangkan embahnya. Suara embahnya, elusan jari-jari embahnya pada kulit kepalanya, keteduhan kamar rumah desa itu adalah suatu kesatuan yang mengeloni Sri. Memang anak Sri tidak seperti itu. Tun tidak sedang didongengi. Dia menikmati itu sepotong-sepotong. Umpamanya, di tengah yang agak panjang, pada waktu baru selesai beberapa bait, Tun akan lari sebentar ke luar kamar ambil sepotong pisang atau buah lainnya, dikunyah-kunyahnya sambil kembali ke kamar, menggeletak di samping ibunya lagi, siap mendengarkan tembang berikutnya. Tapi kenapa anak-anak di gang itu punya kegemaran seperti Sri, sekalipun usia dan jamannya lebih akhir dibanding Tun. Apakah ini tandanya jaman selalu berputar pada titik yang sama ? Suatu hari istrinya, Salmah, pernah melarangnya terutama kalau suaminya pulang tugas jauh, membawa kereta api dari Surabaya. Akang kan sangat lelah, belum tidur, lebih baik istirahat, saran istrinya. Tapi bagaimana protes Pak Saman ? Nggak, nggak apa-apa ! Di depan anak-anak gang itu, aku merasa selalu menjadi manusia, Nyi ! Bukan hanya sebuah skrup kecil dari besarnya lokomotif. Ketika membawa lokomotif, pak Saman memang hanya sebuah skrup kecil. Tak pernah ada yang mau meliriknya. Namanya juga skrup kecil. Baru kerasa bahwa lokomotif itu maju karena peran seorang masinis kalau terjadi kecelakaan saja. Naudzubillah hi min dzalik, masak untuk mengingat peran orang lain harus didahului sebuah kecelakaan dulu. Salmah tercenung dan tak bisa mendebatnya. Dia selalu merasa kalah pintar dari suaminya itu. Setiap ada pertengkaran diantara para elit politik misalnya, pak Saman selalu setia mengemukakan analisa-analisanya, sekalipun hanya kepada teman seperjalanan, pada assistennya di ruang lokomotif menyengat itu, dan pada Salmah tentu saja. Selain masalah ketemu waton, juga karena Salmah merasa kalah pinter yang membuat dirinya mau dilamar dulu. Kekaguman itupun yang telah mampu bertahan dalam hidup sederhana dan melahirkan anak-anak. Salmah dan Saman dulu memang satu sekolah, sama-sama di SMP Bojongsalam. Selepas SMP, Salmah memilih kerja di pabrik, tapi Saman meneruskan ke sekolah teknik sampai akhirnya takdir menempatkan dia sebagai seorang masinis. Sejak sekolah, Salmah selalu kalah terutama dalam pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dulu, Salmah selalu minta diajari kalau ada pekerjaan rumah, ulangan harian maupun menjelang ulangan umum. Ya, sejak saat itu dia selalu mendambakan kalau lelaki pinter seperti Saman akan sangat baik untuk dijadikan suami. Samasekali tak pernah terpikir kalau yang pinter Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam itu juga akan pinter dalam nyari duit. *** Pak Saman tiba-tiba terjaga dari lelap tidurnya. Dia mendengar anak-anak gang itu memanggil-manggil. Tapi ketika melihat beker di atas bupet di kamarnya yang sumpek, dia tidak percaya pada suara itu. Pasti mimpi, gumamnya, mana mungkin anak-anak gang itu minta didongengi jam setengah tiga shubuh. Ya, Allah, aku berlindung dengan kalimah-Mu yang sempurna dari kemarahan Allah dan dari kejahatan hamba-hamba-Nya dan dari ganguan syetan dan dari kehadiran mereka. Pak Sama mengusap muka, sementara Salmah saat itu masih terlelap dan terdengar dengkurnya. Pak Saman mencoba memicingkan kembali matanya, tapi sulit untuk bisa kembali tertidur. Hari itu dia memang sedang libur. Baru besok malam dia kembali tugas akan membawa kereta ekspress malam Bandung-Solobalapan. Tapi tentu saja bukan karena itu semua yang membuatnya tidak bisa kembali memicingkan semata. Suara anak-anak itu, seperti sengaja ingin membangunkan. Apa ini sebuah firasat ? Lama pak Saman membiarkan lamunannya melanglang. Ketika lelah dengan lamunan itu, kakinya melangkah keluar kamar, membuka tulak dapur, merapatkan jaket menahan dingin yang menggamit kulit. Lurus ketika membuka pintu dapur, ada sumur yang airnya jernih dan bersyukur tak pernah kering. Tetangga kampung itu menyebutnya sumur ajaib hanya karena tak pernah kering sepanjang tahun. Pak Saman sendiri menerima sumur yang tak pernah kering itu sebagai limpahan rejeki dari langit, karenanya dia selalu wanti-wanti ketika ngambil air, mulailah dengan bismillah katanya, supaya sumur ini diberkahi. Dan malam ini pak Saman mengambil wudlu, lalu sholat malam. Selesai sholat malam, ditambah wirid dan disambung sholat shubuh, barulah dia merasa diserang kantuk. “Pak Saman, mana dongengnya ? Pak Saman, mana dongengnya ?” anak-anak di gang Kancil memanggi-manggil pada pagi buta. Mereka tak tahu kalau pagi itu pahlawannya masih terlelap. Dalam lelap tidur itu tak pernah terpikir tentang rakya-rakyat kecil yang minta didongengi, tak ingat lagi tentang cerita Sri juga tak merasa kalau dirinya itu seorang pahlawan. Terpaksa istrinya yang keluar dan memberitahu pada anak-anak itu, kalau suaminya masih tidur. Kekecewaan menggayut pada wajah polos anak-anak itu. “Emak aja yang mendongeng ya ?” hibur Salmah, tapi anak-anak itu menggelengkan kepala. Ketika kejadian itu diceritakan pada suaminya, ia marah, kenapa tidak membangunkan, protesnya. “Akang masih lelap tidur. Saya pikir karena libur, akang sengaja mau istirahat.” sanggah istrinya. Pak Saman masih juga tampak kecewa. Dia berdiri di ambang pintu, menatap pada jalan dan disana ia melihat anak-anak bergerombol. Iapun kemudian teriak. “Anak-anak !” katanya. Tapi aneh tak seorangpun yang menoleh. Mereka marah tampaknya. Pak Saman menunduk sedih. Ketika istrinya membawakan singkong rebus, samasekali ia tak semangat untuk memakannya. “Maafin saya ya, Kang ? Sudah membuat akang kecewa.” “Nggak apa-apa. Cuma aku menyesal karena hari ini tidak berbuat baik buat orang lain. Padahal kata ustadz, membuat orang lain senang adalah juga sedekah.” kata pak Saman lirih. Dia memang selalu ingat dan terus mengamalkan tentang apa yang didapatnya saat mendengar khutbah Jum’at atau mendengar ceramah di radio. “Pergilah ke mushola, barangkali ada yang bisa akang kerjakan di sana.” “Ya, kau benar. Aku akan ke sana.” wajah murung itu berubah ceria. Ia melangkah tegap. *** Seharian hujan lebat sehinga kali Cikapundung banjir. Pak Saman dan istrinya diliputi kecemasan. Rumahnya memang tak jauh bantaran dari kali itu. Tahun kemarin ketika kali Cikapundung banjir, rumahnya terendam sampai lutut. Bahkan beberapa rumah di bantaran sungai ada yang hanyut terbawa banjir. Air jutaan kubik saat itu seperti tangan raksasa yang memporak-porandakan apa saja yang kebetulan dilaluinya. Mudah-mudah setelah maghrib nanti hujan reda, harap pak Saman sehingga ia bisa pergi tugas membawa penumpang ke Solobalapan. Tapi kali ini keinginannya itu tak terkabul. Hujan tak juga reda. Limabelas menit lebih dari waktu maghrib, hujan masih lebat. Tapi akhirnya pak Saman memaksakan pergi juga. Tubuhnya dibalut mantel tua pemberian dari seorang pengusaha, diluarnya di lapis jas hujan, dan tak lupa membawa senter. Semua itu ia lakukan karena tepat jam 20.00 kereta akan berangkat. Bagaimana jadinya kalau dia tidak datang, seluruh penumpang pasti akan menggerutu. Ia hapal benar tabiat para penumpang kelas bisnis itu, selalu protes dan banyak omong. Sejak dulu ia memang tak mau datang terlambat. Ia tidak mau jadi bagian yang memperparah penyakit manajemen perketa apian negeri ini. Sekalipun Iwan Fals pernah teriak dua jam terlambat itu biasa, tapi bagi pak Saman terlambat adalah pekerjaan luar biasa. Luar biasa memalukan dan luar biasa ketololannya. “Aku berangkat, Nyi, assalamu alaikum !” “Wa alaikum salam, hati-hati, kang ! Jangan lupa bismillah dulu !” terdengar lirih suara itu. Entah kenapa, Salmah seperti berat melepaskan suaminya saat itu. Tidak seperti biasanya. Padahal bukan sekali dua kali suaminya pergi saat hujan lebat seperti itu. “Bismillahi tawaqaltu alallah !” gumam pak Saman dan berjalan menerobos hujan yang tak henti. Langit seperti bocor malam itu, terus-menerus tak terbendung mengucurkan air hujan. Pada saat menyeberang, jembatan bambu berayun-ayun dan seperti mau roboh tertempa air bah. Entah pada langkah ke berapa kaki pak Saman terpeleset dan hampir tercebur. Beruntung dia masih kuat memegang salah satu bambu, kendati senter dan ransel berisi bekal terlempar jauh terbawa banjir. Pak Saman terus berjuang dan akhirnya bisa naik dan meneruskan perjalanan. Pakaianya basah kuyup dan pada beberapa bagian tubuhnya terasa perih. Mungkin luka. Terbebas dari petaka jembatan itu, ia terus melangkah melewati beberapa rumah dan lorong sempit diantara bangunan beton yang menghimpit. Sesampainya di ujung gang masih juga harus menunggu karena saat itu tak ada satupun mobil yang lewat. Lama menunggu tak juga datang, akhirnya ia berjalan kaki menuju stasion. Tak sempat menghitung berapa menit yang telah dihabiskan, yang jelas ketika sampai di stasion, jam menunjukan 19.55, lima menit sebelum kereta menuju Solo berangkat. Masih keburu, bisiknya menghibur diri. Tapi pada saat pak Saman lapor, ternyata telah digantikan masinis lain. Ia hanya bisa mengurut dada dan menatap nanar ketika rangkaian gerbong itu berangkat. Ngatiman, yang menggantikannya, sempat mau menyerahkan tugas itu tapi pak Saman tak menerimanya. “Saya mau nerima karena khawatir akang tak jadi datang. Seharian hujan pasti Cikapundung banjir lagi. Saya ingat kejadian bulan lalu, ketika banjir rumah akang terendam dan tak bisa berangkat kerja.” Ngatiman membela diri ketika melihat sahabatnya itu tertegun di pinggir trotoar. “Sebenarnya saya lelah, Kang ! Baru datang dari Surabaya.” “Kamu lebih berhak. Jalanlah ! Jangan terlalu memikirkan akang.” Pak Saman lirih. Gondok lakinya tampak jelas turun naik pada leher yang kerontang. Keesokan harinya Pak Saman dipanggil atasannya. “Bagaimana kita bisa menjamin keselamatan penumpang, kalau datang saja terlambat. Padahal lancar dan tidaknya lokomotif ada pada anda. Mesin itu harus diperiksa, dan tugas terakhir ada pada anda, Pak Saman. Kendatipun para mekanik telah melakukan kontrol dan pemeriksaan, tetap tanggung jawab akhir ada pada anda.” “Maaf, Pak. Banjir yang telah menghalangi saya hingga terlambat datang.” “Sudahlah ! Tak perlu menyalahkan banjir. Itu kan kejadian alam. Apa kita harus selalu mengalah setiap kejadian alam datang ?” Pak Saman tak bicara. Dia paham betul atas pelanggaran yang telah dilakukannya. Ketika dia diskor, juga tak banyak bicara selain menerima. Dia ingat betul ketika sebuah kecelakaan terjadi, masinis memang yang harus bertanggung jawab. Apa yang baru saja dikatakan atasannya itu, samasekali tak salah. Dia pulang membawa beban di pundak. Surat itu disimpan didalam saku celananya dan tak ingin diberitahukan kepada siapapun juga kepada istrinya. Tak ada anak-anak yang menyambut. Semua anak-anak di gang itu tahu kalau pak Saman baru pulang lusa malam, maka siang itu benar-benar terasa lengang. Bayangan tentang seorang pahlawan yang disambut ceria rakyat kecilnya sirna sudah. *** Berita sangat menggemparkan. Ekspress malam Bandung-Solobalapan tabrakan dengan kereta barang dari Surabaya satu kilo arah Barat dari Stasion Banjar. Pak Saman terduduk lemas. Salmah mematung tak bisa bicara. Ia hapal betul kalau kereta itu yang seharusnya dibawa suaminya. Pak Saman mengetahui berita itu dari tetangga yang tadinya hanya ingin memastikan, apakah Salmah mengetahui atau tidak tentang kecelakaan itu. Kemudian para tetangga datang susul menyusul karena mereka tahu dari anak-anaknya kalau pak Saman pergi membawa kereta itu. Tapi ketika mengetahui Pak Saman ada, semua mengucap syukur alhamdulillah. Anak-anak menangis karena girang. Human error begitu kesimpulan atasannya. Tapi seluruh media massa tetap saja menggugat. Pak Saman terguncang. Keselamatan dirinya, firasat yang datang, banjir yang menghadang justru semakin membuatnya menggigil ketakutan. Seorang wartawan menjenguknya tapi pak Saman tak bisa bicara. Apakah arti semua ini, selalu itu yang jadi tanda tanya. Setiap berita dan semua tudingan ditujukan pada kesalahan masinis yang katanya ngantuk, pak Saman semakin ngeri, karena dia merupakan bagian dari mata rantai itu. Sebelah hatinya memang pernah mengeluh, apakah mereka juga tahu, betapa beratnya tugas itu. Saat seluruh penumpang tidur, bahkan mungkin saat seluruh atasannya terlelap tidur, pak Saman dan kawan-kawan tetap terjaga, mengendalikan lokomotif, menempuh jarak yang sangat jauh. Kecelakaan mengerikan itu terus menjadi konsumsi media. Telinga pak Samanpun rela tak rela dipaksa menerima semua itu hingga terasa panas. Betapa tidak. Pada kecelakaan itu, semua menuding kesalahan masinis. Artinya kesalahan Ngatimin, sahabat sekaligus yang menggantikannya malam itu. Hanya seorang wanita dari lembaga konsumen, yang terasa ada di pihaknya. Mengungkap tentang kesejahteraan dia dan kawan-kawannya, tidak sebandingnya antara beban berat yang dipikul dan penghargaan yang diterima. Kendati pak Saman sendiri tak pernah mempersoalkan itu semua. Konflik itu semakin hingar-bingar mengisi jagat informasi. Seorang tetangga yang kebetulan salah seorang keluarga jauhnya menjadi bagian dari kecelakaan itu, datang menemui pak Saman. Dia bertanya apa benar masinis sering ngantuk, apa benar istirahatnya kurang ? Pak Saman tak bisa menjawab. Juga ketika tetangga itu bicara tentang keluarganya yang menjadi korban kecelakaan itu, pak Saman hanya menitikan air mata. Sebuah pemandangan mengerikan terhampar di hadapannya. Semua orang menggugat, menyalahkan seorang masinis, tapi pernahkah ketika seluruh penumpang selamat sampai di tujuan, ada yang merasakan bahwa dirinya sampai ke tujuan selain takdir Allah adalah karena jasa seorang masinis ? Ketika semua sampai di tujuan, pernahkan ada yang tergerak menemuinya untuk mengulurkan tangan seperti yang pernah ia lihat di televisi yang dilakukan penumpang pesawat pada seorang pilot ? “Harusnya bapak kan yang membawa lokomotif itu, tapi kenapa tiba-tiba diganti oleh orang lain ? Ini yang membuat saya tak habis mengerti.” kata tetangga itu menggugat. Barangkali dalam hatinya dia bicara, bahwa seharusnya pak Saman juga bagian dari kecelakaan itu. Hal inilah yang membuat pak Saman dan istrinya sakit hati. Dua hari setelah kecelakaan itu, ia jatuh sakit. Satu bulan, dua bulan, bahkan hampir masuk seratus hari, pak Saman masih terbaring. Dari perusahaan hanya dua orang yang datang, rekan-rekan masinis, yang membawa uang hasil sumbangan dari teman-temannya. Beruntung masih ada tetangga yang peduli. Ternyata orang-orang pinter di kantornya masih kalah gesit dibanding anak-anak yang selalu mendengar dongeng pak Saman. Anak-anak itu hampir setiap pagi dan petang datang menjenguk, berdoa bersama-sama untuk kesembuhan pahlawannya. Pahlawan rakyat-rakyat kecil yang selalu memberi sebuah dongeng. “Pak Saman, mana dongengnya ? Pak Saman, mana dongengnya ?” anak-anak di gang itu telah mendorongnya untuk berdiri. Pak Saman berangsur-angsur sembuh. Ketika kesehatannya hampir pulih, dia datang ke kantor, mengajukan pengsiun lebih awal dari waktunya. Diluar dugaannya, dua hari berselang telah turun SK. Benar-benar dramatis. Tidak seperti sebelum kejadian kecelakaan menghebohkan itu, sulit untuk mengajukan pensiun muda. *** Pak Saman mulai mendongeng lagi, tentang Sang Kancil yang cerdik, tentang Kera yang serakah. Tak ada lagi lelah dan kantuk. Mata tuanya kembali berbinar ketika anak-anak itu tergelak, saat seperti itulah dia menjadi seorang manusia yang dianggap ada dan dihargai tidak seperti masinis yang duduk di depan membawa sekian ratus penumpang, tapi tak pernah ada yang memperhatikannya sebagai manusia. “Kwik … kwik … kwik !” “Kok bunyi Kera seperti suara lokomotif, pak Saman ?” Pak Saman tersenyum kemudian dia berdiri dan sedikit membungkuk membentuk lokomotif, anak-anak spontan mengikutinya dari belakang. Kwik .. gujes … kwik … gujes ! Ternyata menjadi lokomotif dalam keseharian terasa lebih menyenangkan. Pak Saman kembali tersenyum di tengah derai tawa anak-anak gang Kancil itu. “Mau kemana kereta kita, pak Saman ?!” “Ke langit !” “Ke langit ?!” “Ya … kwik .. gujes … kwik … gujes !!” Dari ambang pintu gubuknya, Salmah memperhatikan kelakuan suaminya. Hanya itu yang bisa dinikmati pada saat-saat tuanya seperti sekarang ini. Suaminya memang tak mengenal postpower syndrom, tidak seperti pejabat-pejabat lain yang takut kehilangan jabatannya. Pensiun dari masinis malah terlihat suaminya lebih nrimo, dan masih tetap bisa jadi lokomotif untuk anak-anak gang itu. Sekarang dia tidak hanya sepulang kerja untuk jadi pahlawan, tapi bisa kapan saja semaunya. Sepanjang anak-anak itu masih mau mendengar dongengnya, ia akan tetap merasa sebagai pahlawan di tengah rakyat kecilnya. Ia selalu berharap kalaupun teknologi menjerat anak-anak, tapi anak-anak di ujung gang itu akan selalu seperti yang dilakukan Sri pada embahnya. Anak-anak itu akan menyerahkan samasekali badan, pikiran dan perasaannya pada suasana yang dikembangkan pak Saman. Suaranya, ekspkresinya, tingkah lakunya, keteduhan depan rumahnya adalah suatu kesatuan yang akan tetap mengeloni anak-anak itu, rakyat kecilnya. *** Wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu Jika ia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran dan jika kamu memutar balikkan kata-kata atau engkau menjadi saksi maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan (Q.S An-Nissa : 135)