Informasi

Novel Raden Pamanah Rasa bisa dipesan langsung SMS/WA ke 081310860817 Tafsir Wangsit Siliwangi bisa dipesan langsung SMS/WA 081310860817

Rabu, 11 Mei 2016

Surat Untuk Emak

SURAT UNTUK EMAK http://erasura.blogspot.com/2016/05/surat-untuk-emak.html

SURAT UNTUK EMAK

Oleh : E. Rokajat Asura

Kepada, yang terkasih
Emak
Dimana saja berada

Assalamu alaikum warohmatulohi wabarokatuuh
Apa kabar, Mak ? Ema sedang apa sekarang ini ? Sekarang aku tak mendengar lagi emak bernyanyi. Neng nelengneng kung geura gede geura jangkung, geura sakola ka bandung (neng nelengneng kung cepat besar dan jangkung, cepat sekolah ke bandung). Nyanyian itu telah hilang, Mak. Pada jembatan itu aku hanya melihat kardus-kardus, tergeletak seperti aku tadi malam. Dalam dingin aku menggigil sendiri. Emak bisa tanyakan pada bulan tadi malam, aku benar-benar menggigil memanggil-manggil emak, tapi tetap aku tak mendengar emak bersenandung. Aku hanya mendengar peluit. Trit. Trit. Trit. Kudengar memanggil-manggil. “Mana duit. Mana duit”. Aku bangun. Aku memang tak punya duit. Astagfirulloh, tentu sepatu besi itu akan menginjak-injak lagi, seperti pada bapak seminggu lalu, seperti yang diceritakan emak tempo hari.
Sekalipun tak ada emak, setiap pagi aku selalu bersenandung, dan terus bersenandung setiap mengingatmu. Ingat pada belaianmu, ingat pada suara emak. Setiap malam atau pagi-pagi sekali, selalu bersenandung memanggil-manggil emak dengan senandung itu. Neng nelengneng kung gera gede geura jangkung, geura sakola ka bandung.
Emak, sedang apa emak sekarang ? Mudah-mudahan Allah selalu bersama emak seperti yang selalu emak ceritakan padaku dari dulu.
Aku sedang ingat emak sekarang, tapi kenapa emak masih juga tak ada, tangan-tanganmu tak ada. Aku ingat, sejak bertemu bapak-bapak itu, emak jadi tak pulang lagi. Aku sering melihat yang memanggul kardus itu, tapi bukan emak. Aku melihat yang mengais-ngais sampah, juga bukan emak. Ya, Allah, dimana emak sesungguhnya sekarang ? Apakah emak dimakan sandekala, Ya, Allah ? Atau emak disembunyikan malaikat-Mu supaya emak tidak diinjak bapak-bapak itu lagi.
Mak, aku sekarang sudah besar, Mak. Aku sudah bisa berlari. Aku sudah bisa membaca diajari emak baru. Aku menyebutnya emak baru, karena memang seperti emak tapi hanya sebagiannya saja. Aku tidak tidur di bawah jembatan lagi. Di sini banyak teman, ada Budi, Rekso, Husin, Deden, Asep. Tapi katanya mereka juga tak pernah bertemu dengan emaknya. Tak pernah main-main dengan bapaknya. Aku hanya melihat seorang emak di sini. Semua memanggilnya emak. Semua memanggilnya sama. Tapi bukan emak asli karena hanya bertemu sekarang saja. Dan beda dengan emak, tak pernah bersenandung tak pernah mendongeng. Emak baru ini juga tak pernah mengelus dan hanya bertemu saat makan saja. Tapi dia itu baik, Mak, suka memperhatikan makan, memperhatikan kami kalau belum mandi, dan sangat marah kalau ada diantara kami yang tak semangat belajar membaca.
Tadi malam aku memohon pada Allah, Mak. Seperti kata emak, kalau ada apa-apa lebih baik minta langsung sama Allah. Aku cuma minta agar kita bisa bersama lagi. Kan nggak enak kalau setiap malam harus berebut emak disini. Lalu, emak sendiri sebenarnya berkumpul di mana ? Apa emak pernah bertemu dengan emaknya Budi ? Apa pernah bersama emaknya Deden ? Apa emak sehat ? Emak tidak kedinginan lagi ya ‘kan, Mak ?
“Ya, Allah, di sana tentu banyak emak, kenapa tidak di sini saja ? Di sini cuma ada satu emak untuk semua. Kasihan kalau harus membagi kasih sayang pada kami. Aku ingin satu emak untuk sendiri. Biar bisa bersama-sama, bersenandung, mendongeng dan mengelus-elus sebelum tidur.”
Sore tadi aku diajak emak baru itu ke pasar baru. Aku melihat banyak orang naik mobil. Mereka berjalan-jalan bersama anaknya. Mak, apa aku boleh bertanya langsung sama Allah, apakah hanya orang yang punya mobil saja yang boleh jalan-jalan sama emaknya ? Kalau boleh bertanya sama Allah, aku juga mau langsung nanya kapan dong, Mak, kita bisa beli mobil supaya bisa berkumpul dan berjalan-jalan lagi. Dulu, kita bebas jalan bersama kemana saja kita suka. Tapi sekarang kenapa hanya yang punya mobil saja. Aku tidak melihat lagi yang mencari kardus di sini, berjalan bersama-sama. Ini sebenarnya tempat apa sih, Mak ?!
Malam tadi aku minggat saja, karena aku kangen sekali pada emak. Bersama angin aku mendengar senandung emak. Pada pucuk jambu dan akasia, seperti melihat ada emak di sana, memanggil-manggil. Senandung itu kedengaran semakin jelas, Mak, tapi ketika aku naik ke atasnya tak terdengar lagi. Senandung itu mungkin sudah pindah.
“Kemarilah ! Kemarilah kau, Jang ! Katanya kangen sama emak ya ?” Nah begitu kata emak tadi malam. Aku berjalan mencari, lalu aku melihat bulan turun. Kutanya sama bulan, katanya emak ada di taman alun-alun. Tapi ketika sampai di taman alun-alun, suara emak hilang. Apa karena disini banyak pedagang kaset yang memutar tapenya keras-keras ? Aku juga ingin meninju kondektur bis yang teriak-teriak sangat kencang, sehingga tak bisa mendengar suara emak lagi. Sayang ya, Mak, tinjuku kecil, tentu kalau aku memukulnya tak akan berasa apa-apa. Aku jadi ingat bapak sekarang, Mak, aku juga pernah memukul bapak, tapi tidak terasa apa-apa katanya, bapak malahan ketawa waktu itu.
Aku terus berjalan meninggalkan alun-alun. Ketika aku capek, aku sampai di depan sebuah gedung. Banyak orang di sana, berkumpul, memanggul kardus, mengais-ngais sampah. Sebentar kemudian aku kembali mendengar peluit. Trit. Trit. Mereka berlari semua, ke segala penjuru. Aku juga ikut berlari, masuk kedalam gedung lain, tapi tiba-tiba lampunya padam dan aku menggigil karena takut gelap. Esoknya ketika terang, aku melihat Emak, tapi tetap berdiri dan tidak senyum.
“Mak, ini aku !”
Emak  diam saja. Aku jadi ingat sekarang. Tentu bapak-bapak yang malam mengusir dan menendang emak-emak itu yang telah menyihirnya sehingga emak tidak bisa bergerak. Apakah anak-anak juga bisa disihir dan tidak bergerak, Mak ?
“Mak, ini aku, Ujang. Mencari emak !” teriaku saat itu. Dan ketika mataku terbuka aku melihat bapak berbaju putih, emak juga ada di sana. Tapi tak bisa bergerak-gerak. Tanganku sakit. Benar-benar jahat bapak-bapak itu, kini telah menyihirku juga sehingga tak bisa bergerak.
***
Anastasia yang lebih senang memanggil dan dipanggil Ana itu masih termenung membaca tulisan seorang anak bernama Ujang Kurnia tersebut. Pikirannya penuh dengan serangkaian pertanyaan. Belasan tahun lalu, benarkah Ujang Kurnia penulis surat itu adalah juga Ujang Kurnia yang kini sangat dia kenal ?! Kendati sisi-sisi kertasnya sudah terkoyak dan tintanya sudah tidak baik lagi, tapi tulisannya masih terbaca dengan jelas. Untuk sementara Ana percaya bahwa surat itu bukan hasil rekayasa, tapi benar-benar ditulis belasan tahun lalu, saat penulisnya masih belia yang selalu memandang dunia hanya dari satu sudut yaitu sudut angan-angannya sendiri. Tapi yang tetap menjadikan misteri baginya adalah dua nama Ujang Kurnia yang kini ada dalam benaknya, Ujang Kurnia kecil penulis surat itu dan Ujang Kurnia seorang pemuda calon suaminya.
Tentu saja Ana merasa dituntut untuk berpikir, karena apa yang akan ditentukannya adalah sangat menentukan. Menentukan dengan siapa dia harus berumah tangga, tidak sesederhana ketika dia memilih taksi, tak menjadi perlu benar mengetahui dan memikirkan dengan siapa supir yang akan membawanya pergi. Kalaupun dalam taksi itu mendapatkan supir yang ugal-ugalan atau sengaja mempermainkan argo, kerugiannyapun sudah dapat ditebak. Tapi ketika tidak mengetahui benar siapa calon suaminya, sama artinya akan menghabiskan sekian tahun, sekian bulan, sekian juta menit dalam kebersamaan yang sia-sia. Sejenak Ana diam, menunduk dan merasakan angin berdesir dalam sanubarinya. Entah kenapa apabila ia sedang galau, ingin rasanya memeluk bulan karena di sana ia pasti akan merasakan dekapan Allah sungguh terasa.
Ana sangat percaya dengan bibit, bobot, dan bebet seseorang. Ketiga syarat seperti itu menjadi mutlak benar untuk kriteria seorang suami. Ana tak pernah beranggapan kalau kriteria itu sebuah pikiran kolot, sebaliknya sebuah keharusan sebagai perwujudan dari kehati-hatiannya. Tentang bobot dan bebet Ujang Kurnia sekarang, Ana tak meragukan lagi. Sebagai seorang dosen, Ujang tidak saja ulet tapi juga bertanggung jawab. Tapi siapa Ujang, darimana asalnya, anak siapa, bagi Ana semuanya itu tetap masih gelap.
Sayang, gerutunya mengutuki diri sendiri, aku tak menahannya barang sebentar tadi untuk mendiskusikan surat itu. Tadi sehabis makan malam di sebuah restoran, kemudian diantarkannya pulang dan di perjalanan dia menerima surat kuno tersebut dari kekasihnya, Ana hanya menganggap hal itu sebagai sebuah lelucon. Samasekali tak pernah terpikirkan sebelumnya, apakah ini sebuah cara Ujang Kurnia menguji dirinya atau sebuah niat tulus ikhlas dari kekasihnya itu, agar Ana semakin tahu siapa calon suaminya ? Apapun alasannya, bagi Ana tetap sebuah misteri dan cukup pelik untuk mengungkapnya.
Pagi-pagi benar sebelum berangkat kantor, Ana menelpon Ujang Kurnia. Dengan nada bicara sewajar mungkin seolah tak ada persoalan besar yang sedang dihadapinya. Selain menanyakan agenda hari ini, mau makan siang di mana, dan tak lupa menyuruhnya mampir nanti malam jika tak pulang bersama-sama. Ujang menanggapinya dengan biasa-biasa saja, sekalipun sebenarnya dia sendiri sangat menunggu-nunggu komentar dan reaksi Ana akan surat kuno yang dia serahkan padanya kemarin sore itu. Ujang sengaja memberikan surat kuno tersebut sebagai refleksi tanggung jawab pribadinya, agar Ana bisa berpikir dan bersikap. Dia memang tidak sedang main-main, tapi justru sedang membuka pintu dan siap untuk memasuki gerbang yang baru saja dibukanya tersebut. Pada awal langkah dan beberapa meter dari gerbang, semua merasa suasana yang nyaman, sinar terang benderang dan semerbak wangi bunga. Tapi siapa sangka lebih dalam dari pintu gerbang itu, justru aneka macam cobaan dan godaan telah menghadangnya. Salah satu dari cobaan itu adalah masa lalu dia sendiri yang tak akan memenuhi kriteria yang telah ditentukan Ana dalam mencari calon pasangannya. Ujang memang tidak sedang main-main, sekalipun sebuah surat kuno itu terkesan sebuah permainan anak-anak.
“Nggak ! Kamu jangan kira saya sedang main-main. Surat itu adalah sebuah kebenaran masa lalu.” Ujang Kurnia begitu mantap ketika Ana mulai mempersoalkan surat itu, di halaman belakang rumah asrinya di kawasan hijau.
“Kebenaran masa lalu ? Bagi siapa ?!” Ana masih tetap tak percaya.
“Tentu saja bagi saya, Ana ! Kamu kira bagi siapa, bagi para pemulung itu ?”
“Sampai sore tadi, saya masih memimpikan kebenaran itu adalah milik mereka bukan milikmu.” Ana nampak dingin dan tak begitu bergairah.
“Sudah kuduga !” Ujang mencoba untuk tersenyum melumerkan kekakuan yang begitu saja terhampar di hadapannya.
“Masa lalu bagi saya adalah sebuah tonggak, Kang !” Ana berdiri mencium anggrek, kemudian duduk kembali di kursinya dan tak berani menatap wajah Ujang yang dingin. “Tonggak itu yang akan menentukan bangunan seperti apa yang bisa berdiri pada masa depannya.”
“Artinya kamu tak percaya pada bangunan sekarang yang sedang kita nikmati.”
“Bisa ya juga bisa tidak.” Ana tersenyum dan mengerling ke arah kekasihnya. Ujang Kurnia tetap diam dan dingin.
“Pastinya gimana ?”
“Saya bisa tetap percaya, jika masa lalu yang terefleksikan pada surat kuno itu adalah sebuah permainan dan isapan jempol semata. Tapi saya bisa tidak percaya pada bangunan masa sekarang yang telah akang bangun, kalau ternyata surat kuno itu adalah sebuah titik masa lalu.”
Masyaallah, Ujang Kurnia berdiri dan mengusap wajah. Tak pernah terbayangkan kalau kekasihnya itu sedemikian kukuh memegang prinsip. Dia lalu meremas jemari Ana dan bicara datar. “Selamat tinggal !”
Ana tersentak kaget dan pada saat kesadarannya kembali, justru Ujang Kurnia tak terlihat ada di sampingnya lagi. Ana menunduk lesu, dan mulai mengutuki dirinya sendiri tentang bobot, bebet dan bibit yang selama ini dipegangnya erat-erat. Sampai malam berakhir dan terang mengusirnya, Ana masih tetap duduk di tempatnya dan membiarkan dingin merusak sendi-sendi tulangnya.
Seminggu mereka tak bertemu. Seminggu pula tak pernah saling tahu apa yang terjadi dengan diri masing-masing. Ujang Kurnia yang punya tonggak masa lalu pahit itu, tak pernah berkecil hati dan terus bekerja dengan sungguh-sungguh karena dia yakin pada saatnya nanti, akan ada seorang bidadari turun dari syurga membawa wangi dan kasih sayang untuknya. Maha besar Allah yang akan membimbing umatnya dengan memberikan satu ketetapan hati.
Sementara itu Ujang sendiri tak mencoba melupakan Anastasia, juga tak ingin membencinya, karena Ujang yakin, Ana pernah singgah di hatinya dan sekarang sedang terbang mengembara. Berbeda dengan Ana, dia tetap kukuh dengan pendiriannya sekalipun untuk itu dia rela diopname di sebuah rumah sakit.
“Kau bukan sakit, tapi kasmaran.” seorang sahabatnya  menghibur. Ana tersenyum tapi entah kenapa senyum itu terasa pahit kini.
“Aku tetap dengan pendirianku, dan tak mau berubah hanya karena aku sakit.” ucap Ana terdengar lirih ketika mamanya bicara tentang kehadiran dan kehilangan Ujang dari hari-hari putrinya.
“Tapi dia tanggung jawab dan sukses !”
“Ma ! Jangan sekali-kali mengacaukan memori otak Ana. Dulu mama yang bersikukuh dengan urusan bobot, bibit, dan bebet. Sekarang mama mencoba merubahnya. Ana bisa bingung.”
“Maksud mama tak sekaku itu, sayang, tapi semuanya bisa saling menambahi.”
“Apa mama rela punya mantu seorang bekas gembel ? Seorang anak pemulung ?” Ana memejamkan mata dan butir-butir bening dari sudut matanya itu kini ikut menyaksikan perbincangan mereka. Matanya terasa perih saat ia mencoba membukanya, karena di sana pada setiap sudut yang terjangkau pandangannya hanya ada bayangan Ujang Kunria. Mama nampak tersentak dan bibirnya bergetar. Ternyata Ana demikian kukuh dan kaku memegang prinsip itu. Mama pernah membenci masa lalu suaminya yang kotor, karena pada ujung usianya juga berbuat kotor. Tapi apakah Ujang yang masa lalu demikian suram itu, juga akan mengakhiri usianya dengan hari-hari yang suram pula ? Inilah yang tak pernah Ana pikirkan. Dia lebih rela kehilangan hari-harinya dalam rumah sakit, daripada mencoba memberi toleransi tentang masa lalu kekasihnya itu.
Ujang selalu membaca surat kuno itu karena disanalah dia menemukan dunia masa lalunya, yang manis untuk dikenang. Pada surat itu pula, Ujang hanya menemukan bayangan emak dan bapaknya, yang tak pernah ketemu sampai hari-hari dimana dia meraih sebuah kesuksesan dalam hidupnya.
Seperti sebuah lakon, peran Ujang Kurnia dan Anastasia menjadi peran masing-masing dalam benak penontonnya. Pada akhir cerita Ujang Kurnia kembali hanyut dalam merangkai sebuah surat baru.
“Sekarang aku tak mendengar lagi Ana bernyanyi. Nyanyian itu telah hilang, Mak ! Pada lalulalang dan taman kota itu aku hanya menyaksikan tembok-tembok, dingin, tergeletak seperti aku tadi malam. Dalam dingin aku menggigil sendiri, menggigil memanggil-manggil Ana, Mak. Tapi tetap tak mendengar Ana bersenandung. Aku hanya mendengar suara jam dinding dan bunyi handphone. Aku harap itu Ana, tapi ternyata sia-sia. Ana tak pernah terdengar lagi. Aku bangun. Apa bapak-bapak itu pula yang membuat Ana kaku dan tak pernah mau bernyanyi lagi ? Siapa sebenarnya bapak-bapak itu, Mak ?!”
***
Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan
perhiasan dan bermegah-megah antara kamu
serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak
seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan
para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur
Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras
dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya
dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu
(Q.S. Al-Haddid : 20)
***

Bayi itu...

BAYI BUKAN TIDAK TAHU APA-APA http://erasura.blogspot.com/2016/05/bayi-bukan-tidak-tahu-apa-apa.html

BAYI BUKAN TIDAK TAHU APA-APA

O
leh : E. Rokajat Asura

Kalau anda percaya bahwa bayi dianggap sebagai makhluk kecil yang tak tahu apa-apa, anda tidak sendirian. Selama bertahun-tahun banyak ahli yang merasa yakin bahwa pikiran bayi masih kalah canggih dengan pikiran siput. Ia samasekali bukan apa-apa. Teori tabula rasa mendukung hal itu. Tapi segera tanggalkan pikiran itu kalau anda percaya dengan hasil riset Benyamin S. Bloom, guru besar pendidikan Universitas Chicago. Bloom menemukan fakta yang mencengangkan bahwa ternyata 50% potensi hidup manusia terbentuk sejak dari kandungan sampai usia 4 tahun. Itu yang pertama. Lalu, pada usia 4-8 tahun akan terbentuk 30% potensi berikutnya.  
Kalau dikalkulasikan kemudian, maka didapat fakta bahwa potensi dasar manusia sebesar 80% justru dibentuk pada usia dini yang sebagian besar sebelum masuk sekolah. Disadari atau tidak, segala gerak-gerik yang dilihat, informasi yang didengar dari lingkungan sekelilingnya akan tersimpan rapih dalam memori jangka panjangnya, yang akan menjadi sikap dan cara berpikirnya kelak.
Bisa anda bayangkan apa yang akan terjadi manakala anda menonton tayangan televisi yang tidak bermutu, bentakan dan cacian pelakon sinetron, kata-kata kotor dalam volume televisi yang besar, sementara anda sedang menggendong si kecil.
Pandangan keliru yang menyatakan bahwa bayi itu bukan apa-apa dibantah Andrew Meltzoff, pakar psikologi perkembangan dari Universitas Washington. Berdasarkan hasil risetnya, Andrew justru menemukan fakta bahwa ternyata bayi sejak hari pertama sudah mampu menirukan gerakan manusia. Melalui panca indera sebagai pintu masuk, mereka belajar dari apa yang kita lakukan dan ucapkan. Ia pun belajar pada reaksi orang-orang di sekitarnya ketika bicara, ketika menghadapi tekanan, saat marah dan bercanda.
KEKUATAN PIKIRAN DAN KATA
Pikiran dan kata-kata diyakini memiliki kekuatan yang dahsyat. Pengaruh dari pikiran kata-kata ini pada anak akan menjelma menjadi sikap, kepribadian dan watak anak-anak sebagai individu. Dalam buku Mind Power for Children karangan John K dan Nancy Fischer  telah diterbitkan edisi terjemahannya oleh penerbit Think, Yogyakarta  membahas tentang hal ini.
Ketika anak-anak membuat keributan sementara anda membutuhkan suasana yang tenang, lalu muncul rasa kesal dan mengekspresikan kekesalan itu dengan wajah yang tiba-tiba kusut, cara bicara cenderung menekan dan pendek-pendek, bahkan bisa meledak kalau tak sempat dikontrol, apa yang akan dipikirkan anak-anak ? Anak-anak akan memikirkan kejadian itu, memikirkan cara anda menghadapi masalah, lalu memberi reaksi terhadap semua kejadian yang berlangsung saat itu. Bisa jadi dalam sesaat anak-anak hanya mengekspresikannya dalam bentuk ketidaknyamanan berada di dekat anda. Tapi sadarkah anda bahwa saat itu sebenarnya sedang memberi pelajaran berharga bagaimana caranya menghadapi masalah yang mengesalkan ?
Sama halnya dengan pikiran, kata-kata pun memiliki kekuatan yang sama kuatnya. Setiap kata yang diucapkan orang tua akan memberi kesan yang kemudian diolah sedemikian rupa oleh otak anak-anak. Satu hal yang khas dan semestinya menjadi perhatian adalah bahwa anak-anak ternyata lebih terfokus pada kata terakhir dibanding rangkaian kalimat di awal. Anak-anak tak akan terpengaruh dengan berapa panjang dan pentingnya kata-kata di awal kalimat itu.
Maya A. Pujiati dalam salah satu tulisannya di www.pustakanilna.com tentang kekuatan kata-kata ini memberi illustrasi yang menarik, bagaimana seorang anak benar-benar hanya terfokus pada kata terakhir yang diucapkan orang tuanya. Maya menulis begini :
”Di dalam bis kami lihat seorang ibu menggendong anaknya yang masih berusia kurang lebih satu tahun. Anak itu nampak manis dalam gendongan ibunya, sampai kemudian sang ibu berkata pada anaknya; ’Ade, jangan rewel ya, jangan nangis!. Ajaibnya, tak lama kemudian anak itu malah merengek-rengek dan bahkan menangis keras tanpa alasan yang jelas.
Itulah efek kata terakhir yang menjadi fokus perhatian anak. Anak mendengar kalimat negatif Jangan rewel dari ibunya, namun yang menjadi fokus anak pada kata rewel dan itulah yang dipikirkan kemudian diekspresikan dengan sikap merengek dan menangis keras tanpa alasan jelas. Kalimat negatif mengarahkan pikiran pada apa yang tidak diinginkan.
***
(sumber rujukan tulisan ini salah satunya adalah dari tulisan-tulisan di www.pustakanilna.com)

Selasa, 10 Mei 2016

Yok kita senyum!

SENYUM ITU INDAH http://erasura.blogspot.com/2016/05/senyum-itu-indah.html

SENYUM ITU INDAH


Oleh : E. Rokajat Asura

Setiap pagi menjelang, Putri, anak kelas dua SMU di bilangan Pondok Gede berangkat, bu Nani selalu saja waswas. Begitupun ketika suaminya berangkat kerja, bu Nani sama waswasnya. Bu Nani waswas setiap anaknya berangkat sekolah, bukan karena takut anaknya tidak bisa mengikuti setiap pelajaran. Ia justru takut karena berita di koran dan televisi yang selalu menceritakan tawuran antar etnis, penodongan dan pengedaran narkoba yang semakin meningkat. Sementara Putri memang akan melewati jalur-jalur rawan kecelakaan.
Lain lagi kekhawatiran bu Nani setiap suaminya pergi kerja. Ia khawatir bukan karena takut suaminya kepincut gadis lain, atau takut nyari selingkuhan. Bukan. Soal itu sih, bu Nani percaya betul, suaminya memang dijamin seratus proses bukan tipe lelaki mata keranjang atau yang gatalan setiap melihat jidat licin. Bu Nani khawatir karena tingkat kejahatan di angkutan umum, perampasan dan penodongan di taksi belakangan ini semakin meningkat.
Maka setiap pagi itu selalu saja bu Nani terpekur, berdo’a apa saja yang ia bisa lantunkan, untuk keselamatan anak dan suaminya. Ia memang selalu tidak tenteram sebelum mengetahui dengan pasti bahwa anak dan suaminya itu sampai ke tempat tujuan dengan selamat. Barulah ia akan bisa memasak dan mengurus tetek-bengek sebagai ibu rumah tangga. Menjelang tengah hari saat masakan siap, cucian kering, ia kembali khawatir dan menunggu dengan waswas sampai Putri betul-betul datang dengan selamat. Begitulah selalu yang ia hadapi hari-hari belakangan ini.
Kekhawatiran seperti itu memang tidak baik, bu Nani tahu betul masalah itu. Seorang psikolog kondang memang pernah bicara, kekhawatiran seperti itu adalah stress yang tidak dikelola dengan baik sehingga ia akan menyedot energi positip dari tubuhnya. Tapi harus bagaimana lagi, toh sekalipun dicoba untuk tenang, tetap saja kekhawatiran seperti tadi akan muncul dan terus muncul setiap hari.
Satu hal yang sedikit bisa meringankan beban itu adalah ketika Putri datang dengan senyum dan cium tangan, sementara nanti sore suaminya datang dengan senyum. Ah, memang indah senyum itu. Bu Nani memang sempat mengkhayal, kalau saja semua orang mudah senyum, mungkin akan aman negeri ini. Bu Nani seperti diucapkan pada suaminya, coba kalau setiap kernet dan sopir bis kota itu senyum pada setiap penumpang, tak akan muncul ketegangan sekalipun penumpang bayar kurang.
Tadi malam bu Nani mendengar cerita dari suaminya bahwa seorang teman kantornya, sebut saja Pahrul, datang ke kantor dengan luka pukul di wajahnya. Usut punya usut ternyata karena urusan sepele. Pahrul saat itu naik metro mini dari rumah menuju kantor. Seperti biasa pada jam-jam sibuk, tak akan ada metro mini yang kosong kecuali metro mini yang mogok. Maka ia naik dan ikut desak-desakan. Entah karena apa, ada seorang bapak yang keinjek. Bapak itu ngotot, dan Pahrul rupanya meladeninya. Adu mulut terjadi, dan berakhir dengan sebuah pukulan telak di wajah Pahrul. Buk ! Pahrul pun pening dan nyaris terjadi perkelahian massal kalau tidak ada seorang tentara yang sama-sama numpang.
“Coba kalau saat itu kamu tersenyum dan minta maaf, tak akan terjadi adut otot sampai muka bengep,” begitulah saran suami bu Nani pada sahabatnya.
Entah karena bicaranya yang lemah-lembut sehingga menyentuh perasaan Pahrul atau memang karena ia takut kena bogem mentah lagi, keesokan harinya setiap naik kendaraan umum, ia telah siap untuk senyum. Konon ketika ada seorang ibu menginjak kakinya, Pahrul buru-buru senyum. Hasilnya memang luar biasa, ibu itu balik membalas senyumnya dan mereka ngobrol ngalor-ngidul. Lain waktu, Pahrul nyaris ketubruk seorang bapak yang lari entah karena apa. Pahrul pun cepat-cepat menolong, memegang pundaknya si bapak yang terengah-engah sambil tentu saja tersenyum, suasana pun lumer dan menyenangkan. Sejak saat itulah, di dada Pahrul selalu tertanam : Aku Harus Siap Tersenyum !
Keesokan harinya, bu Nani telah menyiapkan sepatu, tas kantor dan sarapan untuk anak dan suaminya. Ketika ia mengantarkan di pintu, bu Nani tak lupa bicara :
“Kamu tidak lupa gosok gigi kan, Put, soalnya jangan sampai lupa hari ini untuk tersenyum kepada siapapun,” begitulah peringatan bu Nani.
“Oke !” Putri mengacungkan jempol diikuti senyum bu Nani dan suaminya.
Siang hari Putri pulang. Tapi ia datang tidak tersenyum, sebaliknya wajahnya hanya merenggut asem. Sambil makan siang, bu Nani mencoba mengorek ada apa sebenarnya sampai Putri datang tanpa senyum. Putri pun cerita. Katanya di mikrolet ada tiga pemuda yang siap-siap akan menodong ibu-ibu. Terdorong oleh rasa setia kawan dan kasihan pada si ibu, Putri pun langsung tersenyum pada ibu itu sambil berkata, hati-hati Bu, perhiasan ibu takut kena jambret. Rupanya mendengar omongan Putri seperti itu, ibu tadi siap-siap mengemasi barangnya, dan buntutnya ketiga pemuda itu yang balik marah pada Putri karena kesal aksinya digagalkan seorang cewek ingusan.
Ketika Putri turun agak jauh dari sekolahnya rupanya ketiga pemuda tadi mengikutinya, lalu di tempat sepi mereka menghadang Putri. Salah seorang diantara pemuda tadi menodongkan pisau. Jelas saja Putri gemeteran, tapi ia tidak lupa untuk tetap tersenyum. Mungkin karena merasa dilecehkan tiba-tiba Putri didorong dan hampir jatuh. Beruntung ada beberapa orang guru lewat sehingga ketiga pemuda tadi langsung ngibrit. Itulah kenapa ia mangkel banget, gara-gara senyum malah jadi celaka katanya.
Mendengar cerita putrinya, bu Nani pun tersenyum. Pasti bukan karena gara-gara senyum semua itu terjadi, malah bu Nani justru berpikir sebaliknya. Coba kalau waktu itu Putri tidak tersenyum, mungkin si ibu di mikrolet akan kena jambret. Kalau Putri tidak senyum, mungkin pisau salah seorang pemuda itu benar-benar akan mencelakainya. Jadi, begitu kesimpulan bu Nani, besok semakin lebar lah kamu tersenyum, Put !
Ada kejadian lain sore itu di ujung gang tak jauh dari rumah Putri. Dua pemuda pengacara alias pengangguran banyak acara, adu mulut bahkan nyaring adu jotos. Konon katanya gara-gara kedua pengangguran tadi rebutan uang parkiran. Putri lewat ke tempat itu dan hampir lari saat kedua pemuda itu benar-benar mau berantem. Tapi karena ia ingat pesan mamanya, sambil lewat ke tempat itu sempat juga nyeletuk : Tersenyumlah kawan, karena senyum itu indah !
Rupanya salah seorang pemuda yang mau berantem itu mendengarnya. Sebenarnya kalau pun terjadi berantem, yang lebih kecil itu sudah bisa dipastikan tidak akan bisa menang. Secara fisik ia kalah, bahkan kalau dilihat pengalaman juga masih jauh dibanding musuhnya itu. Makanya ia putar akal, dan sebelum benar-benar berantem ia menemukan jalan. Dengan senyum ia bicara :
“Sebelum kita berantem, bagusnya lap dulu itu ingusnya,” katanya. Entah karena merasa malu atau bagaimana, musuhnya itu langsung tersentak kaget dan melap ingusnya. Padahal sesungguhnya tak ada ingus, bekasnya pun tidak terlihat. Saat musuhnya melap ingus, pemuda yang lebih kecil itu langsung bereaksi memiting musuhnya. Dengan mudah musuhnya bisa dikalahkan dalam satu gerakan. Ketika pemuda tadi bertemu kembali dengan Putri, tak lupa mengucapkan terima kasih. Senyum itu memang indah, Put, katanya.
Malam hari giliran suami bu Nani yang merenggut. Rupanya ketika akan pulang, dompetnya kena sambar copet. Terang aja uang tunai, kartu, dan KTP amblas digondol pencopet. Ia memang lupa akan senyum dan sebaliknya hanya bisa marah-marah. Beruntung ia satu bis dengan seorang temannya, sehingga suami bu Nani tidak sampai benar-benar kehilangan muka karena tidak bisa bayar bis.
Saat makan malam semua kejadian itu diceritakan pada anak dan istrinya. Entah kenapa, tiba-tiba bu Nani dan Putri saling menatap lalu keduanya tersenyum. Menyaksikan anak dan istrinya tersenyum, suami bu Nani jelas tersinggung.
“Bagaimana kalian ini, mendengar aku kena musibah kok malah tersenyum sih ?” gerutu suami bu Nani. Lagi-lagi ibu dan anak itu tersenyum, lebih manis dari senyumnya yang pertama tadi.
“Hei, kalian sengaja mau melecehkan aku, ya ?” suami bu Nani benar-benar kesal. Melihat suaminya kesal, bu Nani angkat bicara.
“Buat apa marah-marah, Pak. Musibah itu ‘kan terjadi bukan karena kita menghendaki, tapi musibah itu untuk menguji sejauhmana kesabaran kita !” jawab bu Nani tenang.
“Aku tahu itu, tapi kenapa harus tersenyum ?” protes suaminya
“Kalaupun kita marah-marah, mengumpat, kesal, protes, toh dompet itu tidak akan kembali, Pak. Maka daripada marah-marah, kenapa tidak tersenyum saja. Paling tidak dengan senyum, otot kita lebih kendur,” jelas Putri sambil tetap tersenyum. Mendengar itu, ayahnya pun tersenyum. Memang benar, buat apa marah-marah hanya akan bikin kita capek. Sudah capek, dompet tetap hilang, memang rugi dua kali. Maka tersenyumlah ia.
***

Intermezzo...

TIGA PERMINTAAN http://erasura.blogspot.com/2016/05/tiga-permintaan.html