Sebab seperti selalu diingatkan ibundanya, bahkan para penjajah yang tanpa alasan telah merenggut kemerdekaan dan mengeruk kekayaan bumi pertiwi itu, dalam setiap paginya memulai dengan doa. Hanya doa-doa mereka menguap bersama uap susu kental, mengangkasa tanpa jejak. Demikian pula ketika pada setangkup roti bermentega itu masuk ke dalam mulutnya, tak lupa disertai doa. Sayang doa itupun lenyap ketika siang harinya mereka berak. Nah, kita – demikian selalu diingat Alfiah dari kata-kata ibundanya itu – jangan sampai segala doa itu menguap. Itulah yang akan membedakan kita dari para penjajah yang hanya pandai membesarkan dan meninggikan badannya itu.
Informasi
Kamis, 26 Januari 2017
Cuplikan Novel Alfiah
Selasa, 27 September 2016
Lanjutan Bincang Novel Suluk Gunung Jati (5)
Kelanjutan Bincang Novel Suluk Gunung Jati bersama Mas Arfino Irtondo di Radio NU.
Ini linknya :
https://m.youtube.com/watch?v=5h-jKpn_OeY
Bincang Novel Suluk Gunung Jati (4)
Ini kelanjutan Bincang Novel Suluk Gunung Jati (4)
https://m.youtube.com/watch?v=PGGXSwyM6-U
Bincang Novel Suluk Gunung Jati (3)
Link lanjutan Bincang Budaya tentang Novel Suluk Gunung Jati di Radio NU dipandu Mas Arfino Irtondo.
https://www.youtube.com/watch?v=nxiDTJELyII
Senin, 26 September 2016
Bincang Novel Gunung Jati (2)
https://m.youtube.com/watch?v=86OAV-YjCOo
Link bincang novel Suluk Gunung Jati part-2 di Radio NU dipandu Mas Arfino Irtondo.
Bincang Suluk Gunung Jati di Radio NU
Silakan disimak...
https://m.youtube.com/watch?v=MNig691Rx8s
Rabu, 07 September 2016
Novel Suluk Gunung Jati (2)
Telah Terbit
Novel SULUK GUNUNG JATI
E. Rokajat Asura
Penerbit Imania
Rp. 85.000
Info dan pesan langsung : 081380582793
"Saya harus berulangkali meyakinkan diri saya bahwa yang saya baca ini ‘cuma’ sebuah novel. Tapi nyatanya saya tidak bisa menghindar bahwa ini bukan ‘sekadar’ novel. Banyak pelajaran kehidupan yang diceritakan mengalir begitu saja, menyajikan kisah tanpa batas pemisah, dan membuat kita merenung tanpa harus duduk termenung. Sosok Sunan Gunung Jati menjadi terasa begitu akrab selepas membaca buku ini.” (Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama (NU) Australia – New Zealand dan dosen senior di Fakultas Hukum, Monash University)
"Kau adalah kujang mungil, ditempa dari wesi kuning, dari bumi Sunda berada, melanglang menunjuk langit,” getar nini paraji yang mengiringi sukma dan asma Syarif Hidayatullah. Ia kemudian menjelma menjadi seorang raja yang juga ulama–kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati–meneruskan jejak para leluhur. Bila langkah Nyimas Rarasantang–ibunda Sunan Gunung Jati–melakukan perjalanan spiritual mencari Nur Muhammad dimulai dari Keraton Pajajaran – Amparan Jati – Pasai – Campa – Mekkah, Sunan Gunung Jati menempuh dari arah sebaliknya. Pertemuan dengan Sunan Ampel merupakan titik awal pembagian daerah dakwah, sekaligus upaya rekonsiliasi Sunda-Jawa pasca Perang Bubat.
Bagaimana Sunan Gunung Jati menghadapi eyangnya sendiri di Pakuan Pajajaran yang berbeda keyakinan? Nglurug tanpa bala kalah tanpa ngasorake dan desa mengurung kota, langkah yang kemudian ditempuhnya. Langkah ini tidak saja berhasil menyebarkan Islam kepada leluhur, tapi juga memperkuat barisan pertahanan. Sehingga ketika medan jihad terbuka, laskar Islam di bawah komandonya, tidak saja berhasil mengusir Portugis tapi sekaligus meruntuhkan Pakuan Pajajaran. Sikapnya sebagai pandhita ratu terlukis kuat saat menghadapi ulama kontroversial–Syaikh Siti Jenar. Ketika Syaikh Siti Jenar diundang ke Cirebon dan mengatakan: ‘Tidak ada Siti Jenar, yang ada Gusti Allah’, Sunan Gunung Jati pun membalas: ‘Ya sudah panggil Gusti Allah ke sini.’ Kekerabatan kedua ulama ini tidak semata terikat oleh Syaikh Nurjati–pamanda Syaikh Siti Jenar–tapi buah dari saling memahami ajaran yang berbeda. Sunan Gunung Jati termasuk yang ‘pasang badan’ pada saat Dewan Wali hendak ‘mengadili’ Syaikh Siti Jenar.
“Kau bicara seperti itu kepada santri-santrimu?”
“Tentu saja, karena ilmu ruhani harus diajarkan kepada semua orang. Dengan membuka tabir itulah orang-orang akan mengetahui hakikat kehidupan dan rahasia hidupnya.”
"Kalau badan tidak ada sementara yang aku lihat adalah badan, siapa sesungguhnya yang sedang bicara denganku sekarang ini?” pancing Sunan Gunung Jati.
“Aku mengajarkan ilmu agar manusia benar-benar dapat merasakan kemanunggalan. Selain kemanunggalan hanyalah bangkai”, ujar Syaikh Siti Jenar.
Langganan:
Postingan (Atom)
